Menu
Linkkoe My Id

Kritik Sastra Mimetik: Pendekatan Mimetik dalam Kritik Sastra


Kritik Sastra Mimetik: Pendekatan Mimetik dalam Kritik Sastra



Kritik Sastra Mimetik: Pendekatan Mimetik dalam Kritik Sastra 

Kritik sastra telah diterapkan sejak abad ketujuh belas hingga deskripsi, pembenaran, analisis, atau penilaian karya seni. Kritik di zaman modern adalah diklasifikasikan dalam berbagai cara. Abrams pada karyanya The Mirror and the Lamp berbicara tentang empat teori kritis yang berbeda, yaitu mimetik, pragmatik, ekspresif, dan objektif.

Mimetik menurut Abrams (1976:16) sebagai kajian yang paling primif dibandingkan yang lainnya. Mimesis sebagai konsep pada dasarnya merujuk pada prinsip dasar dalam seni di mana seorang seniman menciptakan karya dengan menyalin dari alam. Dengan kata lain, teori mimesis seni terutama didasarkan pada asumsi bahwa segala bentuk seni representatif adalah salinan alam. Mimetik, sebagai istilah kritis seperti lazimnya digunakan saat ini, pada awalnya muncul dari tulisan teoretis dan diskusi sumber Yunani klasik terkemuka. Mode pendekatan ini, yang pertama kali muncul di Plato dan (dalam cara yang memenuhi syarat) di Aristoteles yang tetap menjadi ciri khas teori modern tentang realisme sastra (Abrams, 1981: 8).

Plato mencoba mengaitkan mimetik dengan imitasi atau tiruan. Menurut Plato, bagaimanapun juga, imitasi yag terkiat akan berbahaya dalam pembuatan karya karena menghilangkan dari kebenaran itu sendiri. Bagi Plato, mimetic terikat dengan ide penciptanya. Ide tersebut tidak dapat menghasilkan tiruan yang sama. Melalui mimetic ini tataran yang dihasilkan dalam tataran tertinggi hanya sebatas angan-angan. Karya seni (sastra) tidak dapat berubah menjadi sempurna secara langsung. Pandangan Plato terhadap karya cukup negatif. Plato beralasan bahwa apa yang dijadikan karya sastra merupakan daya khayal yang masih jauh dari kebenaran. Sebagai contoh, wujud meja adalah suatu ide yang otentik, sementara tukang pembuat meja meniru dalam dunia ide. Hasil tiruan ini tidak dapat menyamai dengan meja yang ada di dalam ide. Meskipun meja hasil tukang kayu belum mendekati aslinya, tetapi masih lebih mendekati kebenaran bila diperbandingkan dengan hasil yang dilakukan oleh penyair (Luxemberg, dkk., 1984: 16). Plato percaya bahwa hal itu akan menyesatkan karena hanya terbatas ilusi. Bahkan Plato mengatakan seni hanya memunculkan nafsu karena menimbulkan emosi dan bukan rasio. Seniman cenderung mengumbar nafsu, padahal seharusnya menjadi manusia yang berasio dan meredakan nafsu (Teeuw, 1984). Karena itu, Plato membangun model mimetic yang tidak menguntungkan.

Pandangan Plato tentang mimetik dikritik dan dikembangkan oleh muridnya, Aristoteles. Aristoteles setuju dengan pandangan Plato pada prinsip puisi dan kata sebagai bentuk seni yang representatif dari mimetic dari alam. Namun, Aristoteles mendalilkan mimetic yang menunjukkan imitasi dan menimbulkan interpretasi (Hagberg, 1984: 364). Aristoteles meyakini bagian alami manusia adalah seorang makhluk yang imitatif. Gagasan Aristoteles tentang mimetic menunjukkan cara di mana suatu tindakan yang ditimbulkan, tetapi tidak sebenarnya dilakukan menyamai fitur penting dari semua tiruan. Setiap mimetic adalah kebangkitan dari suatu tindakan yang benar-benar terjadi, yang tidak benar-benar dilakukan, yang hanya memberikan ilusi berlangsung (Murnaghan, 1995: 757; Ratna, 2011: 70).

Aristoteles membebaskan teks dari hubungannya dengan alam semesta sebagaimana pandangan Plato, sambal tetap mengakui hubungan teks yang meniru itu dengan alam semesta. Aristoteles juga menunjukkan bahwa cara peniruan dan bukan hubungan yang dengan kebenaran yang penting dalam karya seni atau sastra, dan bahwa evaluasi esetika harus didasarkan pada penilaian ―cara peniruan‖ dan efek emosional yang dihasilkan oleh penonton. Aristoteles juga memandang bahwa dunia dalam karya seni atau karya sastra lebih menguntungkan dan menarik daripada dunia nyata.

Di era postmodern, gagasan tentang tekstual dan intertekstual muncul dengan mempertanyakan kemungkinan mimetik sebagai representasi dan klaim bahwa tidak ada dokumen asli tetapi hanya salinan yang secara serius menentang otoritas mimetik. Namun demikian, pandangan sastra sebagai tiruan telah kembali bertahan. Paul Ricoeur (1976: 39) berkomentar bahwa mimetic adalah poesis (perbuatan demi suatu hasil di luar perbuatan itu), dan poisis adalah mimetik bukan hanya penegasan kembali mimetic sastra. Ricoeur mencetuskan konsep transfigurasi atau (mimesis III) yang berkaitan dengan perbuatan manusia. Hal ini merupakan akibat adanya efek dari teks bacaan dan mendapat penghayatan sehingga mengubah dirinya atau membantu memahami diri dengan lebih baik.

Hans Georg Gadamer (1999) juga berusaha keras untuk mempertahankan dan mendefinisikan kembali mimetik. Gadamer mencetuskan fusion of horizons atau peleburan cakrawala untuk mengistilahkan pertemuan dua alam yang berbeda. Peleburan cakrawala terjadi akibat seorang pembaca yang tidak mungkin menangkap seluruh teks dan meninggalkan aspek aktual yang diserap dengan begitu saja. Alam pembaca akan terus mengalami transformasi. Gadamer menyebut bahwa alam tidak akan terus sama dan tidak menolak alam yang disajikan oleh teks. Kategori ini langsung berkaitan dengan keberadaan pembaca/penafsir. Mimetik sekali lagi menjadi topik penting dalam teori kritik sastra.

Kritik sastra mimetik mengasumsikan bahwa karya sastra adalah sebuah tiruan, dari dunia ide maupun manusia. Pendapat ini diilhami oleh aliran Marxis, sosiologi sastra, dan lainnya yang mengklaim bahwa karya sastra sebagai dokumen sosial. Berbagai pandangan dan pembaharuan membuat teori ini terus berkembang sejak zaman Yunani Klasik hingga postmodern saat ini.

Marx dan Engels menentukan bahwa dalam menciptakan suatu karya, kesadaran penulis bukan yang menentukan kehidupan. Namun, kehidupan itulah yang menentukan arah kesadaran. Seorang penulis yang peka terhadap kehidupan sekitar akan memiliki kesadaran dan proses berkarya yang renyah. Kehidupan sosial ini disesuaikan dengan cara pandang masyarakat dalam menciptakan kehidupan (Eagleton, 2002).

Pendekatan mimetik ini cukup mengilhami penulis-penulis sastra Indonesia dalam menuangkan suatu karya. Andrea Hirata dalam karyanya berjudul Laskar Pelangi (2005) yang menceritakan kehidupan masyarakat yang ada di Belitung. Andrea Hirata dala menuliskan ceritanya tidak terlepas dari lingkungan dan latar belakang hidupnya semasa kecil bersama orang tua, saudara, teman-temannya. Apapun yang dilakukan tidak terlepas dari tiruan yang ada dalam dunia nyata, meskipun pada beberapa bagian mengalami unsur gubahan dalam bentuk imajinatif.

Proses penuangan karya dengan melakukan tiruan berdasarkan kisah kehidupan juga dilakukan oleh Supaat I. Latif dalam karyanya Perahu Waktu (2012). Latief menceritakan kisah hidupnya dari masyarakat biasa ingin menuntut ilmu. Seorang anak kecil dari keluarga biasadari Lamongan yang berkeinginan besar untuk menuntut ilmu di Kota Malang. Perjuangan tersebut dituangkan dalam bentuk karya. Ada juga novel Iwan Setiawan berjudul Ibuk (2012) dan Summers 10 Autumns (Dari Kota Apel ke The Big Apple) (2011) yang melakukan imitasi dari kehidupannya. Beberapa penulis lainnya seperti tokoh Minke dalam tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer yang terinspirasi atau meniru tokoh Tirto Adi Soerjo. Tentu masih banyak lagi karya-karya sastra yang terilhami dengan proses mimetic atau imitasi dari segala hal, baik kisah hidup penulis, orang lain, atau lain sebagainya. Pendekatan mimetik yang menjadi salah satu pendekatan dalam sastra yang paling kuno dan bertahan lama, tetapi ada kelemahan didalamnya. Pendekatan mimetik menurut Siswanto (2013: 175) terlalu menekankan pada hal-hal nonsastra. Sehingga bila hendak melakukan kajian dengan pendekatan ini perlu meramu analisis sastra dengan aspek di luar sastra.

Baca Juga

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.