Linkkoe My Id

Peristiwa, Literasi, Edukasi, Buku, Game, Tips, Serba-Serbi

Thursday, 1 August 2019

Sang Ratu~Massimo Bontempelli

Posted by My Info on Thursday, 1 August 2019











suatu pagi, saat sedang membereskan tempat tidur bersama ibunya, Cecila menampakkan gejala kegilaan. Sekonyong-konyong dia berkata, “Tanahnya bergerak. Akan ada bencana.”
Ibunya memandang dia dengan sangsi. “Apa katamu?”
Cecila menjawab, “Apa?” Jelas dia tidak ingat perkataannya barusan.
Ibunya mengulang kalimat itu. “Tanahnya bergerak. Akan ada bencana.” Namun, karena melihat tatapan putrinya yang sungguh-sungguh tak mengerti, intuisi si ibu memperingatkan agar tidak melanjutkan. Akan tetapi, seharian kalimat itu terus terngiang dalam benak si ibu. Malam itu di pembaringan, kala Cecilia sudah tertidur di ranjangnya sendiri, ibunya masih saja menggumam, “Tanahnya bergerak.”
Hari-hari pun berlalu. Setiap hari sama saja dengan hari lainnya pada tahun itu. Cecilia membantu ibunya melakukan pekerjaan rumah, menisik pakaian, dan kadang dia menangis. (Dua tahun lalu, pada hari Minggu, mereka menonton sebuah film). Malam-malam, setelah si ibu membersihkan meja, sementara Cecilia menutup jendela-jendela serta mengeluarkan baju tidur mereka, keduanya pergi tidur meski hari belum gelap benar.
Baru terpikir oleh si ibu bahwa putrinya mungkin tak akan pernah menikah. Pikiran itu sangat tidak mengenakkan, namun si ibu juga menyadari bahwa dirinya akan sangat sedih apabila Cecilia tidak lagi hidup bersamanya untuk menutup jendela-jendela dan mengeluarkan baju tidur.
Lama sudah si ibu melupakan ucapan ganjil gadis itu, hingga suatu petang Cecilia mendongak dari tisikannya, menatap wajah ibunya dalam-dalam dan berkata, “Kuda-kuda agak letih pagi ini, Mama.” Kali ini si ibu terlonjak. “Ada apa denganmu, Nak? Kau sakit?” Ia bergegas menghampiri Cecilia. Kedua tangannya merengkuh kepala gadis itu. Cecilia sadar kembali.
“Ada apa, Mama?”
“Kau bilang kuda-kuda agak ….”
“Aku tak pernah mengatakan apa pun tentang kuda, Mama,” gadis itu menggeleng. “Mungkin Mama bermimpi.”
Namun Cecilia kembali meracau tiba-tiba pada keesokan harinya, lalu tiap hari, beberapa kali sehari, hingga dengan bantuan kerabat ia dirawat di rumah sakit jiwa di kota sebelah.
Hampir tiap minggu kepala rumah sakit mengirim laporan kemajuan pada ibu Cecilia, meski ia tidak mengizinkan wanita itu berkunjung selama anaknya dalam observasi. Akan tetapi, pada akhirnya izin berkunjung diberikan, dan ibu yang lara itu pun datang ke klinik. Kepala rumah sakit mempersilakan si ibu duduk dan mulailah ia berbicara panjang lebar.
“Pengobatannya baru dimulai. Seperti yang kami duga, delusi Cecilia akhirnya menjadi fiksasi yang tetap. Ia meyakini dirinya Ratu Theodora. Keyakinan itu meresap dalam setiap tindakan sadarnya. Pastinya sedih melihatnya demikian, namun sekarang kami telah menemukan cara menangani delusi semacam ini. Ada pengobatan khusus, yang baru-baru ini telah kami kembangkan.” Kepala rumah sakit mengangguk pada asistennya, yang tersenyum. “Kami telah memberikan beberapa suntikan uji coba yang hasilnya sangat bagus. Tubuhnya menerima obat itu sepenuhnya. Oleh karena itu, kami yakin dapat menjalankan pengobatan ini secara lengkap. Dengan dosis penuh, pengobatan ini akan menyebabkan semacam epilepsi, namun setelahnya Cecilia akan benar-benar pulih.”
“Benar-benar pulih? Dia akan kembali seperti sediakala?”
“Tepat sekali.”
“Dia akan dibolehkan pulang? Kami bisa bersama-sama lagi? Oh, Dokter!”
“Nah, mari,” sela dokter itu. Ia mengantar si ibu melalui koridor, berhenti di depan sebuah pintu dan berbisik, “Ia di ruangan ini.” Ia membuka pintu itu, melongok, dan berseru riang, “Cecilia, ibumu datang.” Lalu ia mundur dan mengisyaratkan wanita itu agar masuk.
Sejenak si ibu terdiam, silau akan tembok yang putih. Lantas ia melihat putrinya, yang tampaknya bertambah tinggi, sedang berdiri di samping tempat tidur. Si ibu mengangkat tangannya dan melangkah menuju gadis itu, namun merasa takut dan terhenti.
“Engkaukah itu, Ibunda terkasih? Terima kasih telah menempuh perjalanan jauh. Kuharap mereka memperlakukanmu dengan baik, selayaknya kepada ibunda sang Ratu?”
“Cecilia, Sayang,” rintih si ibu, yang sembari mencondongkan tubuh ke depan, baru memerhatikan bahwa gadis itu terselubung oleh seprai, seakan mengenakan mantel panjang. Ia menggapai pinggang gadis itu dan memeluknya sesaat. Gadis itu membiarkan si ibu menciumnya, lalu mendorong wanita itu dengan lembut.
“Ibunda terkasih, aku sungguh menyesal, aku tidak bisa menghabiskan banyak waktu dengan Ibu hari ini karena ada tugas penting. Ibunda duduklah dulu di kursi itu,” imbuhnya, seraya menunjuk bangku kecil di kaki ranjang.
Si ibu terhuyung, nyaris tak sanggup mendudukkan dirinya di tepi bangku itu, dan menggagap tak jelas. Cecilia yang masih berdiri berpaling ke pojok ruangan dan berkata. “Ladies, siapkan kamar untuk ibuku. Pengawal, kosongkan ruang tunggu tamu, aku tak hendak menemui siapa pun hari ini. Ibunda, kemarilah lihat jendela ini.”
Ibu Cecilia pun menurut. Di jendela ia menarik napas dalam-dalam. Di bawahnya yang terlihat hanyalah halaman sempit dengan jalur hijau yang dikelilingi bunga aster. Ia berpaling pada putrinya lagi, bimbang antara tetap berada di jendela atau kembali ke sisi gadis itu.
“Jika Ibunda kembali esok pagi dan memandang taman ini, Ibunda akan melihatku sedang berjalan bersama sang Raja. Pada saat itulah kami membicarakan urusan negara dan Paduka meminta pertimbanganku. Pagi ini,” Cecilia merendahkan suaranya secara misterius. “Aku memintanya menggulingkan Paus, yang merupakan musuhku. Di sisi lain,” ia meninggikan suaranya, merentangkan tangan dan memalingkan wajah pada langit-langit yang putih. “Semua orang di sini mengasihi dan mematuhiku. Ibunda sedang melihat apa? Oh, langit-langit? Apakah Ibunda suka bintang-bintang emas dipasang di sekitar salib hijau itu?”
Seketika itu juga, di tengah kengeriannya, si ibu menyaksikan langit-langit benderang oleh bintang-bintang. Sekujur tubuhnya gemetar, dan ia menutup wajahnya dengan kedua belah tangan. Setelah merasa tenang kembali, ia tak sanggup menatap Cecilia, yang masih berkata-kata.
“Begitu banyak hal lain yang ingin kutunjukkan pada Ibunda. Esok pagi, kita akan mengawalinya dengan melihat-lihat permataku, ya, lalu mahkota, mahkota emas dengan permata dan mutiara, yang kukenakan pada penobatanku di Santa Sofia saat aku berdiri di samping Raja dikelilingi dupa dan bebunyian yang indah. Bahkan kukira saat itu para malaikat di surga tengah bernyanyi. Tak ada wanita lain di seluruh dunia ini yang pernah mengalaminya. Tak ada wanita lain yang dapat merasakan kebahagiaan yang sedemikian.”
Cecilia terdiam dengan sorot mata bercahaya, namun hati ibunya penuh ketakutan.
“Sayang, putriku yang manis, tidakkah kau ingat?”
“Apa yang mesti kuingat, Ibunda?”
Wanita tua itu tak sanggup berkata-kata. Ia tak lagi ingat akan perkataan yang hendak disampaikannya. Tubuhnya limbung seakan ia baru saja mendapati dirinya berada di pinggir tebing. Sambil berpegangan, ia menengadah dan menatap wajah putrinya. Meski begitu, ia tak sanggup memandang lama-lama. Setelah beberapa saat termenung, dengan tatapan menerawang Cecilia mulai berbicara lagi.
“Ketika kita merasa sangat bahagia, kita tak sempat mengingat-ingat. Yang terpikirkan tentang masa lalu hanyalah kesedihan. Aku memiliki segalanya, Ibunda. Akankah Ibunda kembali pada hari upacara untuk melihatku menaiki kereta kencana yang dihela empat ekor kuda putih?”
Si ibu memegang dahinya. “Ya, Sayang, aku akan datang.”
Dengan mata terpejam, gadis itu mendengarkan suara yang seakan datang dari kejauhan. “Dan meja gadingku yang besar? Dan taman merak? Pesta terang bulan di Bosporus? Ruang rahasia tempat aku membuat sendiri parfumku? Singgasana tempat aku menerima duta besar dari semua negara di dunia? Ibunda, Ibunda.” Kini gadis itu bersorak dalam luapan sukacita. “Ibunda, aku ingin engkau melihatku berjalan-jalan dengan mantel unguku, saat orang-orang menghamburkan diri ke kakiku seraya menyerukan ‘Yang Mulia, Yang Mulia.’”
Ibu Cecilia mendapati dirinya di koridor tengah bersandar pada dinding, tanpa ingat bagaimana bisa berada di sana. Ada yang menemukannya dan membawanya ke tempat dokter tengah menunggu. Begitu melihat dokter, ia menegakkan tubuhnya, dan sebelum lelaki itu sempat berkata-kata, ditegaskannya dengan suara yang dingin dan kaku, “Jangan sembuhkan putri saya.”[]



---------------------------------------------------------------------------

Massimo Bontempelli (1878-1960) penulis Italia yang juga bekerja sebagai wartawan, guru, dan musikolog, serta menjabat sebagai perwira artileri pada Perang Dunia Pertama. Pada 1926 ia mendirikan jurnal sastra yang kontroversial, 900, yang mana James Joyce, Max Jacob, dan Rainer Marie Rilker termasuk editornya. Ia salah satu penulis inventif paling cemerlang pada abad ke-20, dan banyak yang menganggapnya sebagai bapak dari “realisme magis”. Bontempelli menulis lebih dari enam puluh buku puisi, drama, fiksi, dan teori menulis. Cerpen ini diambil dari buku kumpulan cerpennya, The Faithful Lovers, dan diterjemahkan berdasarkan versi bahasa Inggris Estelle Gilson dalam Words Without Borders edisi Agustus 2007: “Dreams of Our Russian Summer”.


Previous
« Prev Post

No comments:

Post a comment