Menu
Linkkoe My Id

Definisi Sastra dan Ciri Khas Sastra





Definisi Sastra dan Ciri Khas Sastra

Dalam bahasa-bahasa Barat, istilah sastra secara etimologis diturunkan dari bahasa Latin literatura (littera = huruf atau karya tulis). Istilah itu dipakai untuk menyebut tatabahasa dan puisi. Istilah Inggris Literature, istilah Jerman Literatur, dan istilah Perancis litterature berarti segala macam pemakaian bahasa dalam bentuk tertulis. Dalam bahasa Indonesia, kata 'sastra' diturunkan dari bahasa Sansekerta (Sas- artinya mengajar, memberi petunjuk atau instruksi, mengarahkan; akhiran -tra biasanya menunjukkan alat atau sarana) yang artinya alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran. Misalnya: silpasastra (buku petunjuk arsitektur), kamasastra (buku petunjuk mengenai seni cinta).

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istilah 'sastra' (yang di Eropa baru muncul sekitar abad ke-18 itu) pertama-tama digunakan untuk menyebut pemakaian bahasa dalam bentuk tertulis. Fokus perhatian kepada 'bahasa tulis' itu menimbulkan pertanyaan, misalnya apakah 'sastra' lisan tidak termasuk sastra? Apakah semua bentuk tulisan (kedokteran, arsitektur, agama, filsafat, dan politik) juga dapat disebut sastra?


Ada upaya Iain telah dilakukan untuk menghindari kerancuan pengertian tentang sastra. Dalam bahasa Perancis, dipergunakanlah istilah belles-lettres (yang berarti: tulisan yang indah dan sopan) istilah yang khas untuk menyebut karya sastra yang bemilai estetik. Dalam babasa Indonesia, ada teoretisi yang menyebut awalan -su dalam kata susastra yang berarti: baik, indah, perlu dikenakan kepada karya-karya sastra untuk membedakannya dari bentuk pemakaian bahasa lainnya.

Pandangan-pandangan ini didasarkan pada suatu anggapan bahwa ciri khas sastra adalah pemakaian bahasa yang indah. Persoalannya adalah tidak semua karya sastra (terutama terlihat pada seni-seni modem) menggunakan bahasa yang indah dan berbunga-bunga. Foucault menyebutkan bahwa sastra modem lahir dan bertumbuh di dalam kemapanan bahasa dan kungkungan pola-pola linguistik yang kaku. Oleh karena itu, sastra modem berlomba-Iomba mentransgresikan dirinya pada suatu ruang abnormal. Sastra modem justru menawarkan suatu dunia dan bahasa yang aneh dalam kesadaran masyarakatnya. Perhatikan "Fenomena Sade" (yang menekuni bahasa dan keasingan dunia): sadisme dan seksualitas dieksplorasi dan dipertontonkan habis-habisan. Pembaca justru diajak untuk merasa takut, jijik, ngeri, bodoh, emosi, marah, dan diam. (Catatan: Sade adalah seorang sastrawan narapidana Perancis yang memelopori model sastra ini. Pengikutnya antara Iain Holderlin, Flaubert, Nietzche, dan Baudelaire, Oscar Wilde).

Benarlah bahwa definisi mengenai 'sastra' dan upaya merumuskan 'ciri khas sastra' sudah banyak dilakukan orang tetapi sampai sekarang agaknya belum memuaskan semua kalangan. Van Luxemburg et.al. (1986: 3-13) menyebutkan alasan-alasan mengapa definisi-definisi mengenai sastra tidak pemah memuaskan. Alasan-alasan itu adalah: 1) Orang ingin mendefinisikan terlalu banyak sekaligus, tanpa membedakan definisi deskriptif (yang menerangkan apakah sastra itu) dari definisi evaluatif (yang menilai sesuatu teks termasuk sastra atau tidak); 2) . Sering orang ingin mencari sebuah definisi ontologis yang normatif mengenai sastra (yakni definisi yang mengungkapkan hakikat sebuah karya sastra). Definisi semacam ini cenderung mengabaikan fakta bahwa karya tertentu bagi sebagian orang merupakan sastra tetapi bagi orang lain bukan sastra; 3) Orang cenderung mendefinisikan sastra menurut standar sastra Barat; dan 4) Definisi yang cukup memuaskan hanya berkaitan dengan jenis sastra tertentu (misalnya puisi) tetapi tidak relevan diterapkan pada sastra pada umumnya.


Para ahli kesusastraan umumnya sepakat untuk mengatakan bahwa tidak mungkin dirumuskan suatu definisi mengenai sastra secara universal. Apa yang disebut 'sastra·· sangatlah tergantung pada lingkungan kebudayaan tertentu di mana sastra itu dijalankan. 'Sastra' hanyalah sebuah istilah yang dipergunakan untuk menyebut sejumlah karya dengan alasan tertentu dalam lingkup kebudayaan tertentu pula.

Beberapa definisi 'ontologis' (yakni definisi yang bermaksud merumuskan hakikat sastra) terbukti tidak dapat diterapkan untuk menyebut sastra secara universal. Definisi-definisi ontologis itu misalnya: "Sastra adalah karya ciptaan atau fiksi yang bersifat imajinatif"; "Sastra adalah penggunaan bahasa yang indah dan berguna yang menandakan hal-hal lain"; "Sastra adalah teks-teks yang bahasanya dimanipulasi atau disulap oleh pengarangnya sehingga menghasilkan efek 'asing' (deotomatisasi) dalam pencerapannya.

Terhadap definisi-definisi tersebut telah banyak diajukan keberatan­ keberatan. Dalam lingkungan sastra Cina, unsur fiksionalitas temyata tidak berlaku bagi sastra mereka. Bahasa sastra tidak seluruhnya indah clan berbunga­ bunga. Banyak juga karya sastra yang menggunakan kata-kata kotor dan menjijikkan. Jean Paul Sartre (1948) membantah anggapan bahwa bahasa sastra adalah 'tanda-tanda' (code). Menurut dia, bahasa sastra adalah "benda-benda" (mots-choses).

Yang dapat dilakukan untuk kepentingan studi sastra adalah merumuskan seperangkat ciri-ciri teks yang disebut 'sastra' itu dengan berpijak pada asas kenisbian historis. Memang mustahil merumuskan satu definisi sastra yang berlaku secara universal. Namun di dalam praktik kita dapat membedakan teks-teks sastra dari teks-teks yang bukan sastra. Teks-teks bukan sastra berfungsi dalam komunikasi praktis, siap dipakai, dan dimanfaatkan. Teks-teks sastra tidak terutama memenuhi fungsi komunikatif melainkan fungsi estetik dalam suatu lingkup kebudayaan tertentu. Agar dapat memenuhi fungsi estetik itu suatu teks harus disusun secara khas sesuai dengan model estetika yang berlaku dalam lingkungan kebudayaannya. Teks-teks sastra merupakan modul kebudayaan yang mengungkapkan nilai-nilai dan norma-norma kebudayaan tersebut. Seperti kebudayaan dapat berubah demikian juga modul-modulnya berubah.


Baca Juga

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.