Menu
Linkkoe My Id

Fungsi Kritik Sastra


Fungsi Kritik Sastra



Fungsi Kritik Sastra




Dalam perkembangan kritik sastra hingga saat ini, kritik sastra memiliki fungsi yang signifikan. Semi (1989) menyampaikan bahwa kritik sastra memiliki tiga fungsi.

1) Untuk membina dan mengembangkan sastra.

Kritik sastra berfungsi untuk memelihara, menjaga, memproteksi, dan mengembangkan pengalaman manusia yang dikemas dalam karya sastra, serta menjadikan sebagai proses perkembangan struktur yang bermakna. Melalui kritik sastra, kritikus menunjukkan karya, menilai, mengeksplorasi, menampilkan, dan mengonstruksi kelemahan dan kekuatan karya tersebut.

2) Untuk membina & mengapresiasi kebudayaan

Kritik sastra berfungsi untuk melestarikan kebudayaan dengan berbagai alternatif yang digunakan. Fungsi ini dapat digunakan dengan melatih kesadaran, mengolah rasa yang tepat terhadap karya sastra, dan mengarahkan pembaca kepada proteksi makna dan nilai kehidupan. Kritikus dapat menunjukkan kepada pembaca dengan membuat pembaharuan. Selain itu, kritikus juga dapat membuat garis lurus antara konvensi dengan inovasi terkait dengan karya yang bernuansa paradigma lama dengan baru.

3) Untuk menunjang ilmu sastra.

Kiritik sastra berfungsi juga untuk mengembangkan ilmu sastra. Kritik sastra menjadi lahan untuk menganalisis karya sastra dari berbagai sudut yang tidak terbatas. Dengan keluwesan tersebut memberi sumbangsih terhadap perkembangan ilmu sastra. Kritikus dapat memberikan ‗lahan baru‘ untuk dieksplorasi pengarang. Sumbangsih kritik sastra juga terdapat pada sejarah sastra. Dalam menyusun periodesasi sejarah juga tidak dapat dilepaskan dari peran kritikus sastra yang mengaji karya pada setiap era sesuai ciri tertentu. Namun, hanya karya sastra yang bermuatan sastra didalamnya yang dapat digolongkan sesuai periodesasi. Hal itu yang membuat kritik sastra memiliki fungsi yang bersifat ilmiah (Yudiono, 2009: 40).

Berdasarkan uraian tersebut, fungsi kritik sastra memegang peran penting. Pertama, kritik sastra meningkatkan keterampilan membaca secara umum dan memberi bantuan menyelesaikan masalah pemahaman. Kedua, kritik sastra dapat membantu di sekolah atau perguruan tinggi dengan memperluas kesadaran akan perbedaan pendekatan, sehing memberi lebih banyak cara menanggapi apa yang dibaca. Ketiga, kritik sastra mendukung pengembangan keterampilan berpikir kritis. Kritik sastra mendorong pembaca mengenai kebiasaan membaca dan menjelajah di luar batasnya. Hal ini akan mmperajam dalam keterampilan interpretif, analitik, dan evaluatif secara umum. Selain itu, dapat pula meningkatkan kemampuan berargumen disertai dengan alasan dan bukti tekstual. Karena alasan itu semua, kritik sastra dapat berfungsi untuk membantu seseorang secara mandiri menjadi pemikir dan pembaca.

Untuk menunjang keberlangsungan fungsi kritik sastra tersebut, kritikus dituntut untuk membangun kehidupan sastra dengan memberikan kritik secara objektif. Kritikus berperan dalam memperbaiki cara pandang sastrawan agar semakin menarik karya yang disajikan. Guna tercapainya fungsi tersebut, peran kritikus juga mengajak pembaca berpikir kritis serta menyesuaikan diri terhadap budaya dan nilai yang berlaku dan memiliki kecintaan dalam membina dan mengembangkan nilai-nilai yang benar.

Baca Juga

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.