Menu
Linkkoe My Id

Yang Menjadikan Mereka Bersaudara – Cerpen O. Henry

Cerpen O. Henry, cerpen terjemahan





O. Henry alias William Sydney Porter (Greensboro/Amerika Serikat, 11 September 1862—5 Juni 1910) adalah penulis cerita pendek yang sangat produktif pada awal abad ke-20.

Yang Menjadikan Mereka Bersaudara – Cerpen O. Henry

Sang Maling bergegas membobol jendela, lalu terdiam sebentar. Seorang maling yang menjunjung tinggi seni pekerjaannya selalu meluangkan waktu sejenak sebelum mulai menjarah.

Rumah itu kediaman pribadi. Dari pintu depannya yang lebar membentang, dan dedaunan anggur perawan yang saling bertindihan, Sang Maling tahu Sang Selingkuhan sedang duduk di beranda yang menghadap ke lautan, berbincang dengan pria simpatik bertopi nakhoda. Dia mengeluh, tak ada yang bisa memahami hatinya yang rentan dan kesepian. Sang Maling tahu dari nyala lampu yang menerobos jendela depan di lantai tiga, dan dari remang langit pada musim itu, bahwa Si Penghuni sudah pulang, akan segera memadamkan lampu, dan beristirahat. Itu bulan September yang begitu biasa; masa-masa di mana orang-orang mulai berpikir bahwa berkebun di atas atap dan mempekerjakan kerani adalah simbol kesombongan; musim ketika mereka berhenti berselingkuh, sembari berharap bahwa kesadaran-sebelum-terlambat semacam itu akan menjamin nasib baik mereka bertahan lebih lama.

Sang Maling menyulut sebatang rokok. Nyala korek yang terlindung sebelah tangan memendarkan bayang-bayangnya, begitu besar walaupun sebentar saja. Dia termasuk maling tipe ketiga. Belum dikenal, belum diakui Kepolisian. Mereka hanya memperkenalkan maling tipe pertama dan kedua kepada masyarakat. Pembagiannya sederhana: berdasarkan warna kerah mereka.

Ketika seorang maling tertangkap, maling yang tidak berkerah ditempatkan paling bawah dari yang di bawah; maling tipe pertama yang brutal dan bermoral bobrok. Mereka golongan yang mewakili penjahat putus asa yang merampas borgol langsung dari saku Kompol Hennessy pada tahun 1878, berhasil lolos, tetapi tak pernah tertangkap. Tipe maling kedua adalah maling yang bajunya berkerah. Maling semacam ini dianggap sebagai Raffles di dunia nyata. Pada siang hari, dia tampil sebagai pria baik-baik, menyantap sarapan dalam setelan jas, mengundang tatapan seperti hiasan dinding yang rupawan; tetapi pada malam hari dia berubah menjadi iblis yang menggerayangi rumah demi rumah. Ibunya yang kaya-raya adalah tokoh yang dihormati di Ocean Grove. Ketika dia dijebloskan ke penjara, dia meminta sebuah pengikir kuku dan majalah Police Gazette. Dia selalu punya istri di negara bagian mana pun, memiliki tunangan di setiap penjuru perbatasan. Koran-koran memampangkan foto pernikahan dia menggunakan stok foto para gadis yang sembuh secara ajaib dari sakit setelah minum satu dosis obat mustajab setelah gagal ditangani oleh lima dokter.

Sementara itu, Sang Maling memakai sweter biru. Dia bukan tipe Raffles, juga bukan kalangan jelata yang tertempa keras jalanan. Kalau harus mengklasifikasikan dia, mungkin polisi akan terlongong-longong. Mereka belum pernah tahu ada tipe maling yang cukup terhormat, sekaligus cukup sederhana—tidak ingin menjadi lebih tinggi atau berkelakuan lebih rendah daripada kedudukan dia yang sebenarnya.

Maling tipe ketiga mulai berkeliaran mencari mangsa. Dia tidak bertopeng, tidak membawa teplok, juga tidak mengenakan sepatu bersol karet. Dia membawa pistol kaliber 38mm dalam saku, sambil mengunyah permen karet pepermin setenang mungkin.

Perabotan di rumah itu semua terbungkus pelindung debu musim panas. Perkakas perak sepertinya tersimpan dalam brankas. Sang Maling tidak berminat menggondol barang sebesar itu. Dia mengalihkan sasaran pada sebuah kamar berlampu redup. Mungkin itulah kamar tidur si tuan rumah, di mana dia merehatkan diri sembari melepaskan beban kesepian yang melanda. Dia berencana mengambil sedikit saja, asalkan aman dan tidak terlalu mencurigakan: uang receh, arloji, atau sebuah bros—tidak berlebihan, bahkan mungkin tidak disadari korbannya. Dia melihat jendela kamar terbuka. Inilah kesempatan.

Perlahan, Sang Maling membuka pintu, mendorongnya menuju sebuah kamar yang benderang. Sekilas, tak ada yang menarik. Seorang laki-laki terbaring lelap di atas ranjang. Di atas laci nakasnya terserak barang-barang yang begitu acak: uang kertas yang tergulung lecak, arloji, anak-anak kunci, tiga keping poker, puntung rokok tersundut, pita rambut merah muda, dan sebuah botol obat lambung yang belum terbuka—sepertinya untuk diminum pagi besok.

Sang Maling maju tiga langkah menuju lemari. Lelaki di ranjang tiba-tiba mengerang dan membuka mata. Tangan kanannya menyelinap ke bawah bantal, tetap di sana selama beberapa saat.

“Jangan gerak,” ujar Sang Maling. Intonasinya setenang orang biasa ketika berbicara. Maling tipe ketiga tidak mendesis. Si Penghuni di ranjang menatap sarang peluru pada pistol Sang Maling. Sekarang dia benar-benar bergeming.

Sang Maling lantas memerintah, “Angkat tangan. Dua-duanya.”

Si Penghuni berjanggut tipis, cokelat bercampur kelabu, terpangkas runcing pada dagu. Wajahnya seperti janggut dokter gigi yang mengacungkan spuit berisi obat anestesi. Dia terlihat kekar sekaligus bertampang terpandang, tersinggung sekaligus jijik. Dia duduk—masih di ranjang—dan mengangkat tangan kanannya ke atas kepala.

“Tangan yang satu lagi,” suruh Sang Maling. “Mungkin kedua tanganmu sama cekat dan tangan yang itu mau menembakku. Coba hitung sampai dua. Cepat! Sekarang!”

“Saya tak bisa mengangkat tangan yang ini,” jawab Si Penghuni. Raut wajahnya merengut.

“Ada apa?” ____ cerpen O. Henry.

“Bahu saya rematik.”

“Bengkak?”

“Tadinya. Sekarang sudah mendingan.”

Beberapa saat, Sang Maling berdiri diam, memindahkan pistol ke lengannya yang juga sakit. Dia melirik laci, penasaran apakah sekiranya ada yang layak rampas. Agak malu-malu, dia kembali menatap Si Penghuni di ranjangnya. Tiba-tiba dia meringis.

“Jangan pasang tampang aneh-aneh. Tidak lucu itu,” damprat Si Penghuni kesal. “Kalau kau mau mencuri, kenapa tidak langsung saja? Ada banyak benda layak rampas berserakan di sekitarmu.”


Sang Maling balas menyeringai, “‘Misi, tapi kita senasib. Rematik dan aku sudah akrab sejak lama. Tangan kiriku juga rematik. Siapa pun akan langsung menembakmu saat kau tak bisa mengangkat tangan kirimu. Kecuali aku, tentu saja.”

“Sudah berapa lama?” tanya Si Penghuni.

“Empat tahun. Sampai sekarang masih. Sekali rematik, seumur hidup kau rematik. Setidaknya itu yang aku yakini.”

Si Penghuni mulai tertarik. “Sudah coba minyak ular derik?”

“Tak terhitung lagi. Jika semua ular yang minyaknya kupakai bisa disuruh baris, mereka membentang hingga delapan kali diameter Saturnus, dan deriknya bisa terdengar dari Valparaiso sampai Indiana, bolak-balik.”

“Ada yang pernah coba pil Chiselum,” sebut Si Penghuni.

“Obat apa-apaan itu? Aku pernah minum. Lima bulan. Tidak mempan sama sekali. Aku sedikit membaik dengan ekstrak bikinan Finkelham, balsem tapal Gilead, dan puyer antinyeri racikan Pott; tapi yang lumayan mempan cuma berangan kuda yang kubawa ke mana-mana.”

“Lebih parah pas pagi atau malam?”

“Malam,” sahut Sang Maling, “waktu aku sedang sibuk-sibuknya. Hei, hei… turunkan tanganmu… kurasa kau tak akan… tunggu. Kau pernah coba larutan penambah darah-nya Blickerstaff?”

“Belum. Apa kau mengalami serangan nyeri? Atau nyerimu menetap, begitu-begitu saja?”

Sang Maling duduk bersila. Satu kakinya naik ke ranjang. Pistol itu dia letakkan di atas lutut.

“Nyerinya kadang-kadang menerkam. Datangnya tidak diundang. Kalau sudah begitu, aku tak bisa merampok di loteng. Baru pertengahan naik tangga, aku sudah tak bisa bergerak lagi. Aku bahkan tak yakin dokter-dokter yang masih muda paham apa obat yang ampuh untuk penyakit macam ini.”

“Saya juga. Saya sudah menghabiskan ribuan dolar, tetapi tidak sembuh-sembuh juga. Apa bengkakmu masih sering kambuh?”

“Pagi-pagi. Dan… ah, kalau mau hujan, ya Tuhan.”

“Saya pun,” timpal Si Penghuni. “Saya selalu tahu kalau udara dari Florida ke New York berubah lembap sedikit saja… anggaplah perubahannya cuma sebesar serbet. Jika saya lewat di depan teater dan ada pertunjukan East Lynne siang-siang, rasa lembap itu mulai merambat dari lengan kiri saya, lalu tiba-tiba menerkam seperti serangan sakit gigi.”

“Rasa sakit yang sebenar-benarnya! Celaka dua belas!” pekik Sang Maling.

“Benar. Kau benar sekali,” jawab Si Penghuni.

Sang Maling menatap lurus ke bawah, pada pistolnya, dan mendorongnya perlahan kembali ke dalam saku. Mulanya canggung, tetapi selanjutnya mudah saja.

“Katakan, Tuan,” sahut Sang Maling tegang, “apakah kau pernah mencoba plester opodeldoc?”

“Berlepotan! Rasanya seperti menggosok kulit dengan mentega restoran,” Si Penghuni memekik jijik.

“Oh, tentu saja. Obat itu cocok dengan Minnie, waktu jari dia dicakar kucing. Eh, tapi kuberitahu, ya. Kami memutuskan tidak memakai obat itu. Hanya ada satu barang yang meredakan sakitnya. Kau tahu apa? Ada sebuah obat tua, kecil, tetapi ampuh, selalu kita ingat, dan membikin candu. Anggaplah… tunggu sebentar… misi-misi… kau ganti bajulah. Kita keluar sebentar, kita minum. Biar kita bisa terbebas sedi—ADUH! Barusan sakitnya datang lagi!”

“Saya sempat tak bisa berpakaian tanpa dibantu selama seminggu. Jangan-jangan Thomas sudah tidur, dan….”

“Kabur diam-diam,” celetuk Sang Maling. “Sini, kubantu kau berpakaian.”

Sikap Si Penghuni yang tadinya resmi kini sepenuhnya rileks. Dia mengusap janggut cokelat-kelabunya.

“Betul-betul aneh, kok….” ____ O. Henry.

“Ini kemejamu,” kata Sang Maling, “tadi jatuh. Aku tahu seseorang yang bilang bahwa salep Omberry bisa menyembuhkan tangannya. Dalam dua minggu saja, dia sudah bisa menyimpul dasinya lagi. Dengan dua tangan, tentunya.”

Mereka sudah hampir mencapai pintu, ketika Si Penghuni tiba-tiba berbalik, bergegas kembali menuju lacinya.

“Sepertinya uang saya ketinggalan,” katanya, “semalam saya taruh di laci.”

Sang Maling bergegas merengkuh lengan kanan Si Penghuni.

“Ayolah,” sahutnya tanpa basa-basi, “Kumohon, tinggalkan duitnya di situ saja. Aku yang traktir. Omong-omong, pernahkah kau mencoba pucuk penyihir dan minyak gandapura?”


***

Tentang O. Henry

O. Henry alias William Sydney Porter (Greensboro/Amerika Serikat, 11 September 1862—5 Juni 1910) adalah penulis cerita pendek yang sangat produktif pada awal abad ke-20. Selain menulis, dia juga pernah bekerja sebagai apoteker, wartawan, dan karyawan bank. Pernah dipenjara selama lima tahun karena kasus penggelapan uang nasabah. Pengalamannya menjadi apoteker di penjara, ditambah riwayat masa kecil dan mudanya yang sudah akrab dengan obat-obatan (ayahnya, Algernon Sidney Porter, adalah dokter), turut berpengaruh dalam karya-karyanya yang kerap menggunakan alusi farmasetika. Sebagian besar karyanya baru dipublikasikan setelah dia meninggal pada usia 47 tahun karena komplikasi berbagai penyakit. Namanya sekarang diabadikan sebagai nama salah satu penghargaan, PEN/O. Henry Prize Stories, untuk cerita pendek berbahasa Inggris terbaik yang terbit di majalah Amerika Serikat dan Kanada dalam kurun satu tahun. Makes The Whole World Kin dimuat dalam salah satu antologinya, Sixes and Sevens, yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1911.



tag: 

Baca Juga

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.