Pengertian Latar dalam Karya Fiksi - Linkkoe My Id
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
Cuan Setiap Hari
Mau dapat uang setiap hari tanpa ribet, silakan kunjungi web ini
KlikUang.com

Gadis Cantik Ini Open BO
Hanya karena ekonomi, Gadis cantik ini rela menjual tubuhnya demi rupiah
VideoXxx.com

Pengertian Latar dalam Karya Fiksi

Pengertian Latar dalam Karya Fiksi


Latar dalam Karya Fiksi


1. Pengertian Latar dalam Karya Fiksi

Latar dapat dikatakan sebagai segala hal yang melingkungi atau melatarbelakangi tokoh cerita. Stanton (2007:36) mengatakan latar ada- lah lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita, semesta yang berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung. Dikatakan oleh Abrams (1979:284-285) bahwa latar atau setting yang disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa- peristiwa yang diceritakan. Latar pun bukanlah hanya sekadar pelukisan waktu dan tempat. Suatu adegan sedih akan lebih terasa bila didukung oleh lukisan suasana seperti awan mendung, kesunyian dan sebagainya.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa latar adalah segala sesuatu yang melingkungi diri para tokoh, seperti tempat, waktu, dan lingkungan sosial/suasana. Latar tempat berkaitan dengan lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Latar waktu berkaitan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa-per- istiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Latar sosial berkaitan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Latar dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, dan lain-lain.

Latar sebagai dasar berpijaknya sebuah cerita kadang-kadang da- pat memengaruhi alur, penokohan, dan tema. Latar dapat membentuk suasana emosional tokoh cerita, misalnya cuaca yang ada di lingkungan tokoh memberi pengaruh terhadap perasaan tokoh cerita tersebut.

2. Unsur-unsur Latar

Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu tem- pat, waktu, dan sosial. Ketiga unsur ini walau masing-masing menawar- kan permasalahan yang berbeda dan dapat dibicarakan secara sendiri, pada kenyataannya saling berkaitan dan saling memengaruhi satu dengan yang lainnya.

Nurgiyantoro (2010:218) mengatakan bahwa ketika membaca sebuah cerkan, akan ditemukan lokasi tertentu, seperti nama kota, desa, jalan, di samping itu juga ditemukan waktu seperti tahun, tanggal, pagi, siang, pukul, saat hujan gerimis. Latar tempat, berhubung secara jelas menyaran pada lokasi tertentu dapat disebut sebagai latar fisik. Latar yang berhubungan dengan waktu tampaknya juga dapat dikategorikan sebagai latar fisik sebab ia juga dapat menyaran pada saat tertentu secara jelas. Latar dalam cerkan tidak terbatas pada penempatan lokasi-lokasi tertentu, atau suatu yang bersifat fisik saja, melainkan juga yang ber- wujud tata cara, adat istiadat, kepercayaan, dan nilai-nilai yang berlaku di tempat yang bersangkutan. Hal-hal yang disebut terakhir inilah yang disebut sebagai latar spiritual. Jadi, latar spiritual adalah nilai-nilai yang melingkup dan dimiliki oleh latar fisik. Berikut contoh hal tersebut.

Hari ini aku (Siti Walidah/Nyai Ahmad Dahlan) diajak Ibu melihat suasana padusan yang biasa dilakukan warga men- jelang masuknya bulan puasa. Aku sudah ikut puasa Rama- dhan dari tahun-tahun sebelumnya, tapi tidak pernah ikut padusan. Baru setelah berumur 11 tahun inilah aku melihat langsung (Sang Pencerah, hlm. 93).

Kutipan di atas diambil dari novel “Sang Pencerah” karya Ak- mal Nasery Basral. Melalui kutipan di atas terlihat salah satu adat-istia- dat yang ada pada masyarakat Jawa, yaitu ‘padusan’ yang dilaksanakan menjelang puasa Ramadhan. Padusan adalah mandi suci yang merupa- kan bagian dari ‘ruwatan’ (upacara membebaskan orang dari nasib buruk yang akan menimpa).

Latar sebuah karya fiksi barangkali hanya latar yang sekadar latar. Misalnya, sebuah nama tempat hanya sekadar sebagai tempat terjadinya peristiwa yang diceritakan, tidak lebih dari itu jika disebutkan sebuah kota, misalnya Yogyakarta, ia sekadar sebagai kota yang mungkin diser- tai dengan sifat umum sebuah kota. Latar sebuah karya yang hanya bersi- fat demikian disebut sebagai latar netral. Latar netral tidak memiliki dan tidak mendeskripsikan sifat khas tertentu yang terdapat dalam sebuah latar, sesuatu yang justru dapat membedakannya dengan latar-latar lain. Contoh latar netral:

Tiga tahun lalu, di tahun 1945, ketika kami mulai bergerak dari timur untuk menempati wilayah segitiga Gunung Slamet-Gunung Ceremai-Muara Citandui, kukira jumlah kami lebih dari seribu orang. Dan satuan kecil yang mendapat perintah menempati sek- tor hutan di wilayah utara Cilacap sampai ke perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat, ada dua ratus orang lebih.……

Ada yang tertangkap atau mati dalam pertempuran, atau, minta bergabung dengan induk pasukan yang lebih kuat, yang berop- erasi di sebelah barat Sungai Citandui. Lainnya, dan inilah jum- lah yang terbesar, diam-diam meloloskan diri dan meyerang ke Sumatra lewat Pelabuhan Cirebon (Lingkar anah Lingkar Air, hlm.15).

Kutipan di atas diambil dari novel “Lingkar Tanah Lingkar Air” karya Ahmad Tohari. Melalui kutipan di atas terlihat bahwa penyebutan gunung, sungai, pelabuhan, dan beberapa daerah seperti Cilacap, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatra merupakan nama beberapa tempat yang hanya sekadar sebagai tempat terjadinya peristiwa yang diceritakan. La- tar tersebut tidak mendeskripsikan sifat khas tertentu dari sebuah latar.

Latar tipikal di pihak lain, memiliki dan menonjolkan sifat khas tertentu, baik yang menyangkut unsur tempat, waktu, maupun sosial. Jika membaca “Para Priyayi” karya Umar Khayam, misalnya, akan dirasa- kan dominannya lingkungan sosial masyarakat Jawa, hanya masyarakat Jawa tidak dapat untuk masyarakat lain. Contoh:

Wanagalih adalah sebuah ibu kota kabupaten. Meskipun kota itu suatu ibu kota lama yang hadir sejak pertengahan abad ke- 19, kota itu tampak kecil dan begitu-begitu saja (Para Priyayi, hlm. 1).

Nama saya Lantip. Ah, tidak. Nama saya yang asli sangatlah dusun, ndeso. Wage. Nama itu diberikan, menurut embok saya karena saya dilahirkan pada hari Sabtu Wage. Nama Lantip itu saya dapat kemudian waktu saya mulai tinggal di rumah keluarga Sastrodarsono. Di Jalan Satenan, di kota Wanagalih (Para Priyayi, hlm.10)

Desa-desa di sekitar Wanagalih memang terkenal akan tem- penya yang enak. Hingga sekarang pun tempe Wanagalih me- mang terkenal di seluruh Jawa Timur (Para Priyayi, hlm.12).

Tiga kutipan di atas diambil dari novel “Para Priyayi”. Kutipan tersebut menunjukkan adanya latar tipikal. Dikatakan tipikal karena ka- lau dilihat dari latar waktu, tempat maupun sosial yang tergambar pada novel tersebut menunjukkan ciri khas daerah Jawa (Jawa Timur). Dilihat dari latar sosial, misalnya, pemilihan nama seorang anak yang berasal dari kelas bawah (wong cilik) biasanya dikaitkan dengan hari kelahiran. Dalam budaya Jawa ada dua kelas masyarakat, yaitu ‘wong cilik’ dan ‘priyayi’. Oleh karena itu, nama seseorang dapat menjelaskan status kelasnya. Nama tokoh Wage menunjukkan asal tokoh yang berasal dari kelas bawah (wong cilik), sedangkan Sastrodarsono menunjukkan status tokoh yang berasal dari masyarakat kelas menengah-atas (priyayi). Latar tipikal sosial dalam novel “Para Priyayi” juga tampak dari bahasa yang digunakan. Istilah bahasa Jawa banyak dijumpai dalam novel tersebut, misalnya: abdi dalem, memayu hayuning bawana, wedang cemoe, tem- puran, kungkum, anggarakasih, bedol, misuh, gempi, wedok, somah. Selain itu, latar tempat Wanagalih merupakan sebuah ibu kota kabupaten yang hadir sejak pertengahan abad ke-19. Wanagalih memiliki kekhasan, yaitu penghasil tempe yang enak dan terkenal di seluruh Jawa Timur.

Pengasihan Ampuh
Sekali Baca, Perempuan yang Kamu Cintai Pasti Tergila-Gila
pengasihanampuh.com

Bitcoin Mining Free
Just register, enjoy mining and withdraw BTC $12 every day
autofaucet.org

Pengasihan Terampuh
Doanya pendek, tapi khasiatnya luar biasa, cukup 3 kali baca, dia pasti tergila-gila.
doapengasihan.id

close