Menu
Linkkoe My Id

Kritik Sastra Ekpresif: Pendekatan Ekspresif dalam Kritik Sastra


Kritik Sastra Ekpresif: Pendekatan Ekspresif dalam Kritik Sastra





Kritik Sastra Ekpresif: Pendekatan Ekspresif dalam Kritik Sastra

Pada abad kesembilan belas penekanan bergeser ke penyair, dan puisi menjadi 'luapan spontan perasaan kuat' si penyair. Dalam hal ini karya seni atau sastra pada dasarnya adalah internal yang dibuat eksternal. Karena itu, ketika seorang kritikus melihat seni dalam hal kecemerlangan, dia menggunakan teori ekspresif. Kehadiran penyair dalam karya sastra memiliki kedudukan yang sangat penting. Tanpa adanya pengarang, tentu karya sastra tidak akan lahir (Junus, 1985: 2). Di balik sebuah teks sastra yang ditulis oleh sastrawan tentu akan terdapat tujuan didalamnya. Di situlah pengarang menentukan teks yang ditulisnya sebagai suatu karya yang mengandung nilai atau bukan, bahkan ideologi yang ditanamkan (Zoest, 1990: 51). Ini didefinisikan sebagaiekspresi, atau meluap, atau ucapan perasaan, atau sebagai produk dari imajinasi penyairyang bekerja pada persepsi, pikiran, dan perasaannya.Penyair cenderung menilai pekerjaan berdasarkan haknyaketulusan, atau kecukupannya terhadap visi atau kondisi pikiran si penyair; dan sering mencari bukti dari temperamen dan pengalaman khusus dari penulis yang secara sadar atautanpa sadar telah mengungkapkan dirinya di dalamnya. Pandangan tersebut dikembangkan terutama olehkritikus romantis di awal abad kesembilan belas dan tetap terkini di zaman kita sekarang, terutama di Indonesia tulisan-tulisan para kritikus Psikologis dan Psikoanalitik.

Pada tahun 1800, kita mulai memandang perpindahan mimetik dan pragmatik menjadi pandangan seni yang ekspresi. Fenomena ini disebabkan oleh sebagian tulisan romantic radikal tahun 1830-an oleh Longinus, Bacon, Wordsworth. Dengan pandangan ekspresif baru tentang seni atau sastra, tugas utama seniman atau penulis tidak lagi berfungsi sebagai cermin yang mencerminkan hal-hal luar, tetapi mengeksternalisasikan hal-hal yang ada di internal, serta menjadikan kehidupan batin seseorang sebagai subjek utama penciptaan karya. Ibaratnya, peran sastrawan atau seniman tidak lagi sebagai 'cermin‘, tetapi telah berubah menjadi 'lampu‘.

Abrams memberikan gambaran tentang evolusi estetika Barat yang terjadi hingga saat ini. Di zaman Plato dan Aristoteles, penyair adalah penyair 'mimesis', dan peran dan instruksi pribadi mereka dihalangi seminimal mungkin. Pada era Hellenistik dan Romawi, penyair memiliki tipikal pragmatis yang berusaha untuk memuaskan public, mematuh aturan kesopanan, dan menyesuaikan dengan 'permintaan pasar'. Dari tahun 1800 hingga 1900, penyair, khususnya di Inggris dan Jerman adalah tokoh yang menang dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa tugasnya adalah mengekspresikan kepada dunia kejeniusan batin mereka sendiri.

Dalam perkembangan sastra Indonesia, pendekatan ekspresif dapat dikatakan 'kurang laku' atau kurang diminati bila dibandingkan dengan pendekatan sastra lainnya. Tidak banyak para ahli kesusastraan Indonesia yang menggunakan pendekatan dan jenis kajian ekspresif ini. Faktor ketekunan, jarak dengan penulis, dan kemampuan menyelami setiap bentuk karya menjadi penyebab kurangnya minat ahli sastra dalam menggunakan pendekatan ini. Di Indonesia, hanya beberapa saja yang dapat dijumpai dalam menggunakan kajian ini, misalnya disertasi Memahami Budi Darma dan Karya Sastranya karya Wahyudi Siswanto (2003). Dalam tulisan tersebut, Wahyudi mencermati sosok Budi Darma melalui proses-prosesnya dalam meluapkan ekspresi ke dalam bentuk tulisan.

Kritik sastra dengan pendekatan ekspresif ini dapat dikatakan memiliki keterkaitan dengan sosial dan psikologi penulis. Seorang Ahmad Tohari yang menulis Bekisar Merah, Ronggeng Dukuh Paruk tentu mengekspresikan nuansa Jawa berdasarkan unsur sosial yang melekat pada dirinya. Begitu pula ketika membaca puisi-puisi Zawawi Imron, kita akan menemukan suasana laut yang merupakan asal tempak kelahirannya di Madura. Latar sosial inilah yang mempengaruhi Zawawi Imron hingga mampu meluapkan ekspresi ke- Madura-an yang begitu mendalam.

Kritik sastra dengan pendekatan ekspresif yang menekankan pada peran penulis mendapatkan kritikan dari kaum formalis, strukturalis, dan pragmatis. Mereka menganggap bahwa karya yang dihasilkan bukan dari unsur otonom didalamnya, tetapi pada diri penulis. Pendekatan ini digunakan pada peran penulis.

Baca Juga

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.