Linkkoe My Id

Peristiwa, Literasi, Edukasi, Buku, Game, Tips, Serba-Serbi

Thursday, 1 August 2019

Kesedihan ~ Cerpen Anton Pavlovich Chekhov

Posted by My Info on Thursday, 1 August 2019









KERAMAIAN senja. Salju basah yang lebat dengan malas terbang mengitari nyala lentera yang baru saja dinyalakan, dan perlahan-lahan hinggap dengan lembut pada atap, punggung kuda, pundak dan topi-topi. Iona Potapov, sang kusir, telah lama memutih karenanya. Ia bertekuk-sejauh mana badan makhluk hidup bisa melakukannya- duduk di atas kursi kereta dan tak bergerak. Tumpukan salju telah menimbuninya. Walaupun demikian pada saat itu seakan-akan ia tidak menemukan alasan untuk mengibaskan salju dari dirinya…. Kuda betinanya juga memutih dan bergeming. Dengan bentuk-bentuk kaki yang ceking dan kaku, dia mirip permen jahe. Sang kuda barangkali tenggelam dalam pikirannya. Kuda mana pun-yang dipisahkan dari weluku, dari lukisan-lukisan alam nan biru, kemudian terbuang pada jeram yang dipenuhi dengan nyala api yang mengerikan, gemerisik yang bising dan hiruk-pikuk manusia-maka mau tak mau akan berpikir. 

Iona dan kuda betinanya sudah lama tak beranjak dari tempat. Mereka hanya keluar dari terminal pada waktu makan siang, dan selanjutnya tidak. Sesaat, kegelapan malam datang menghampiri kota. Api lentera yang pucat meredupkan warna-warna cat yang hidup. Kegaduhan jalanan pun mulai ramai. 

“Kusir, ke Viborskaya,” terdengar oleh Iona. “Kusir!” 

Iona terkejut. Melalui bulu matanya yang dipenuhi oleh salju ia melihat seorang opsir tentara memakai mantel berkudung. 

“Ke Viborskaya!” ulang sang opsir. “Ah, kamu tidur ya? Ke Viborskaya!” 

Sebagai tanda setuju Iona menggerakkan tali kekang. Lapisan salju berhamburan dari punggung kuda. Sang opsir duduk di kursi penumpang. Iona mendecak, menggelengkan kepala, sedikit bangkit dan seterusnya seperti kebiasaan para kusir (bukan karena keperluan), ia mencambuk kudanya. Si kuda betina menggerakkan leher, menyerongkan kakinya yang kaku dan dengan enggan bergerak dari tempatnya tadi. 

“Hai, mau kemana kau, bangsat!” terdengar oleh Iona teriakan orang-orang yang berlalu lalang di samping dan di depan dalam kegelapan. “Rupanya setan telah membawamu! Yang benar dong!” 

“Kamu tak becus mengendalikan kuda rupanya! Ke sebelah kanan!” Sang Opsir marah. 

Seorang kusir pedati menyumpahi Iona, sedang seorang pejalan kaki yang bahunya terendus moncong kuda, menatap marah sambil menyeka salju dari tangannya. Iona duduk gelisah di pojok tempat duduknya seakan mau jatuh. Ia menyentakkan sikut dan memalingkan mata seolah-olah tidak mengerti mengapa dan buat apa berada di sana. 

“Mereka bajingan!” kata sang Opsir. “Toh mereka tinggal menghindar bertabrakan dengan keretamu atau mereka jatuh ke bawah kaki kuda. Mereka tentunya tahu hal itu.” 

Iona melirik penumpangnya dan menggerakkan bibirnya… tampaknya dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi dari kerongkongnya tak sepatah katapun keluar, kecuali hanya desisan. 

“Ada apa?” tanya sang Opsir. 

Iona berpaling dan dengan senyuman yang pahit ia menegangkan tenggorokannya dan mengerang: 

“Anak saya… Anak saya meninggal… minggu ini.” 

“Hmmm… mati karena apa?” 

Iona memalingkan seluruh tubuhnya pada si penumpang seraya berkata: 

“Siapa yang tahu hal itu! Ia demam…. tiga hari dirawat di rumah sakit dan kemudian meninggal…. Begitulah Kehendak Tuhan!” 

“Belok goblok!” terdengar dalam kegelapan. “Kamu linglung, anjing tua? Pakai matamu!” 

Iona kembali menjulurkan leher, sedikit bangkit dan mengibaskan cambuk dengan gemulai dan berat. Beberapa saat kemudian ia menoleh pada penumpang, tetapi kali ini Sang Opsir memejamkan mata dan tampaknya ia tidak bersimpati untuk mendengarkan. Setelah menurunkan penumpang di Viborsaya, Iona berhenti di depan restoran dan lagi-lagi salju yang basah mengecat putih Iona dan kudanya. Satu jam berlalu, dua jam…. 


Tiga orang laki-laki, dua di antaranya tinggi dan kurus, seorang lagi kecil dan bungkuk datang menghampiri dengan suara langkah yang keras pada trotoar. 


“Kusir, ke jembatan Poliskaya!” teriak Si Bungkuk dengan suara yang geram. “Kami bertiga… dua puluh kopek*!” 

Iona menarik cambuk dan memukulkannya pada kuda. Dua puluh kopek… harga yang tidak seimbang…. Tetapi harga tidak menjadi masalah… satu rubel**, lima kopek… baginya sama saja… Yang penting ada penumpang. 


Orang-orang muda ini sambil saling dorong dan menyumpah, naik ke kereta. Ketiganya langsung menjatuhkan diri ke kursi kereta. Timbul sebuah pertanyaan: siapa dua orang dari mereka yang harus duduk dan siapa yang harus berdiri? Setelah perang mulut, tingkah polah dan omelan yang panjang, mereka sampai pada keputusan yaitu: karena yang paling kecil adalah Si Bungkuk, maka ia lah yang harus berdiri. 

“Baik, ayo maju!” Kata Si Bungkuk parau, sambil mencari posisi yang enak dan menghembuskan napas pada leher Iona. “Cambuk! A ha… Kawan topi apa ini? Dicari di seluruh Petersburg pun tak akan ada yang sejelek ini.” 

“Ha… ha… Ha…” Iona tertawa. “Ada kok…” 

“Ya, ada, ayo cepat! Begini caramu mengendalikan kuda sepanjang jalan? Hai? Mau kupukul lehermu?” 

“Kepalaku sakit…” kata salah seorang yang jangkung. “Kemarin di rumah Duhmasov, saya dan Vaska minum empat botol brendi.” 


“Aku tak mengerti, buat apa kau berdusta,” kata Si Jangkung yang lain dengan marah. “Dia bohong seperti binatang.” 

“Demi Tuhan, betul kok….” 

“Ya betul, sebetul kutu batuk!” 

“He… he… he…” Iona tersenyum lebar. “Tuan-tuan yang berbahagia!” 

“Cuih, demi setan!” Si Bungkuk menyela. “Kau akan berangkat atau tidak, tua bangka? Begini caramu membawa kereta? Cambuk kudamu! Demi setan! Kendalikan dengan benar!” 

Iona merasakan badan gelisah dan suara parau Si Bungkuk di balik punggungnya. Dia mendengar pula cacian orang-orang. Sedikit-demi sedikit kesepian yang membanjiri dadanya reda. Si Bungkuk terus menyumpah dengan enam tingkat sumpah serapah sampai tak bisa lagi menyumpah dan batuk. Teman-temannya yang jangkung mulai membicarakan Nadezda Petrovna. Iona menoleh pada mereka. Setelah menunggu sedikit jeda, ia menoleh lagi dan berkomat-kamit: 

“Anak saya… Anak saya minggu ini… meninggal”. 

“Kita semua akan mati,” Si Bungkuk menarik napas, setelah menyeka bibirnya sehabis batuk. “Ayo Cepat! Tuan-tuan, aku tak tahan lagi merayap seperti ini! Kapan dia akan mengantarkan kita ke tujuan?” 

“Kalau begitu… beri dia sedikit semangat di lehernya?” 

“Tua bangka! Kau dengar itu? Baik! Kan kusentil lehermu! Pergi ke pesta dengan orang sepertimu, rasanya lebih baik jalan kaki! Kau dengar, ular kadut? Atau kau tak peduli dengan kata-kata kami?” 

Iona sebenarnya mendengar lebih dari sekadar suara hantaman di kuduknya. 

“Ha… ha… ha…” Iona tertawa. “Tuan-tuan yang berbahagia… semoga Tuhan memberkati Anda!” 

“Kusir, kau telah kawin?” tanya Si Jangkung. 

“Saya? Ha… ha… ha… satu-satunya istri saya sekarang ada di tanah yang lembab… He… he… he… kuburan! Anak saya pun meninggal… Hal yang aneh. Kematian memasuki pintu yang salah. Seharusnya dia menjemputku, eh malah dia datang pada anak saya…” 

Dan Iona berpaling untuk menceritakan bagaimana anaknya meninggal, tetapi pada saat itu Si Bungkuk memberi tanda bahwa ‘Puji Tuhan’, akhirnya mereka sampai. Setelah menerima 20 kopek, Iona menatap hampa pada para tukang pesta itu, yang kemudian menghilang ke balik pintu gerbang yang gelap. 

Kembali Iona menyendiri dan kembali kesepian menghampirinya. Kesedihan yang beberapa saat lalu mereka muncul lagi dan membanjiri dadanya dengan kekuatan yang lebih besar. Mata Iona menerawang dengan sedih dan penuh harap pada kerumunan yang berlalu lalang di kedua sisi jalan: tak dapatkah ia menemukan satu dari ribuan orang ini yang mau mendengarkannya? Akan tetapi, gerombolan orang ini berlalu tanpa ada yang peduli, baik pada dirinya maupun pada kesedihan itu. Kemasygulan hati Iona tumpah ruah seakan-akan hendak membanjiri dunia, tetapi belum terlihat. Sang kemalangan sanggup bersembunyi pada sel yang sangat kecil, sehingga pada saat terang sekalipun tak ada yang mampu melihatnya…. 

Iona melihat penjaga rumah yang membawa karung, dan memutuskan untuk bicara dengannya. 

“Kawan, jam berapa ini?” tanya Iona. 

“Hampir jam sepuluh… Kenapa kau berhenti di sini? Ayo pergi sana!” 


Iona maju beberapa langkah, bertekuk dan menyerah pada duka lara. Menunjukkan pada orang-orang dia pikir sudah tidak ada gunanya. Belum juga lima menit berlalu, ia sudah meluruskan badan dan menggelengkan kepala seolah ia menderita sakit yang parah. Ia mengibaskan pecutnya…. Dan tak kuasa menahan hal ini lebih lama lagi. 

“Kembali ke terminal!” pikirnya. “Ya, ke terminal.” 

Dan kuda betina kecilnya seakan-akan mengerti pikiran Iona, ia mulai berlari kecil. Satu setengah jam kemudian Iona sudah duduk di dekat perapian besar yang kotor. Di lantai, di atas bangku-bangku orang-orang mendengkur. Udara pengap dan bau. Iona melihat pada orang-orang ini. Ia menggaruk-garuk kepala dan menyesal mengapa pulang terlalu cepat…. 

“Buat dedak saja sudah tak cukup,” pikirnya. “Itu sebabnya aku sedih. Manusia yang tahu betul bagaimana seharusnya ia bekerja… yang sanggup mencukupi makanannya, dan makanan kudanya, selalu hidup lebih tenang.” 

Di salah satu sudut, seorang kusir muda terbangun, tenggorokannya mengorok dan ia menjangkau ember air. 

“Mau minum?” 

“Begitulah.” 

“Minumlah… demi kesehatanmu…. Anakku.. anakku meninggal minggu ini… kau dengar… di rumah sakit… Begitu ceritanya!” 

Iona menatap untuk melihat efek apa yang ditimbulkan dari kata-katanya. Tetapi ia tak melihat apa pun. Si pemuda telah menutupi kepalanya dan kembali tertidur. Sebesar rasa haus pemuda itu, sebesar itu pula keinginan Iona untuk berbicara. Seminggu akan segera berlalu sejak kematian anaknya dan dia masih belum dapat membicarakannya dengan siapa pun…. Ia ingin membicarakannya dengan serius, dan tersusun… Iona ingin menceritakan bagaimana anaknya terjangkit penyakit, bagaimana anaknya menderita, apa yang dikatakan sebelum anaknya meninggal, bagaimana anaknya meninggal… Iona ingin memaparkan dengan jelas dan tersusun bagaimana ia harus mendaftarkan penguburan dan bagaimana ia berlari ke rumah sakit untuk mengambil pakaian mendiang. Ia masih mempunyai seorang putri, Anisya, di desa… Ya, timbul hasrat untuk menceritakan hal ini, juga padanya. Sang pendengar akan mengaduh, menarik napas, meratap. Makanya harus bicara pada seorang wanita. Walaupun mereka makhluk yang menyedihkan, tetapi mereka selalu meraung sejak dua kata pertama. 

“Ah lebih baik melihat kuda,” pikir Iona. “Selalu ada waktu untuk tidur… Kau akan tidur nyenyak, tak ada yang perlu ditakuti…” 

Iona memakai mantelnya dan pergi ke istal tempat kuda betinanya berdiri. Dia berpikir tentang dedak, jerami, cuaca… Dia tak mampu berpikir lagi tentang anaknya, ketika sendirian begini. Membicarakannya dengan seseorang mungkin dia mampu, tetapi memikirkan dan menggambarkan anaknya.. sungguh sesuatu yang sangat mengerikan…. 

“Kamu masih makan?” Iona bertanya pada kuda, sambil menatap matanya yang bercahaya. “Ayo terus kunyah. Sejak kita tak cukup uang untuk membeli dedak, kita hanya makan jerami. Ya… Aku terlalu tua untuk jadi kusir… Mestinya anakku lah yang menjadi kusir, kusirmu sekarang… bukan aku, … Mestinya dia masih hidup.” 

Iona terdiam sejenak, kemudian melanjutkan: 

“Begitulah… Kuzma Ionitc telah pergi… dia mengucapkan selamat tinggal padaku. Dia pergi tanpa alasan…. Bayangkan, seandainya kamu punya anak, dan kamu adalah ibu kandungnya… kemudian anakmu mati… Kau juga akan sedih bukan?” 

Kuda betinanya yang kecil tetap memamah biak, mendengarkan, dan mengendus tangan sang majikan. Iona terhanyut dan menceritakan semua itu padanya.




-------------------------------------------------------------------------------
* Diterjemahkan oleh Trisna Gumilar dari bahasa aslinya, ‘Toska’. Diambil dari buku kumpulan cerpen: A.P. Chekov-Raskazy I Povesty, hal: 56-60. Terbitan: Izdatelstvo Detskaya Literatura, Moskwa, 1964.

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a comment