Linkkoe My Id

Peristiwa, Literasi, Edukasi, Buku, Game, Tips, Serba-Serbi

Tuesday, 21 April 2020

Tips Menulis: Sastra dan Ciri-Cirinya

Posted by Ronin on Tuesday, 21 April 2020

Tips Menulis: Sastra dan Ciri-Cirinya



Apa itu sastra?

1. Pengertian Sastra

Tips Menulis: Sastra dan Ciri-Cirinya
Tips Menulis: Sastra dan Ciri-Cirinya

Dalam bahasa Indonesia, kata sastra itu berasal dari bahasa jawa kuna yang berarti tulisan. Istilah dalam bahasa jawa kuna berarti "tulisan-tulisan utama". Sementa itu, kata "sastra" dalam khazanah jawa kuna berasal dari bahasa sansekerta yang berarti kehidupan. Akar kata bahasa Sansekerta yang berarti kehidupan. Akar kata bahasa Sansekerta adalah sas yang berarti mengarahkan, mengajar atau memberi pentunjuk atau instruksi. Sementara akhiran tra biasanya menunjukkan alat atau sarana. Dengan demikian, sastra berarti alat untu mengajar atau buku petunjuk atau buku instruksi atau buku pengajaran. Di samping kata sastra, kerap juga kata susastra kita di beberapa tulisan, yang berarti bahasa yang indah-awalan su pada kata susastra mengacu pada kata indah. 

Teuw dalam Sastra dan Ilmu Sastra (1998) menyebutkan bahwa kata "literature" dalam bahasa inggris berasal dari bahasa Yunani, yang berarti huruf. Dalam penggunaan masa lalu, literature mengacu pada susunan kaa dalam tata bahasa dan puisi. Orang memahami tata bahasa dan puisi sebagai literatus. 

Dalam bahasa Prancis, kata "letter" mengacu pada kata sastra dalam bahasa Indonesia. Kata Prancis itu hampir mirip dengan kata dalam bahasa Belanda, yaitu gelleterd. Dua kata itu memiliki makna yang sama, yakni orang yang berada dan memiliki kemahiran khusus di bidang sastra. Berbeda dengan kat Prancis dan Belanda, kata Jerman adalah schifftum dan dichtung. Pengertian schifftum mengacu pada segala hal yang tertulis sementara dichtung terbatas pada tulisan yang tidak langsung berkaitan dengan fakta-fakta aktual sehingga bisa dikatakan imajinasi. 

Seorang penyair dalam bahasa Jerman disebut dengan Dichter atau die Dichterin. Hal itu sekurang-kurangnya dijelaskan oleh A. Hauken (1992) dalam Kamus Jerman Indonesia (Jakarta: Gremedia Pustaka Utama (1992))

Rene Wellek dan Austin Werren alam Teori Kesusastraan (1993) menyebutkan bahwa sastra adalah segala sesuatu yang tertulis atau tercetak. Jadi, ilmuwan sastra pada abad ke-14 dapat mempelajari profesi kedokteran, gerakan planet pada abad pertengahan atau ilmu sihir di Inggris. Ilmuwan sastra tidak terbatas pada tulisan atau manuskrip ketika mempelajari kebudayaan.


2. Ciri-Ciri Sastra

Ciri-ciri dapat didefinisikan sebagai kekhasan yang melekat pada sebuah objek atau benda sehingga membedakannya dengan benda-benda lain atau objek lain. Lalu, apakah ciri-ciri sastra tersebut, yang membedakannya dengan yang lain?

Jan van Luxemburg (1984) dalam Pengantar Ilmu Sastra (1984:5) menyebutkan ciri-ciri sastra khusunya kekhasannya pada masa Romantik. Di menyebut sebagai berikut:

1. Sastra adalah ciptaan atau kreasi, maka sastra bukanlah imitasi atau tiruan. Penciptannya disebut dengan seniman lantaran menciptkan sebuah dunia baru.

2. Sastra Bersifat otonom, maka tidak mengacu pada yang lain. Sastra tidak bersifat komunikatif. Sang penyair hanya mencari keselarasan di dalam karyanya sendiri. Dalil ini masih digunakan dalam setiap pendekatan sastra.

3. Sastra memiliki unsur koherensi. Artinya, unsur-unsur di dalamnya memiliki keselarasan antara bentuk dan isi. Setiap isi berkaitan engan bentuk atau ungkapan tertentu. Hubungan antara bentuk dan isi bersifat fleksibel. 

4. Sastra bersifat sistesis atau unsur-unsur yang selama ini dianggap bertentangan. Pertentangan tersebut terdiri atas pelbagai bentuk. Ada pertentangan yang disadari, tanpa disadari, antara ruh dan benda, pria dan wanita dan seterusnya.

5. Sastra berisi ungkapan-ungkapan yang tidak bisa terungkapkan. Penyair menghasilkan kata-kata untuk memotret sebuah fakta aktual dan imajinatif yang tidak bisa digambarkan orang lain. Ketika dijelaskan oleh sastrawan, maka fakta itu kemudian terlihat jelas oleh orang-orang yang awam atau pembaca.


Karena ciri-ciri adalah unsur pembeda, maka sastra harus dibedakan dengan karya yang bukan karya sastra. Variabel kontrolnya adalah bahasa sebagai alat untuk menghasilkan karya. Di sini disampaikan perbedaan antara karya sastra dan karya ilmiah. 


1. Bahasa sastra bersifat konotasi sedangkan bahasa ilmiah bersifat denotasi. Konotasi adalah gaya bahasa yang berisi ungkapan tidak langsung tentang gagasan atau fakta. Denotasi adalah ungkapan yang memiliki arti langsung merujuk kepada fakta tersebut.

2. Bahasa sastra bersifat homonim sedangkan bahasa ilmiah bersifat struktur. Homonim adalah kata-kata yang memiliki bunyi sama tetapi memiliki arti berbeda.

3. Bahasa sastra bersifat ekspresif sedangan bahasa ilmiah bersifat logis. Ekspresif adalah ungkapan-ungkapan yang bersifat individual atau subjektif sedangkan logis adalah ungkapan yang harus disesuaikan dengan kaidah-kaidah logika.

4. Bahasa sastra lebih mementingkan Simbol yang mewadahi gagasan-gagasan tertentu sedangkan bahasa ilmiah lebih memetingkan skema atau bagan-bagan untuk menjelaskan gagasan-gagasan tertentu.

5. Bahasa sastra diungkapkan secara estetis sedangkan bahasa ilmiah dingkapkan secara normatif.

(*)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a comment

Note: only a member of this blog may post a comment.