Menu
Linkkoe My Id

Kritik Sastra Pragmatik: Pendekatan Pragmatik dalam Kritik Sastra


Kritik Sastra Pragmatik: Pendekatan Pragmatik dalam Kritik Sastra



Kritik Sastra Pragmatik: Pendekatan Pragmatik dalam Kritik Sastra

Ketika penekanan dialihkan ke pembaca, dan pandangan kritikus dalam hal efeknya terhadap penonton, ia menggunakan teori pragmatis yang dominan hingga akhir abad kedelapan belas. Abrams (1981: 15) menyebut kritikus pragmatik melatih pemahaman yang dilakukan pembaca sastra. Lebih tepatnya, kritik pragmatik mencoba mengeksplorasi intelektual dan hal-hal penting, dampak emosional dan etis yang dimiliki karya sastra kepada pembaca. Dari perspektif ini, sastra dievaluasi dengan mengacu pada yang baik atau buruk terhadap efek yang dianggap benar oleh pembaca. Bahkan, Siswanto dan Roekhan, 1991: 30), menyatakan bahwa karya sastra baru dianggap sebagai karya sastra dengan segala legalitasnya ketika telah sampai ke tangan pembaca dan telah dibacanya. Namun, bila karya sastra belum dibaca oleh pembaca, maka belum ada keutuhan komunikasi antara penulis dan pembaca.

Kritik pragmatis sebagian besar mendominasi diskusi sastra dari Art of Poetica oleh Horace Romawi (abad pertama SM) sampai abad kedelapan belas, telah terjadi dihidupkan kembali dalam kritik retorika baru-baru ini, yang menekankan strategi artistik dimana seorang penulis melibatkan dan mempengaruhi respons pembaca terhadap hal-hal yang diwakili dalam sastra.kerja. Pendekatan pragmatis juga telah diadopsi oleh beberapa strukturalis yang menganalisis teks sastra sebagai permainan kode yang sistematis yang memengaruhi respons interpretatif pembaca.

Pertama dan yang terutama dalam kritik pragmatis yaitu berkaitan dengan dampak etis dari setiap teks sastra kepada pembaca. Terlepas dari kelebihan dan kekurangan karya, tanggung jawab utama sastra bersifat sosial. Menilai, memenuhi, dan membentuk kebutuhan, keinginan, pembaca harus menjadi tugas seorang pembuat karya. Kritikus pragmatis percaya bahwa sastra sangat ambivalen dalam kemampuannya untuk mempromosikan kebaikan atau kejahatan. Tugas kritik pragmais adalah dengan membangun standar moral kualitas sastra dengan menentukan batasan artistic berdasarkan pedoman moral, etika, menghibur, menginspirasi, dan menginstruksikan pembaca dengan pengetahuan tentang kebenaran.

Kritik sastra dengan pendekatan pragmatik yang menitikberatkan pada peran pembaca sebagai penghayat memiliki peran utama dalam menilai baik atau buruk, layak atau tidak layak, bernilai atau tidak bernilai. Pembaca seolah-olah memiliki otonomi yang kokoh dan kedigdayaan dalam menilai suatu karya sastra. Karya yang dihasilkan oleh penulis sudah sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca, sedangkan penulisnya sudah tidak memiliki kewenangan. Pembacalah yang menentukan setiap hal yang ditulis oleh sastrawan dalam menyampaikan pesan, nilai, dan unsur didalamnya (Selden, 1991: 106—107; Aminuddin, 1987: 94).

Teks sastra yang dihasilkan penyair dipandang sebagai benda yang perlu direkonstruksi ulang agar membentuk objek estetik. Respon atas karya tersebut sepenuhnya menjadi kewenangan seorang pembaca. Pembaca dapat memberikan respon dengan membuat ulang, merekonstruksi aspek yang baru, mencatat, atau menilai karya tersebut. Bahkan, pembaca berwenang untuk meninggalkan reaksi negatif dengan tidak membacanya lagi, marah, kesal, dan lain sebagainya (Endraswara, 2013 :119).

Perkembangan pendekatan pragmatik yang semakin lama melahirkan tokoh-tokoh baru, seperti Wolfgang Iser, Hans Robert Jausz. Tokoh-tokoh tersebut melahirkan pandangan resepsi sastra atau resepsi estetik (Junus, 1985). Resepsi sastra dapat dimaknai sebagai kajian yang mempelajari teks sastra dengan menitikberatkan pada pembaca untuk memberikan respon baik aktif maupun pasif (Junus, 1985; Endraswara, 2013).

Seorang penikmat sastra akan mendapatkan pesan yang berbeda ketika membaca cerpen Gus Jafar karya K.H. Mustofa Bisri yang diterbitkan oleh Kompas tahun 2002 yang kemudian dibukukan dalam antologi cerpen berjudul Lukisan Kaligrafi (2013). Pembaca awam akan bertanya-tanya bagaimana bias Gus Jafar memiliki kemampuan khusus untuk melihat kejadian yang akan terjadi. Begitu juga ketika membaca cerpen Salawat Dedaunan karya Yanusa Nugroho yang dimuat koran Kompas pada Oktober 2011 dan dibukukan dalam kumpulan cerpen berjudul Setubuh Seribu Mawar (2013). Pembaca awam akan bertanya bagaimana bisa masjid yang sepi bisa ramai kembali hanya dengan adanya tokoh Nenek yang memunguti daun? Bagaimana peran tokoh yang lain dalam meramaikan masjid lagi? Dan lain sebagainya.

Teks sastra yang dimaknai bergantung pada penerimaan pembaca, sehingga makna yang yang ada bergantung proses pembaca melakukan konkretisasi teks. Pembaca akan memaknai berbeda pada karya yang sama. Inilah yang menjadi celah dalam pendekatan pragmatic ataupun teori resepsi sastra. Pembaca yang memiliki horizon harapan atau skemata yang baik tentu akan berbeda dengan pembaca yang ‗biasa saja‘. Hal itu pula yang disampaikan Damono (1983), bahwa masing-masing kritikus akan melahirkan kritik yang berbeda meski telah membaca sajak yang sama.


Baca Juga

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.