Linkkoe My Id

Peristiwa, Literasi, Edukasi, Buku, Game, Tips, Serba-Serbi

Monday, 5 August 2019

TIPS: Macam-Macam Paragraf Pembuka Cerpen

Posted by Admin on Monday, 5 August 2019











Macam-macam paragraf pembuka cerpen:




Percakapan




Banyak orang yang mengatakan jika percakapan bukanlah pembuka yang cocok untuk suatu naskah. Alasannya karena kita tidak mengenal tokoh yang berbicara. Tapi aku berani mengatakan jika hal itu tidak benar.


Percakapanpun bisa menjadi hal yang menarik jika kita mau mengolahnya dengan baik. 

Berikut adalah beberapa contoh yang aku ambil dari karya-karyaku terdahulu.
Contoh:

"Pembayaran hutang untuk kali ini tidak ada masalah bukan?" gadis bersurai hitam gelap itu berkata sambil menata dokumen-dokumen yang berserakan di hadapannya. "Aku akan berusaha melunasinya secepat mungkin. Terjerat hutang adalah hal terakhir yang aku butuhkan untuk menyambut ulang tahunku kali ini."


Dari deskripsi di atas saja, kita sudah dapat menyimpulkan jika gadis yang tengah berbicara memiliki rambut hitam dan tengah membayar hutang. Ini adalah salah satu contoh paragraf pembuka berbentuk dialog dengan penjelasan di dalam paragraf yang sama.

Atau jika kalian tidak ingin menibankan penjelasan dalam satu paragraf awal, berikut adalah contoh lain yang bisa kalian pilih.



"Janganlah mencoba untuk menyamai malaikat, Kartika. Jangan pernah. Karena kita adalah makhluk yang berlumuran dosa. Sampai matipun kita tak akan dapat menyetarai mereka. Ya, sampai matipun akan selamanya sama…"

Atau:

“Gadis itu mendongak menatap mata wanita yang memangkunya. Warna yang sangat indah, hitam. Sekelam langit malam tak berbintang. Gadis itu genggam tangannya yang tak seberapa halus, mencoba menenangkan pikiran kalut sang wanita bermata malam itu. "Aku tak pernah mencobanya. Aku juga tak tertarik untuk mencobanya. Menjadi suci terdengar membosankan untukku."

Kalian bisa membuat deskripsi tentang siapa yang berbicara dengan memanfaatkan tokoh lain yang menimpali perbincangan itu.

Sebenarnya masih ada beberapa jenis lagi dari jenis paragraf pembuka ini yang bisa aku tampilkan, tapi takutnya kita jadi tak sempat membahas paragraf lain. Jadi lanjut ke tipe paragraf berikutnya!




Penggambaran Setting


Terdengar klise? Memang. Aku sendiri tak cukup munafik untuk mengatakan jika aku akan langsung meninggalkan FF dengan pembukaan: ‘Pagi yang cerah di kota xxxx, langit biru berpadu dengan awan putih, …’

Tapi bukan berarti kita tidak bisa membuat pembukaan menggunakan jenis paragraf ini.




Setting tak harus tempat, bisa berupa suasana ataupun waktu. Tempat tak harus di suatu kota, suasana tak harus tenang dan waktu tak harus di pagi hari. Ada banyak pilihan dan kombinasi lain yang bisa kalian pilih untuk tipe pembukaan ini.




Berikut adalah beberapa contohnya:

Malam yang sunyi. Hanya hembusan angin yang berani mengusik ketenangan sang Diana yang tengah merajai bagian bumi utara ini. Kepingan-kepingan awan yang jatuh menghujani kota Saint Petersburg ini membuat pemandangan malam terlihat sempurna dengan warna putih monoton, meskipun termometer menunjukkan suhu minus lima derajat celcius di tubuhnya.

Ada juga yang berupa latar suasana.

Langkahnya terasa berat menyusuri puing-puing bangunan yang hancur berantakan. Matanya terus terarah pada tanah, takut-takut jika tanpa sengaja ia menginjak potongan tubuh yang hancur berantakan.

Ini adalah gabungan pembukaan dengan tipe latar dan tindakan. Dari tindakan yang dilakukan sang tokoh, kita bisa sembari lalu membuat setting. Keuntungan tipe ini adalah kesan yang mengalir dan tidak terasa dipaksakan deskripsinya.


     Bagian dari cerita


Untuk pembukaan tipe ini bisa dibagi menjadi tiga jenis:  masa lalu, masa kini dan masa depan.
  
Untuk masa lalu, kita dapat mengambil flashback dari masa lalu kisah si tokoh, baru setelah itu kita mulai cerita sesungguhnya.

Gadis itu menjerit ngeri melihat darah yang menggenangi ruang keluarganya. Karpet yang ia pijak kini tak lagi terasa nyaman di jemari mungilnya. Rasanya hangat dan lembab. Juga lengket. Lengket oleh cairan merah yang keluar dari tubuh kedua orang tuanya…

setelah itu baru kita mulai cerita sesungguhnya.  Misalkan pada deskripsi di atas si gadis masih berusia 8 tahun. Kita mulai cerita dengan gadis yang kini sudah berusia 16 tahun dan terus berusaha mencari pembunuh orang tuanya.




Lalu untuk contoh masa kini. Ini dapat berupa deskripsi yang terjadi di masa kini sebelum kamu menjelaskan kembali mengapa kejadian itu bisa terjadi. Contohnya:

Flippy benar-benar hanya mampu menelan ludah saat merasakan benda tajam itu mengoyak pakaiannya. Menjadikannya serpihan-serpihan yang tak berbentuk.

Ah, tampaknya ia telah tahu resolusi apa yang akan ia lakukan untuk tahun ini….

Baru setelah kalian selesai mendeskripsikannya, kalian kembali ke masa lalu. Mengapa itu bisa terjadi? Siapa yang melakukannya? Dll.




Lalu untuk masa depan. Ini biasanya akan makan satu prolog sendiri karena merupakan pancingan agar pembaca tertarik untuk membacanya.


Suasana Hati STokoh
 

Ini adalah yang paling sering aku pakai. Soalnya aku hobi bikin FF dan OF galau >_<



Seperti yang aku katakan, ini paling cocok untuk cerita angst. Tapi tak menutup kemungkinan untuk cerita misteri atau yang lainnya. Berikut adalah contohnya:


Adalah sebuah keganjilan jika aku mencintainya. Memendam rasa padanya adalah sebuah anugrah bernoda kutukan yang menjerumuskanku dalam ngerinya surga dan indahnya neraka. Ya, ini adalah sebuah perasaan yang tak seharusnya kurasakan, sebuah emosi yang seharusnya kulupakan. Namun apa daya, Tuhan menciptakanku bukan untuk merasakan kehancuran akibat mencintainya, selalu ada gadis yang terlahir dengan tulang rusukku sebagai asalnya. Jodohku.

Dan menyesallah diriku karena tulang rusuk tak akan tumbuh menjadi seorang pemuda. Dia bukanlah tulang rusukku, dan aku juga bukanlah tulang rusuknya.
Seharusnya dengan hal ini saja aku telah menyadari jika kebersamaan kita bukanlah kehendak-Nya.



Dengan Aksi!




Ini yang paling aku cintai #dor



Aksi selalu memancing rasa penasaran orang lain. Aku kasih contohnya.


DUAR!!
Levi tak perlu menoleh dan bertanya ledakan apa yang ia dengar. Sudah ketiga kalinya dalam sepekan terakhir ia mendengar suara yang sama dari ruang kerja di sampingnya. Pasti gadis bodoh itu lagi-lagi meledakkan hasil penelitiannya.

Nggak terlalu aksi ya? Oh sudahlah. Ledakan tentu saja akan menarik minat pembaca. 
Apa yang meledak? Siapa yang melakukannya? Dan pertanyaan lainnya. Setidaknya itu yang biasanya aku rasakan.




Atau misalnya contoh yang ini:


Rose mendecih kesal. Digenggamnya senapan laras panjang itu erat-erat. Jangan sampai lengah, salah satu langkahpun ia bisa mati.
“Jasmine!” ia berteriak pada microphone kecil yang dipasang di kerahnya. “Kapan Orchid dan Lily akan datang?!”
“Bertahanlah sepuluh menit lagi, Rose!” teriak gadis di seberang sana. 
Rose mendecih kesal. Memangnya bertahan hidup sepuluh menit di ladang ranjau adalah hal yang gampang apa?!

Tak harus aksi yang keras juga. Kalian bisa menggunakan aksi ringan seperti:

Sirius Black duduk di tepian ranjangnya dengan muka serius. Sesekali dia menggerutu pelan dan mengacak surai hitamnya dengan frustasi. Lalu setelah itu dia akan kembali diam sembari menyangga kepalanya dengan sebelah tangan sambil mengguman tak jelas.

Tentu saja pemandangan ganjil ini membuat teman sekamarnya yang tak lain tak bukan adalah Remus Lupin mengernyitkan alisnya heran. Bagaimana salah seorang teman sekamarnya yang terkenal tak bisa diam ini terlihat amat frustasi?


To Be Continue

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a comment