Linkkoe My Id

Peristiwa, Literasi, Edukasi, Buku, Game, Tips, Serba-Serbi

Friday, 24 July 2020

Matahari Terbit

Posted by Admin on Friday, 24 July 2020

Matahari Terbit
Oleh: Erika Kobayashi




Dia perlahan membuka matanya. Dia melihat ke cahaya matahari. Matahari memiliki diameter 1.400.000 kilometer. Energi dari fusi nuklir di pusatnya membutuhkan lebih dari sejuta tahun untuk mencapai permukaan. Panas permukaannya lebih dari 6000°C. Panasnya disertai cahaya, cahaya yang membutuhkan waktu delapan menit sembilan belas detik untuk mencapai Bumi.

Dia lahir di Tokyo pada 10 Agustus, dua tahun lebih sehari setelah Nagasaki diledakkan, tiga hari setelah Hiroshima, oleh kilatan bom nuklir.

Dia muncul dari rahim ibunya setelah meringkuk selama sepuluh bulan lebih sepuluh hari.

Dia bernama Yoko, yō dari Taiheiyō, bahasa Jepang untuk Samudra Pasifik.

Pada usia enam tahun, dia masuk sekolah dasar. Ibunya membagi rambut hitamnya yang panjang menjadi tiga bagian dan mengepangnya. Di Pasifik, cahaya terang muncul di atas Bikini Atoll. AS sedang menguji bom, mengaturnya untuk melihat apa yang akan terjadi, pertama atom dan kemudian hidrogen. Ledakan cahaya, kolom air, awan berbentuk jamur, di luar sana di tengah lautan. Ledakan itu menyapu perahu nelayan, S.S. Lucky Dragon No. 5. Awaknya jatuh sakit, beserta tunanya, sekarang “atom” dibawa ke pasar ikan Tsukiji hanya untuk dikubur di tanah.

Dia duduk di samping ibunya dalam kegelapan gedung bioskop dan menyaksikan ceritanya terungkap dalam tayangan hitam-putih. Ibunya sedang merajut di sampingnya dalam kegelapan, jari-jarinya lincah dengan benang seperti rambut putrinya, dan ia menyelesaikan syal yang dibuatnya hari itu.

Kemudian pada bulan Maret itu, Parlemen menyetujui, untuk pertama kalinya sejak perang, pendanaan untuk tenaga nuklir. Dana totalnya mencapai 235 juta yen, dan produksi dimulai dengan sungguh-sungguh untuk membuat isotop U-235.

Pada usia sebelas tahun, setahun sebelum dia masuk sekolah menengah, Jepang mengeluarkan pecahan uang 10.000 yen pertamanya. Menampilkan Pangeran Shōtoku, yang dikenal di zaman kuno sebagai Surgawi-yang-dari-mana-matahari terbit. Dia menatap wajahnya, terpesona. Suatu hari aku akan memegang di tanganku sebanyak mungkin yang bisa ditahan, pikirnya.


Pada usia enam belas tahun, dia adalah seorang senior di sekolah menengah, dan Jepang mengalirkan listrik pertama yang dihasilkan nuklirnya. Kegentingan terjadi di sebuah desa kecil bernama Tōkai, rumah dari Reaktor Demonstrasi Tenaga Jepang. Hal itu muncul pada berita televisi, tetapi keluarganya tidak memiliki televisi dan dia melewatkannya. Apa yang dia ingat adalah guru matematika sekolah menengahnya pergi ke Tōkai ketika suaminya mendapat pekerjaan baru di sana.

Pada usia delapan belas tahun, dia pergi ke perguruan tinggi junior khusus wanita. Protes mahasiswa atas Perjanjian Keamanan AS-Jepang mencapai puncaknya, tetapi dia tetap tidak tersentuh. Dia lulus tanpa kesulitan dan mencari pekerjaan.

Pada usia dua puluh tahun, dia mendapat pekerjaan itu, di Bank Kredit Jangka Panjang Jepang. Rambutnya tidak lagi terbagi tiga dan dikepang—rambutnya pendek dan melengkung menjadi gelombang permanen.

Keinginannya menjadi kenyataan: setiap hari, tangannya dipenuhi dengan lembar-lembar 10.000 yen. Semua milik bank, bukan miliknya, tentu saja, tetapi dia tetap lupa diri ketika menghitungnya. Hari ini, mesinlah yang melakukan penghitungan, tetapi dulu pekerjaan itu dilakukan oleh wanita yang duduk di dekat jendela di bank.

Pada usia tiga puluh tahun, setelah bekerja selama sepuluh tahun, dia menikah dengan seorang pria yang berhenti menjadi dokter untuk mengejar impiannya menjadi seorang penulis. Dia sendiri, segera saja, menjadi ibu dari empat anak perempuan. Aku mungkin harus menyebutkan bahwa salah satu dari keempat putri ini adalah aku. Karena ini adalah kisah ibuku.

Pabrik nuklir bermunculan di seluruh Jepang. Pada saat ibuku berusia empat puluh, tiga puluh lima reaktor mengalirkan 27.881.000 kilowatt listrik ke kota-kota di seluruh negeri. Jalan-jalan mereka bersinar siang dan malam dengan cahaya bertenaga nuklir.

Pada usia lima puluh satu tahun, Bank Kredit Jangka Panjang Jepang bangkrut; anak-anak perempuannya, termasuk aku, telah meninggalkan rumah untuk bekerja atau menikah. Yukichi Fukuzawa sudah lama menggantikan Pangeran Shōtoku dalam uang 10.000 yen. Saham bank yang dibeli dengan uang tabungannya menjadi begitu banyak kertas.

Pada usia enam puluh tiga tahun, suaminya meninggal, diikuti oleh ibunya pada tahun berikutnya. Kami semua harus membeli pakaian baru untuk setiap pemakaman.

Pada tahun yang sama ketika ibunya meninggal, gempa bumi dan tsunami menghantam Tohoku. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi meledak dalam kilatan cahaya. Awan putih naik ke langit dalam video internet menjadi bahan radioaktif tak terlihat yang menghujani kehidupan nyata. Kematian ibunya bukan karena bencana atau radiasi, sekalipun; hanya usia tua. Dia meninggal saat malam hari, pada Hari Natal. Dia meninggalkan sweater dan topi yang belum selesai dan beberapa bola benang berwarna merah. Lampu jalan dan rambu-rambu neon bersinar saat salju turun dari langit malam Tokyo yang aneh.

Dia mengenakan gaun berkabung hitam legam dengan rambut ditarik ke belakang dan kacamata hitam saat menghitung uang yang dia habiskan di pemakaman. Tangannya dipenuhi dengan lembar-lembar 10.000 yen. Operasi katarak beberapa tahun yang lalu telah membuat cahaya dalam ruangan terlalu terang, dan dia membutuhkan kacamata hitam untuk melihat.

Segera setelah itu, kami semua pergi ke kafe. Sebagai latar belakang, Glenn Miller Orchestra memainkan “Moonlight Serenade.”

Aku kemudian tahu kalau lagu di sisi-B album aslinya disebut “Sunrise Serenade.”

Aku juga tahu kalau bom nuklir pertama di dunia jatuh di Trinity Site di New Mexico, radio memainkan lagu itu.

Bom, yang disebut “The Gadget”, berdiameter 1,5 meter. Pendanaan Proyek Manhattan mencapai dua miliar dolar. Energi yang dilepaskan oleh fisi plutonium di pusatnya menghasilkan panas mencapai 66.000°C, sebelas kali lipat dari panas permukaan matahari. Apa pun yang terpapar cahayanya akan terbakar.

Pada usia enam puluh delapan tahun, anak perempuannya yang lain akan menjadi seorang ibu.

Setelah sepuluh bulan lebih sepuluh hari, bayi itu akan keluar dari perutku.

Dan ketika perlahan-lahan membuka matanya, apakah ia akan melihat ke cahaya matahari?




----------------------------------
Catatan:

[1] Diambil dari Asymptote, cerpen ini diterjemahkan oleh Ahadul Fauzi Ahmady dari “Sunrise” karya Erika Kobayashi. Terjemahan bahasa Inggris oleh Brian Bergstrom.

[2] Erika Kobayashi, lahir di Tokyo pada 1978, adalah seniman visual, mangaka, dan novelis yang berbasis di Tokyo. Novelnya, “Madame Curie to choshoku wo” (Breakfast with Madame Curie, 2014) yang menghubungkan Jepang pasca-Fukushima dengan sejarah penemuan listrik dan radiasi yang lebih luas, menjadi nominasi untuk Yukio Mishima Award dan Akutagawa Award pada tahun 2014.

[3] Brian Bergstrom adalah dosen di Departemen Studi Asia Timur di McGill University di Montréal. Terjemahannya dari cerita Erika Kobayashi “See” dianugerahi runner-up dalam kontes Close Approximations Translated Fiction 2017 yang diselenggarakan oleh Asymptote.

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a comment