Menu
Linkkoe My Id

Pendidikan dari Orang Tua Sangat Berpengaruh pada Perkembangan Sikap Anak


pendidikan,pendidikan orang tua,sikap anak,perkembangan anak,



Pendidikan dari Orang Tua Sangat Berpengaruh pada Perkembangan Sikap Anak


Seseorang mulai mendapatkan pendidikan sejak memperoleh pengalaman dalam lingkungannya, terutama lingkungan keluarga di mana anak dilahirkan dalam keadaan lemah tidak berdaya. Kelangsungan dalam proses hidupnya sangat tergantung kepada pertolongan orangtuanya atau orang yang menyusui dan mengasuhnya. Anak yang dalam keadaan lemah tidak berdaya tersebut, sebenarnya telah menyimpan beberapa potensi pembawaan yang serba memungkinkan untuk ditumbuhkan dan dikembangkan, bagi kelangsungan hidup dan pemenuhan kebutuhan hidup manusia.

Adapun potensi-potensi anak yang dibawa sejak lahir yang dibina dan dikembangkan menjadi sikap anak, meliputi hal di bawah ini.

1. Potensi jasmani dan pancaindra

Dengan mengembangkan sikap hidup sehat, memelihara gizi makanan, olahraga yang teratur, istirahat yang cukup, lingkungan hidup bersih.

2. Potensi pikir (rasional)

Dengan mengembangkan kecerdasan suka membaca, belajar ilmu pengetahuan yang sesuai dengan minat, mengembangkan daya pikir kritis, dan objektif.

3. Potensi perasaan dikembangkan

  • perasaan yang peka dan halus dalam segi moral dan kemanusiaan (etika) dengan menghayati tata nilai ketuhanan, keagamaan, kemanusiaan, sosial budaya, dan ilsafat.
  • perasaan estetika dengan mengembangkan minat kesenian dengan berbagai seginya, sastra dan budaya.


4. Potensi karsa atau kemauan yang keras

Dengan mengembangkan sikap rajin belajar atau be-kerja, ulet, tabah menghadapi segala tantangan, berjiwa perintis (pelopor), suka berprakarsa, termasuk hemat, dan hidup sederhana.

5. Potensi-potensi cipta

Dengan mengembangkan daya kreasi dan imajinasi dari segi konsepsi-konsepsi pengetahuan maupun seni budaya (sastra, puisi, lukisan, desain, dan model).

6. Potensi karya

Konsepsi dan imajinasi tidak cukup diciptakan se-bagai konsepsi, semuanya diharapkan dilaksanakan secara operasional. Inilah tindakan, amal, atau karya yang nyata. Misalnya, gagasan yang baik tidak cukup dilontarkan, kita berkewajiban merintis penerapan- nya.

7. Potensi budi nurani

Kesadaran ketuhanan dan keagamaan, yakni kesa-daran moral yang meningkatkan harkat dan marta- bat manusia menjadi manusia yang berbudi luhur, atau insan kamil atau manusia yang takwa menurut konsepsi agama masing-masing.


Dalam proses pendidikan, potensi-potensi tadi meru- pakan potensi dasar manusia dan merupakan isi pendidikan yang dibina dan dikembangkan dalam proses hidup dan ke- hidupan seseorang, mulai dari lingkungan keluarga hingga kepada masyarakat yang lebih luas. Seseorang mengalami kehidupan dimulai dari lingkungan keluarga. Semua pengalaman yang diperoleh dari lingkungan keluarga ini sebagai dasar bagi hidup dan kehidupan pada masa berikutnya.

Pendidikan dalam keluarga atau pendidikan orang tua berlangsung secara otomatis dan alami, dan memberikan kesan yang membekas sepanjang masa. Kehidupan dalam keluarga merupakan bentuk pertama pendidikan, karena dalam keluargalah tempat meletakkan dasar-dasar kepribadian anak pada usia yang masih muda. Biasanya pada usia ini, anak-anak masih sangat peka terhadap pengaruh lingkungan keluarga atau masyarakal di sekelilingnya.

Pendidikan dalam keluarga berlangsung secara otomatis dan alami, dan memberikan kesan yang membekas sepan- jang masa. Kehidupan dalam keluarga merupakan bentuk pertama pendidikan, karena dalam keluargalah tempat me- letakkan dasar-dasar kepribadian anak pada usia yang masih muda. Biasanya pada usia ini, anak-anak masih sangat peka terhadap pengaruh lingkungan keluarga atau masyarakal di sekelilingnya.

Rumah tangga atau keluarga yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak-anak merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak. Ayah, ibu, atau orang-orang yang diberikan tanggung jawab dalam suatu keluarga, memegang peranan terhadap pendidikan anak-anaknya. Jika ibu berhasil mena- namkan kasih sayang dan pendidikan yang baik, maka akan terkesan bagi anak untuk selama-lamanya. Hal itu, dilukis kan oleh seorang penyair kenamaan Hafez Ibrahim yang mengatakan, ”ibu adalah suatu sekolah”, bila dipersiapkan dapat membentuk bangsa yang baik dan kuat. Demikian pula pengaruh seorang ayah terhadap anak-anak sangat besar pula, dalam pembentukan sikap dan tingkah laku anak. Apa dan bagaimana cara suatu pekerjaan yang dilakukan seorang ayah akan berpengaruh pula terhadap cara pekerjaan anak dan lain sebagainya.

Di samping itu, anak bergaul pula dengan orang lain di luar keluarganya untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman baru dalam proses pendidikan. Lingkungan masyara- kat merupakan pendidikan, selain keluarga dan sekolah yang akan membentuk kebiasaan, pengetahuan, minat dan sikap, kesusilaan, kemasyarakatan, dan keagamaan anak. Di dalam lembaga masyarakat atau dalam pergaulan di luar keluarga, si anak memperoleh pendidikan yang berlangsung secara informal, baik dari para tokoh masyarakat, pejabat atau penguasa, dan para pcmimpin agama, dan lain sebagainya.

Demikian pula sekolah atau madrasah, sebagai lembaga pendidikan formal berfungsi membantu keluarga untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan kepada anak sebagai kelanjutan proses pendidikan yang dialami anak, setelah keluarga dan lingkungan masyarakatnya. Pendidikan yang diterima anak di sekolah, berupa pengetahuan dan keterampilan yang masih bersifat umum sebagai dasar dan bekal, yang akan dikembangkan di kemudian hari setelah anak ke- luar atau tamat dari sekolah tersebut. Namun tidak jarang pula terjadi setelah keluar dari sekolah masih belum siap sepenuhnya untuk melaksanakan tugas hidup sesuai dengan profesi yang dipilihnya. Sehingga, masih perlu mendapatkan pendidikan persiapan tambahan yang termasuk dalam pendidikan nonformal.

Dari uraian singkat tadi, telah dapat dipahami bahwa proses pendidikan berlangsung bersama dengan proses hidup dan kehidupan seseorang untuk seumur hidup (long life education). Oleh karena itu, pendidikan mempunyai kedudukan sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan hidup dan kehidupan manusia. Sebagaimana dikemukakan oleh John Dewey dalam analisisnya, yaitu: Education as a ne- cessity o life, Education as social function, Education as direction, Education as growth, Preparation, unfolding and formal discipline. (pendidikan itu sebagai salah satu kebutuhan hidup, salah satu fungsi sosial, bimbingan, sarana pertumbuhan, dan mempersiapkan, mengembangkan dan membentuk kedisiplinan).

Jadi, pendidikan merupakan suatu aktivitas manusia terhadap manusia dan untuk manusia, atau yang berhubungan dengan hidup dan kehidupan manusia dengan segala problematikanya.

Baca Juga

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.