Menu
Linkkoe My Id

Refleksi Sebelum Tanggal 1 Juni 2021: Sejarah Singkat tentang Lahirnya Pancasila Sebagai Landasan Ideologi Indonesia

Lahirnya Pancasila Sebagai Landasan Ideologi Indonesia



Refleksi Sebelum Tanggal 1 Juni 2021: Sejarah Singkat tentang Lahirnya Pancasila Sebagai Landasan Ideologi Indonesia 


Sejarah Pancasila sebagai ideologi dan landasan negara Indonesia tak luput dari perjalanan panjang. Pancasila sebagai dasar negara merupakan pedoman hidup berbangsa dan bernegara bagi bangsa Indonesia.

Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 1945 merupakan salah satu sejarah penting yang harus diingat oleh bangsa Indonesia. Pancasila sendiri terdiri dari dua kata yang diambil dari bahasa Sansekerta, yaitu "Panca" yang artinya lima. Dan "Sila" yang artinya dasar atau prinsip.

Artinya, Pancasila memiliki lima nilai yang menjadi prinsip dasar bangsa Indonesia. Kelima nilai tersebut juga tercantum pada alinea keempat Pembukaan UUD 1945.

Sejarah Pembentukan Pancasila

Latar belakang pembentukan Pancasila berawal dari diskusi panjang yang dilakukan BPUPKI untuk merumuskan dasar negara. Diskusi yang berlangsung pada 29 Mei hingga 1 Juni 1945 ini dihadiri oleh Muhammad Yamin, Prof. Dr Soepomo, dan Ir. Soekarno.

Ketiga tokoh tersebut mempresentasikan ide dasar negaranya untuk bangsa Indonesia. Dalam kesempatan itu, Soekarno memperkenalkan gagasan tersebut dengan istilah Pancasila.

Mendengar gagasan tersebut, BPUPKI kemudian menyusun Panitia Sembilan untuk menjadi dasar bernegara dengan mengacu pada pidato yang dikenalkan oleh Soekarno.

Komite Sembilan terdiri dari:

1. Ir. Soekarno
2. Drs. Mohammad Hatta
3. Bp. AA Maramis
4. Bapak Muhammad Yamin
5. Ahmad Subardjo
6. Abikoesno Tjokrosoejoso
7. Abdul Kahar Muzakkar 
8. H. Agus Salim
9. KH Abdul Wahid Hasyim

Sejarah pembentukan Pancasila juga mengalami kemajuan yang cukup panjang. Rumusan Pancasila tertuang dalam beberapa dokumen, seperti Piagam Jakarta dan Pembukaan UUD 1945.






Piagam Jakarta dalam Sejarah Pancasila

  1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. 
  1. Kemanusiaan yang adil dan beradab. 
  1. Persatuan Indonesia. 
  1. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. 
  1. Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.


Rumusan awal ini menimbulkan pro dan kontra, terutama pada sila pertama yang hanya mencakup umat Islam.

Dalam rapat Panitia Perancang UUD 11 Juli 1945, J Latuharhary menyampaikan keberatannya, terutama kewajiban menjalankan syariah bagi pemeluknya.

Setelah melalui berbagai kompromi pada rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia tanggal 18 Agustus 1945, Hatta menyampaikan rumusan akhir dari pembukaan UUD Negara, salah satunya tentang mengubah kalimat atas dasar negara menjadi  "sebuah negara yang didasarkan pada satu-satunya Ketuhanan ".

“Ini perubahan yang paling penting untuk menyatukan semua bangsa,” kata Hatta. Perubahan ini merupakan rumusan akhir dari dasar negara yang dikenal dengan Pancasila.

Baru setelah 70 tahun Hari Pancasila ditetapkan sebagai hari jadi dan hari libur nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016.

Oleh karena itu mengapa pada tanggal 1 Juni 1945 kemudian dijadikan sebagai hari jadi lahirnya negara Indonesia. Ini disesuaikan dengan tanggal pidato Bung Karno sendiri.

Peran BPUPKI untuk Indonesia

BPUPKI sendiri berperan penting dalam sejarah Pancasila. George S. Kanahele, dalam The Japanese Ocupation of Indonesia (1967: 184) mengungkapkan, pada tanggal 1 Maret 1945, Kumaikichi Harada, Jenderal Dai Nippon penanggung jawab wilayah Jawa mengumumkan bahwa akan dibentuk badan baru dengan nama Dokuritsu Junbi Cosakai.

Dokuritsu Junbi Cosakai adalah apa yang dikenal sebagai BPUPKI. Meski sudah ada sejak 1 Maret 1945, BPUPKI baru disahkan pada 29 April 1945.

Pada tanggal 29 Mei 1945, sidang pertama BPUPKI diadakan dan dibuka oleh Dr. Radjiman Wediodiningrat sebagai ketuanya. Sidang pertama ini berlanjut hingga 1 Juni 1945.

Pada sesi pertama ini, ada tiga pembicara yang mengemukakan pandangannya tentang rumusan dasar negara atau yang kemudian dikenal dengan Pancasila. Pembicara pertama adalah Mohammad Yamin.

Dalam sidang BPUPKI tanggal 29 Mei 1945, Yamin memaparkan tentang “Asas dan Dasar Negara Indonesia Merdeka”. Pembicara kedua adalah R. Soepomo.

Ia menjelaskan "Dasar-dasar Negara Indonesia Merdeka" pada sidang BPUPKI tanggal 31 Mei 1945.

(@lk red)

Baca Juga

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.