Menu
Linkkoe My Id

Kritik Sastra Objektif: Pendekatan Objektif dalam Kritik Sastra


Kritik Sastra Objektif: Pendekatan Objektif dalam Kritik Sastra




Kritik Sastra Objektif: Pendekatan Objektif dalam Kritik Sastra

Pada abad ke-20, penekanannya bergeser ke karya seni, terutama di bawah pengaruh Kritik Baru. Ketika kritik melihat seni pada dasarnya diistilahnya sendiri, melihat pekerjaan sebagai entitas mandiri, ia menggunakan pendekatan objektif. Kritik Sastra dengan menggunakan pendekatan objektif (kritik sastra objektif) ini melihat karya sastra secara terpisah. Abrams (1976: 26) mengungkapkan bahwa kritik sastra dengan pendekatan objektif memandang karya sastra terlepas dari semua titik acuan eksternal, menganalisisnya sebagai entitas mandiri yang dibentuk oleh bagian-bagiannya dalam hubungan internal mereka, dan berangkat ke menilainya semata-mata dengan kriteria intrinsik dengan mode keberadaannya sendiri. Menurut Junus (1985: 2) tanpa ada karya sastra, pembicaraan mengenai sastra tidak akan pernah ada.

Mode kritik sastra pendekatan objektif ini cukup dominan bagi penggemar sastra atau kritikus paling tidak selama setengah abad kedua puluh. Beberapa tokoh yang menggeluti pendekatan ini melacak asal-usul hingga pada pandangan Aristoteles pada karya Poetics. Mereka memandang bahwa objek yang ada di dalam karya seperti plot, karakter, tokoh adalah elemen yang bekerja sama untuk menghasilkan katarsis diantara penonton. Para ahli memandang kritik sastra dengan pendekatan objektif dalam konsep Aristoteles sebagai inheren dalam pekerjaan mereka. Karya mereka akan dipuji sejauh elemen-elemen internal bekerja secara kohesif. Namun, beberapa orang membantah dengan argumen bahwa Poetics Aristoteles bila diperhatika lebih cermat lagi, lebih sesuai dengan kriteria teori pragmatis daripada objektif Abrams (1976: 26—28).

Kritik objektif berkaitan dengan karya sastra berdiri bebas dari hubungan "ekstrinsik" penyair, atau dengan audiens, atau dengan dunia lingkungan. Sebaliknya itu menggambarkan produk sastra sebagai objek mandiri dan otonom, atau yang lain sebagai dunia-dalam-dirinya sendiri, yang harus direnungkan sebagai tujuannya sendiri, dan untuk dianalisis dan dinilai semata-mata oleh "intrinsik" kriteria seperti kompleksitas, koherensi, keseimbangan, integritas, danketerkaitan unsur-unsur komponennya. Konsepsi swasembada estetika objek diusulkan dalam Kant's Critique of Aesthetic Judgment (1790) diambil oleh pendukung seni demi seni di bagian akhir abad kesembilan belas, dan telahdijabarkan dalam mode terperinci dari kritik terapan oleh sejumlah kritik penting sejak 1920-an, termasuk Kritik Baru pendukung formalisme Eropa.

Karya sastra merupakan suatu bentuk utuh dari berbagai sifat dan tanda didalamnya. Untuk menemukan aspek tersebut perlu mengupas struktur karya yang komplek. Kaum formalis meletakkan landasan bahwa konsep yang unggul dari karya sastra terdapat pada unsur didalam karya sastra tersebut, seperti penggunaan rima, irama, aliterasi, asonansi, dan sebagainya. Hal demikian membuat kesusastraan sebagai suatu bagian dari pemakaian bahasa yang khas (Culler, 1977:127; Wellek, 1965: 24; Teeuw, 1984: 130-131).

Kritik sastra objektif atau kritik sastra dengan pendekatan objektif menjadi aspek yang utuh terhadap suatu karya. Hal ini memberi dua pandangan yang menarik dari segi heteroskosmik dan kontemplasi. Heteroskosmik menilai setiap karya merupakan dunia yang unik, koheren, dan otonom. Melalui sudut pandang kontemplasi, setiap karya adalah objek mandiri yang direnungkan tanpa adanya keterkaitan dengan mimetic dan pragmatik demi kepentingannya sendiri.

Baca Juga

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.