Linkkoe My Id

Peristiwa, Literasi, Edukasi, Buku, Game, Tips, Serba-Serbi

Monday, 15 June 2020

SHAMEEL

Posted by Admin on Monday, 15 June 2020

SHAMEEL 
Oleh: Teto* 






Cerpen Shameel oleh Teto
Picture: Pixabay



Entah kenapa, Shameel punya keinginan kuat untuk melakukan segala sesuatu dalam kehidupannya dalam bentuk dan cara yang tidak atau belum diketahui orang banyak. Memakai pakaian yang belum dipakai orang lain, mendengar lagu yang belum pernah didengar orang lain, membaca buku yang belum pernah diketahui orang lain, menulis apa yang belum pernah ditulis oleh orang lain, dan seterusnya, dan seterusnya. Shameel ingin sekali melakukan segala sesuatunya sebagai orang pertama. Mendambakan keaslian hubungan antara segala kegiatan itu dengan dirinya sendiri. Dia tidak ingin melakukan sesuatu karena orang lain sudah melakukannya lebih dulu. Tidak ingin mengerjakan sesuatu karena termotivasi oleh orang lain yang mengerjakan hal yang sama. Pokoknya, ia ingin jadi yang pertama, dan mendambakan keaslian atas segala hal yang ia kerjakan. 

Keinginan ini sudah dirasakan oleh Shameel sejak masih duduk di taman kanak-kanak. Dia selalu berharap menjadi anak yang pertama kali mengenal gurunya dengan baik. Anak yang pertama kali memiliki mainan seperti yang ia punya, dan seterusnya, dan seterusnya. Shameel pun hanya berdiam diri kala menyaksikan kedekatan anak-anak yang lain dengan Ibu gurunya, dan pulang dengan mutung setelah melihat hampir semua kawan-kawannya punya mainan yang sama seperti kepunyaannya. Begitu seterusnya sampai Shameel beranjak remaja. 

Kendati demikian, Shameel tidak pernah larut terlalu lama dalam kekecewaannya. Dia selalu saja menemukan hal-hal baru untuk dilakukan. Hal-hal yang ia pikir dan harap adalah hal-hal paling baru yang belum banyak dikerjakan oleh orang lain. Seperti kemarin, ketika Shameel tanpa sengaja mendengarkan lagu One Toke Over The Line. Begitu suka ia pada lagu itu, dan akhirnya mencari tahu lebih lanjut ihwal Brewer and Shipley, duo yang melantunkan lagu tersebut. Untuk beberapa hari setelahnya, lagu-lagu Brewer and Shipley menggema tiada henti di kamar kost Shameel. Sampai tiba hari di mana Shameel harus kembali menelan kekecewaan. 

Dalam perjalanan pulang dari kampus, di angkot yang ditumpanginya, lagu-lagu Brewer and Shipley diputar kencang-kencang. Ada pula beberapa lagu yang dinyanyikan ulang oleh penyanyi lain. Shameel tak percaya. Keintiman dengan lagu-lagu yang didengarnya beberapa hari ini, luluh lantak begitu saja di dalam angkot. Sampai di kost, Shameel berhenti mendengarkan Brewer and Shipley. Lagu-lagu yang sempat diunduh dihapus, dan riwayat aplikasi pemutar musiknya, seperti Joox dan Spotify, dibersihkan dari noda Brewer and Shipley. Hal serupa terjadi saat Shameel menemukan The Carpenters, ABBA, New Riders of the Purple Sage dan Grateful Dead. Begitu seterusnya. 

*** 

Shameel bertemu dengan Fathiya di tahun-tahun awal perkuliahan di Fakultas Ilmu Budaya. Shameel jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, sedangkan Fathiya di jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Mereka satu angkatan, tapi Shameel lebih tua dua tahun, karena ia baru kuliah pada tahun ketiga pasca lulus SMA. 

Mereka berdua saling mencintai dan sudah berkomitmen untuk melanjutkan hubungan ke jenjang perkawinan suatu saat nanti. Saat-saat berduaan, Shameel yang sedang berada di puncak gairah, beberapa kali mengajak Fathiya bersetubuh. Fathiya menolak dengan alasan takut dosa. Belum sepantasnya mereka melakukan hal semacam itu. Begitu ajaran agama yang terpatri di kepala. Namun di titik tertentu Fathiya juga memahami gairah yang memuncak itu, dan menyarankan agar Shameel bermasturbasi saja. Sedangkan bersetubuh dan hal-hal yang bisa mengarahkan ke sana, tidak boleh dilakukan sebelum menikah. Shameel mengerti, lalu memohon pada Fathiya untuk membantunya bermasturbasi dengan cara mengocok-ngocok alat kelaminnya. Fathiya menolak keras. Mendengarnya saja dia serasa ingin muntah. Shameel yang di puncak gairah tidak menyerah. Sebagai upaya terakhir, dia meminta agar Fathiya menanggalkan pakaian di depannya, dan ia akan bermasturbasi sendiri. Lagi-lagi, penolakan yang Shameel terima. Fathiya bahkan mengancam akan mengakhiri hubungan mereka kalau Shameel meminta hal-hal seperti itu lagi. Shameel yang tak mau kehilangan Fathiya pun akhirnya hanya bisa bermasturbasi sendiri dengan mengandalkan imajinasi seadanya. 

*** 

Belasan kali Shameel coba menghubungi Fathiya, tetap tak ada jawaban. Sore ini mereka sudah janji akan pergi berkunjung ke Taman Budaya. Ada pagelaran seni di sana sampai beberapa hari ke depan. Shameel tidak sabar lagi dan memutuskan mencari Fathiya di kampusnya. 

*** 

Shameel mematung diam sejuta bahasa menghadap belakang gedung jurusan Etnomusikologi yang memang harus dilalui jika ingin ke gedung Bahasa dan Sastra Arab. Shameel merinding. Dia merasakan rambut-rambut di sekujur tubuhnya berdiri. Tubuhnya yang kerempeng terasa berat, seakan tertancap ke dalam tanah. Di salah satu sudut belakang gedung yang sepi, tampak Fathiya sedang digerayangi seorang pria. Shameel menyaksikan dengan jelas bagaimana tangan si pria beralih dari paha, menuju payudara kekasihnya. Namun yang lebih mengguncang jiwa adalah air muka yang terlihat amat menikmati setiap gerakan tangan si pria. Shameel merasakan tubuhnya kembali ringan. Dengan dua tangan terkepal disertai gemeretak gigi, dia melangkahkan kaki pulang. 

Shameel tak henti-hentinya mengumpat dalam hati. Kemarahan bergejolak dalam dirinya. Darahnya mendidih. Rupanya dia tidak akan pernah jadi yang pertama memiliki dan menikmati Fathiya pujaan hatinya. Maka, seperti yang biasa ia lakukan, Fathiya harus disingkirkan. Tak cukup hanya dengan meninggalkannya begitu saja. Fathiya harus dibuang jauh-jauh. Harus dihabisi. Tinggal bagaimana caranya dan kapan waktu yang tepat. Pemikiran itu sungguh menggelisahkan Shameel yang sedang dalam angkot menuju kost. Lamunannya tentang bagaimana cara menghabisi Fathiya buyar ketika seorang pria jangkung berkumis tipis tiba-tiba melompat masuk ke dalam angkot. Si pria jangkung langsung berbincang akrab dengan supir yang sedang mengemudikan angkot. Nampaknya mereka berkawan baik sejak lama. Di antara derum mesin, pengap, dan bising penumpang, Shameel mendengar si pria jangkung bercerita pada si supir tentang sebuah peristiwa pembunuhan yang terjadi di daerah tempat tinggalnya. 

"Dugaan awal, pembunuhan berencana" si pria jangkung berkata keras-keras mengimbangi kebisingan. "Motifnya dendam akibat perselingkuhan" lanjutnya. 

"Sudah gila memang ini dunia" balas si supir. 

"Manusia yang gila! Bukan dunia!" ujar si pria jangkung tak lagi berbalas. 

*** 

"Pinggir, Bang!" seru Shameel. Kostnya di Jl. J kelewatan beberapa meter akibat angkot melaju terlampau cepat. Setelah membayar ongkos yang sempat ditolak supir karena dikata kurang, dan Shameel akhirnya mengalah dengan menambahi, Shameel pulang dan langsung masuk ke kamar kostnya. Di kasur lapuk, bonyok sampai berbentuk seperti perahu Shameel membaringkan badan. 

Omong kosong keaslian. Aku hidup dalam dunia penuh ketergantungan, kejijikan, kemunafikan, dan pengkhianatan. Gumam Shameel sebelum akhirnya tertidur pulas. 

shed a tear for the fate of the last lonely Eagle….. 

for you know that He never will land….. 

Dari speaker nirkabel yang sudah tersambung dengan ponselnya, mengalun dengan lembut lagu The Last Lonely Eagle milik New Riders of the Purple Sage. 



Laguboti, Juni 2020 


-------------------------------
*Penulis lahir di Toba pada tahun 1998 dengan nama Christian Hutahaean. Menulis sajak, esai, dan cerpen. Karya terbit; Bunga Rampai Buat Gus Dur (Antologi Esai dan Puisi, 2020), Dunia Peralihan (Kumpulan Cerpen, 2020). Bisa disapa melalui surel hutahaeanchristian10@gmail.com 

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a comment