Menu
Linkkoe My Id

Filsafat Menurut Pandangan Para Ahli


Filsafat Menurut Pandangan Para Ahli



Filsafat Menurut Pandangan Para Ahli

Kita sering mengatakan, betapa pentingnya filsafat sebagai ilmu dan filsafat terapan, termasuk filsafat agama, filsafat Pancasila, dan filsafat pendidikan. Namun sangatlah sukar untuk memberikan deinisi konkret apalagi abstrak terhadap filsafat-filsafat tersebut. Kata filsafat berkaitan erat dengan segala sesuatu yang dapat dipikirkan oleh manusia, bahkan tidak akan pernah ada habisnya karena mengandung dua ke- mungkinan, yaitu proses berpikir dan hasil berpikir. 

Filsafat dalam arti pertama adalah jalan yang ditempuh untuk memecahkan masalah. Sedangkan, pada pengertian kedua, merupakan kesimpulan yang diperoleh dari hasil pemecahan atau pembahasan masalah. Manusia, dalam hidup dan kehidupannya tidak pernah sepi dan terus meilekat dengan masalah, baik sebagai individu dalam keluarga, masyarakat, dan negara maupun dalam masalah ekonomi, politik, sosial, pendidikan, dan lain sebagainya. Di samping itu, filsafat mempunyai konotasi dalam segala hal yang bersifat teoretis, transendental, abstrak, dan lain sebagainya.

Selanjutnya, filsafat ditinjau dari segi istilah, menurut para ahli dapat dikemukakan sebagai berikut:

1) Plato (427-342 SM) 

Seorang ilsuf Yunani terkenal (murid Socrates dan guru Aristoteles) ini dalam teori etika kenegaraannya menyebutkan empat budi, yang meliputi penguasaan diri, keberanian, kebijaksanaan, dan keadilan. Budi kebijaksanaan dimiliki oleh pemerintah atau filosof. Tugas mereka ialah membuat undang-undang dan mengawasi pelaksanaanya, memperdalam filosofi dan ilmu pengetahuan tentang ide kebaikan.

Membuat undang-undang dan mengawasi pelaksanaannya menjadi tugas pemerintah dan/atau filsuf. Sekaligus untuk menunjukkan kelebihan mereka sebagai pihak yang mampu menatap dan menapak jauh ke depan dan berbuat serta bertindak dengan penuh perhitungan. Artinya, kebijaksanaan itu berada dalam dua bidang, yaitu berpikir dan berbuat. Kebijaksanaan berpikir itulah filsafat, dan kebijaksanaan berbuat merupakan bidang tasawuf.

Dalam berpikir dan berbuat dianggap sempurna kebenarannya, jika telah terpenuhi keseimbangan antara dasar atau alasan, kenyataan, dan tujuan. Serta mengandung tiga dimensi waktu dengan memperhitungkan masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang tanpa memperhatikan dan memperhitungkan dimensi-dimensi waktu tersebut, pemikiran dan perbuatan belum dianggap sebagai sesuatu yang bijaksana dan benar. Contoh yang salah dalam kebijaksanaan perbuatan, misalnya yang selalu ber- hubungan dengan ketiga aspek tadi meliputi sifat-sifat utama, yaitu jujur contoh dan keadilan, puas contoh dari keperwiraan; sabar contoh dari keberanian dan keperwiraan; waspada contoh dari perpaduan antara keperwiraan dan kebijaksanaan.

Sifat-sifat utama tadi, menurut Hamka berhubungan dengan kesucian jiwa sebagaimana yang diuraikannya dalam bahasannya tentang kesucian. Macam-macam kesehatan jiwa, meliputi saja’ah (berani), Iffa (perwira), hikma (bijaksana), seperti yang diungkapkan Hamka dalam materi tasawuf. Di sini tampak pula adanya keselarasan, antara pendapat Hamka dan Plato dalam bahasan tentang kebijaksanaan atau filsafat.

2) Al-Kindi (796-474 M)

Ahli pertama dalam Filsafat Islam yang mengawali pengertian skolastik Islam di Irak. Al-Kindi memberikan pengertian filsafat di kalangan umat Islam dalam tiga lapangan, yaitu sebagai berikut:

  • Ilmu fisika; meliputi tingkatan alam nyata terdiri atas benda-benda konkret yang dapat ditangkap oleh pancaindera.
  • Ilmu matematika; berhubungan dengan benda, tetapi mempunyai wujud tersendiri yang dapat dipastikan dengan angka-angka (misalnya ilmu hitung, teknologi, astronomi, dan musik).
  • Ilmu ketuhanan; tidak berhubungan dengan benda sama sekali yaitu soal ketuhanan


3) Ibnu Sina (980-1037 M.)

Seorang dokter, ahli kimia, filsuf Islam, membagi filsafat dalam dua bagian, yaitu teori dan praktik. Keduanya dihubungkan dengan agama. Dasarnya terdapat pada syariat, penjelasan, dan kelengkapannya yang diperoleh dengan akal manusia. Tujuan filsafat praktik adalah mengetahui apa yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang. Sehingga, ia mendapatkan bahagia di dunia dan akhirat, yang disebut ilmu akhlak. Filsafat juga mencakup undang-undang, yaitu apa yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang dalam hubungannya dengan rumah tangga dan negara.

4) Immanuel Kant (1724-1804)

Dijuluki pakar raksasa di barat, mengatakan bahwa filsafat merupakan ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu sebagai berikut:

  • Apakah yang dapat diketahui? (Dijawab oleh metafisika)
  • Apa yang seharusnya diketahui dan kerjakan? (DIjawab oleh etika)
  • Sampai manakah pengharapan kita? (dijawab oleh agama)
  • Apakah yang dinamakan manusia (dijawab oleh antropologi)


Dari beberapa ungkapan para filsuf tersebut, dapat dirumuskan bahwa filsafat ialah upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami, mendalami, dan menyelami secara radikal, integral, dan sistematik mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia. Sehingga, dapat menghasilkan pengetahuan tentang hakikatnya yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana seharusnya sikap manusia setelah mencapai pengetahuan yang diinginkan.

Kemudian, untuk memperoleh pengetahuan filsafat dari segi praktisnya, dapat diketahui sebagaimana yang pernah dilakukan oleh para filsuf pada masa lalu. Mula-mula para ilsuf memperhatikan alam semesta dan manusia, dengan segala problematik dan kehidupannya. Adanya manusia tentu ada proses keberadaannya. Pemikiran tersebut tidak hanya berhenti sebatas itu, tetapi berlanjut kepada pemikiran di balik alam (menjadi problem realitas yang disebut metafisika) dan masalah-masalah ketuhanan. Pemikiran tentang alam semesta, manusia, dan apa yang ada di balik alam semesta, serta masalah ketuhanan, dilakukan dengan memenuhi syarat- syarat berpikir dengan sadar. Yakni, berpikir dengan teratur menurut aturan-aturan yang telah ditentukan.

Dengan kata lain, cara kerja filsuf berpikir dengan insaf mengandung pengertian berpikir secara sistematis, universal (menyeluruh), dan radikal. Mengupas dan menganalisis sesuatu secara mendalam sampai ke akar persoalannya sehingga hasil pemikiran mereka dapat ditetapkan dan dibuktikan kebenarannya pada seluruh persoalan yang dicakupnya, karena sangat relevan dengan problematik hidup dan kehidupan manusia. Berpikir secara sistematis, bagi para filsuf adalah berpikir logis dengan penuh kesadaran, dengan urutan yang saling berhubungan dengan teratur, dan bertanggung jawab. Berpikir secara universal adalah tidak berpikir khusus sebagaimana kerja setiap ilmu, tetapi mencakup keseluruhannya.

Sedangkan, yang dimaksud dengan berpikir secara radikal, berarti pemikiran yang berusaha untuk menyingkap tabir rahasia penyebab utama masalah yang akan diselesaikan. Radikal, berasal dari kala radix yang berarti akar, dan akar biasanya terletak di bagian terbawah pohon yang terpendam di dalam tanah. Akar merupakan penyebab utama kemungkinan munculnya pertumbuhan tanaman. Jika akar sudah tidak berfungsi lagi, maka akan dapat mematikan batang dan daun, yang dapat kita pahami pada peristiwa ini adalah rangkaian sebab akibat. Apabila orang menelusuri kenyataan tadi dengan mengungkapkan dasar-dasarnya, maka itulah yang disebut radikal. Dengan jalan penelusuran atau penjajakan yang radikal itu, filsafat berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal.

Baiklah, itu saja yang dapat disuguhkan dalam artikel ini. Semoga bermanfaat;


Sumber: 
*Dikutip dari buku "Filsafat Pendidikan", Muhammad Anwar, 2017, Kencana

Baca Juga

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.