Menu
Linkkoe My Id

Langkah-Langkah Melakukan Kritik Sastra


Langkah-Langkah Melakukan Kritik Sastra



Langkah-Langkah Melakukan Kritik Sastra

Kritik sastra adalah disiplin menafsirkan, menganalisis danmengevaluasi karya sastra. Kegiatan ini bisa termasuk mengkritik puisi, cerita, novel, drama, esai, memoar, dan seterusnya. Namun, terdapat pertanyaan klasik ketika hendak menulis kritik sastra: Bagaimana cara menulis kritik sastra? Bagaimana cara memulai?

Mahayana (2015) dalam bukunya Kitab Kritik Sastra membuat sembilan langkah dalam menulis karya sastra.

  • Membaca secara tuntas karya yang hendak dikritik. Seorang pembaca hendaknya menyelesaikan seluruh karya yang hendak dikritik secara tuntas tanpa berpegang pada pemahaman karya berdasarkan informasi dari orang lain. Seorang kritikus tidak boleh melakukan kritik terhadap karya sastra jika belum membaca secara tuntas dan hanya mengandalkan informasi dari orang lain. Sebelum proses pembacaan dilakukan, kritikus juga harus memiliki kesadaran bahwa menulis kritik bukan mencela karya, tetapi menyampaikan apresiasi terhadap karya sastra. Kritikus dalam menyampaikan kritik juga harus memiliki sisi objektivitas terhadap penafsiran, pengalaman, penilaian dalam melakkan kritik.
  • Meminimalkan adanya miskomunikasi antara pembaca dan teks sastra ketika proses pembacaan. Ketika melakukan pembacaan karya sastra, penikmat atau kritikus tidak bisa menyelami dunia yang disajikan dalam teks, dapat dikatakan sedang terjadi miskomunikasi. Tentu, dalam proses ini tidak boleh dipaksakan oleh pembaca. Alternatif yang dapat dilakukan dengan cara mengganti karya sastra tersebut atau dengan memberi jeda dalam proses pembacaan.
  • Memberikan tanda pada karya sastra. Catatan atau tanda yang diberikan ini akan begitu berarti untuk menunjukkan suatu hal yang menonjol, khas, meragukan, dan yang diduga sebagai ‗sinyal‘ penulis karya sastra dalam menyampaikan tema, pesan, atau estetika teks. Pada tahap ini, pembaca atau kritikus dituntut untuk menjadi pembaca yang kritis. Selain menandai pada bagian yang dianggap penting, perlu kiranya juga menyusun pertanyaan yang menjadi alat analisis dalam menulis kritik.
  • Memahami secara kompleks karya yang bersangkutan. Proses ini sejatinya memerlukan lebih dari dua kali pembacaan teks sastra. Proses ini guna mendapatkan pemahaman yang tidak hanya berhenti pada kelebihan dan kelemahan suatu karya saja, tetapi juga harus diungkapkan letak dan hal apa yang menjadi kelebihan. Kelebihan ini dapat disampaikan dengan porsi yang lebih luas dan mendalam dibandingkan kekurangannya. Proses pembacaan yang berulang akan memunculkan makna lain atau makna baru yang terlewat dari pengamatan saat melakukan pembacaan awal. Selain itu, pembacaan yang berulang ini juga dapat menguatkan dan memverikasi temuan yang diperoleh dari pembacaan awal.
  • Menuliskan kritik dengan tidak memunculkan konteks karya. Dalam tahap ini, penulis kritik telah mencapai syarat untuk menuliskan kritik. Namun, dalam menuliskan kritik seyogyanya penulis tidak menempatkan konteks karya agar tidak menjadi kajian yang lebih luas. Misalnya saja, penulis kritik melakukan penyelidikan atau membandingkan karya yang akan dikritik dengan karya lain atau melihat kebaharuan karya. Tentu pada tataran ini penulis kritik membutuhkan kajian yang lebih mendalam karena membandingkan konteks karya yang akan dikritik dengan karya yang ada sebelumnya.
  • Memilih jenis kritik dalam menyampaikan kritik sastra. Kritikus sastra bebas memilih jenis kritik apa yang akan digunakan dalam menuliskan kritik terhadap karya yang dibaca. Kritikus yang memilih jenis kritik sastra ilmiah tinggal menentukan teori, pendekatan, atau disiplin ilmu lain yang dianggap sesuai dengan proses yang telah dilakukan sebelumnya. Kritikus dapat menuangkan menjadi bahan analisis dalam mengungkapkan kekayaan teks yang dikaji. Pada bagian ini, kritikus dapat mengutip bagian teks yang sudah ditandai atau menarik dengan menjelaskan berdasarkan teori, metode, pendekatan, atau bidang ilmu lainnya. Dengan demikian, teks yang dikaji dengan alat ‗bedah‘ yang digunakan akan menyatu.
  • Kritikus yang memilih jenis kritik apresiatif dapat diawali dengan membuat deskripsi tentang resume, sinopsis, atau ikhtisar dari karya yang sudah dibaca. Deskripsi ini agar pembaca mendapatkan gambaran tentang karya sastra beserta isinya. Pada bagian ini, kritikus dapat memasukkan berbagai hal yang menarik, unik, dan unggul sebagai kelebihan karya tersebut. Setelah itu, kritikus melakukan analisis berdasarkan bahan yang sudah disiapkan.
  • Kritikus menyajikan deskripsi, analisis, interpretasi, dan evalusi. Pada tahap awal berupa deskripsi, kritikus mengenalkan karya secara objektif. Pada tahap ini belum ada penafsiran, tetapi hanya sajian mengenai muatan isi, pengarang, gambaran umum tentang karya guna mengantarkan pembaca pada tahap selanjutnya. Setelah itu, tahap analisis dilakukan oleh kritikus. Kadang kala, tahap analisis ini disertai dengan penafsiran atau interpretasi. Dalam praktiknya, kegiatan menganalisis selalu disertai dengan interpretasi, begitu pula sebaliknya. Pada tahap ini, kapasitas analisis dan analisis memiliki kedudukan yang lebih banyak dari pada deskripsi dan evaluasi. Pada tahap evaluasi, terdapat kontradiksi didalamnya. Ada beberapa kritikus yang menggunakan bagian ini, tetapi ada juga yang tidak menggunakan. Bagi sebagian kritikus, karya yang baik dan besar tanpa diberikan evaluasi tetap tampak keagungannya berdasarkan analisis dan penafsiran. Di sisi lain, sebagian kritikus memandang bahwa hakikat kritik sastra adalah penilaian. Hal itu membuat praktik kritik sastra perlu dan harus terdapat penilaian bersifat evaluasi terhadap karya sastra.
  • Menampilkan kutipan untuk memperkuat analisis dan penafsiran. Penyajian kutipan ini penting dilakukan untuk menunjukkan alat bukti analisis, baik berupa argumentasi, teks sastra, ataupun sumber teori yang digunakan.

Kegiatan kritik sastra tidak terlepas dari kegiatan menafsirkan, menganalisis, dan mengevaluasi. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan menimbulkan pertanyaan yang berbeda guna mendapatkan pemahaman mendalam tentang karya yang akan dikaji. Ketiga pertanyaan tersebut dapat menggiring pada suatu proses melakukan kritik sastra secara mendalam.

Pertanyaan Interpretif. Apa arti karya sastra ini? Ketika seseorang melakukan penafsiran terhadap suatu karya, maka perlu menetapkan satu atau lebih dari makna yang memungkinkan. Proses ini dapat dikatakan mirip dengan seorang penulis yang membawa kata-kata, sedangkan pembaca membawa maknanya. Karya sastra menyajikan isi yang berbeda kepada pembaca dengan cara yang berbeda.

Pertanyaan Analitik. Bagaimana cara karya sastra bekerja? Ketika kritikus mulai menganalisis teks, ia harus masuk dan menyelami bagaimana setiap bagian yang ada dalam karya tersebut. Analisis bersifat teknis dengan memisahkan hal-hal, mencari hubungan, dan menemukan efeknya. Pada tahap ini, kritikus tidak lagi mempertanyakan apa arti puisi, tetapi bagaimana penulis membuatnya sesuai dengan berbagai kelebihannya.

Pertanyaan Evaluatif. Apakah karya sastra ini bagus? Ketika mengevaluasi suatu karya sastra, kritikus atau pembaca membentuk penilaian pribadi tentang karya yang dibaca. Apakah novel yang hebat atau buruk? Mengapa? Apakah puisi ini cukup bernilai? Mengapa? Apa yang memberikan pembaharuan? Tentunya proses ini disertai dengan keobjektivan dan keluasan pandangan seorang pembaca atau kritikus.

Baca Juga

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.