Pembedaan Alur Berdasarkan Kriteria Kepadatan/Kualitas dalam Karya Fiksi

Admin
Pembedaan Alur Berdasarkan Kriteria Kepadatan/Kualitas dalam Karya Fiksi



Pembedaan Alur Berdasarkan Kriteria Kepadatan/Kualitas dalam Karya Fiksi

Dengan kriteria kepadatan dimaksudkan sebagai padat atau tidaknya pengembangan dan perkembangan cerita pada sebuah karya fiksi. Peristiwa demi peristiwa yang dikisahkan mungkin berlangsung susul-menyusul secara cepat, tetapi mungkin sebaliknya. Keadaan pertama digolongkan sebagai karya yang beralur padat, rapat, sedangkan yang kedua beralur longgar, renggang.

Pada cerkan yang beralur padat, cerita disajikan secara tepat, peristiwa-peristiwa fungsional terjadi susul-menyusul dengan cepat, hubungan antarperistiwa juga terjalin secara erat, dan pembaca seolah-olah selalu dipaksa untuk terus-menerus mengikutinya. Antara peristiwa yang satu dengan yang lain—yang berkadar fungsional tinggi—tidak dapat dipisahkan atau dihilangkan salah satunya. 

Sebaliknya, pada cerkan yang beralur longgar, pergantian peristiwa demi peristiwa penting berlangsung lambat di samping hubungan antar peristiwa tersebut pun tidaklah erat benar. Artinya, antara peristiwa penting yang satu dengan yang lain diselai oleh berbagai peristiwa “tambahan”, atau berbagai pelukisan tertentu seperti penyituasian latar dan suasana, yang kesemuanya itu dapat memperlambat ketegangan cerita. Dalam kaitan ini pengarang sengaja memanfaatkan apa yang disebut digresi.

Digresi (lanturan) menyaran pada pengertian penyimpangan dari tema pokok sekadar untuk mempercantik cerita dengan unsur-unsur yang tidak langsung berkaitan dengan tema. Contoh: di dalam novel Royan Revolusi karya Ramadhan K.H. terdapat digresi yang cukup banyak. Digresi tersebut berupa peristiwa-peristiwa yang kurang memiliki keterkaitan dengan cerita uta- ma.

Peristiwa tersebut antara lain, yaitu peristiwa kematian ibu Idrus saat Idrus berada di luar negeri (hlm.118—121). Peristiwa berikutnya adalah perjalanan Idrus ke beberapa tempat di Eropa dan pertemuannya dengan beberapa orang di dalam kereta (hlm. 122—124). Peristiwa pertemuan Idrus dengan seorang gadis Ero- pa bernama Eya Kuusela. Selama di Eropa, gadis tersebut sempat mengisi kekosongan hati Idrus. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena hubungan kasih di antara keduanya terputus. Hubungan mereka putus karena Eya Kuusela tidak mau diajak ke Indonesia. 

Peristiwa-peristiwa yang merupakan degresi tersebut seandainya dilepas dari alur cerita sebenarnya tidak menggangu jalan cerita. Dalam arti, jalan cerita tidak akan rusak dan tetap berjalan dengan baik.
To Top
close