Hakikat Ontologi dalam Cabang Filsafat Ilmu - Linkkoe My Id
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hakikat Ontologi dalam Cabang Filsafat Ilmu

Hakikat Ontologi dalam Cabang Filsafat Ilmu



Ontologi yaitu cabang filsafat ilmu yang membicarakan tentang hakikat ilmu pengetahuan. Noeng Muhadjir (2011) menjelaskan bahwa ontologi itu ilmu yang membicarakan tentang the being; yang dibahas ontologi yaitu hakikat realitas. Dalam penelitian kuantitatif, realitas tampil dalam bentuk jumlah. Adapun dalam penelitian kualitatif, ontologi muncul dalam bentuk aliran, misalnya idealisme, rasionalisme, materialisme. Keterkaitan antara penelitian kuantitatif dan kualitatif memang tidak perlu diragukan. Jadi, ontologi itu yaitu ilmu yang membahas seluk-beluk ilmu.

Secara etimologi ilmu dalam bahasa Inggris berarti science. Pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa Inggris, yaitu knowledge. Dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan bahwa definisi pengetahuan yaitu kepercayaan yang benar (knowledge is justiied true belief). Ontologi itu ilmu yang menelusuri tentang hakikat ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan adalah keberadaan suatu fenomena kehidupan yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Ontologi merupakan salah satu di antara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Awal pemikiran Yunani telah menunjukkan munculnya perenungan di bidang ontologi. Dalam ontologi orang menghadapi persoalan bagaimanakah kita menerangkan hakikat dan segala yang ada. Pertama kali orang dihadapkan pada persoalan materi (kebenaran), dan kedua pada kenyataan yang berupa rohani (kejiwaan). Kedua realitas ini, yaitu lahir dan batin, merupakan hakikat keilmuan manusia. Manusia memiliki dua sumber ilmu, yaitu (1) ilmu lahir yang kasat mata dan bersifat observable, tangible; dan (2) ilmu batin, metafisik yang tidak kasat mata.

Pembicaraan tentang hakikat sangatlah luas, yaitu segala yang ada dan yang mungkin ada. Hakikat yaitu realitas, artinya kenyataan yang sebenarnya. Pembahasan tentang ontologi sebagai dasar ilmu berusaha untuk menjawab pertanyaan "apa itu ada" yang menurut Aristoteles merupakan the first philosophy dan merupakan ilmu mengenai esensi benda-benda (sesuatu). Sebenarnya bukan sekadar benda yang penting, melainkan fenomena di jagat raya ini, apa dan mengapa ada. Di alam semesta ini, kalau direnungkan banyak hal yang menimbulkan tanda tanya besar.

Selanjutnya dikatakan Muhadjir, pengertian ontologi menurut bahasa berasal dari bahasa Yunani, yaitu ontos = being atau ada, dan logos = ilmu. Jadi, ontologi adalah the theory of being as being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan). Atau bisa juga disebut sebagai ilmu tentang yang ada atau keberadaan itu sendiri. Maksudnya, satu pemikiran filsafat selalu diandaikan berasal dari kenyataan tertentu yang bersifat ada atau yang sejauh bisa diadakan oleh kegiatan manusia. Tegasnya, bila suatu pemikiran tidak merniliki keberadaan (landasan ontologi) atau tidak mungkin pula untuk diadakan, maka pikiran itu hanya berupa khayalan, dorongan perasaan subjektif, atau kesesatan berpikir yang dapat ditolak atau disangkal kebenarannya. Hakikat ada atau realitas ada itu, bagi filsafat, selalu bersifat utuh (eksistensial). Misalnya, bila secara ilmu hukum kita berpikir tentang kebenaran atau keadilan, maka dapat ditunjukkan bahwa kebenaran atau keadilan itu ada atau bisa diadakan dalam hidup manusia sehingga bisa dibuktikan atau ditolak (disangkal) kebenarannya. Konsekuensinya, bila berpikir tentang Tuhan atau jiwa maka sekurang-kurangnya harus dapat dibuktikan atau ditunjukkan bahwa Tuhan atau jiwa itu ada, bila tidak maka pikiran itu hanya berupa suatu ide kosong atau khayalan yang mudah ditolak kebenarannya. Realitas ontologis itulah yang menjadi dasar pemikiran hukum, teologi, atau psikologi, sehingga pemikiran hukum, teologi, atau psikologi ini bisa dibuktikan dan didukung (diafirmasi) atau difalsifikasikan (ditolak), atau disingkirkan (dinegasi). Realitas ada yang menjadi objek pemikiran dan pembuktian suatu pemikiran filsafat selalu dipahami sebagai suatu kenyataan yang utuh, sempurna, dan dinamis, baik dari sisi materi maupun rohani, atas-bawah, hitam-putih, dan sebagainya. Ontologi terbagi atas dua, yaitu ontologi umum yang disebut metafisika, dan ontologi khusus seperti kosmologi, theodice, dan sebagainya.

Heidegger (2006) mengatakan, istilah ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada 1936 M, untuk menamai hakikat yang ada bersifat metafisis. Dalam perkembangannya, Christian Wolf (1679-1754) membagi metafisika menjadi dua, yaitu metafisika umum dan khusus. Metafisika umum yaitu istilah lain dari ontologi. Dengan demikian, metafisika atau ontologi yaitu cabang filsafat yang membahas tentang prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada. Adapun metafisika khusus masih terbagi menjadi kosmologi, psikologi dan teologi. Ontologi cenderung dekat dengan metafisika, yaitu ilmu tentang keberadaan di balik yang ada.

Dua pengertian ini merambah ke dunia hakikat suatu ilmu. Ontologi membahas masalah ada dan tiada. Ilmu itu ada, tentu ada asal mulanya. Ilmu itu ada yang tampak dan ada yang tidak tampak. Dengan berpikir ontologi, manusia akan memahami tentang eksistensi suatu ilmu. Menurut Heidegger eksistensi membicarakan masalah ada, misalnya cara manusia ada. Manusia ada ketika dia sadar diri, pada saat memahami tentang “aku”. Ada semacam ini menjadi wilayah garapan ontologi keilmuan.

Objek yang menjadi kajian dalam ontologi ini yaitu realitas yang ada. Ontologi yaitu studi tentang yang ada secara universal, dengan mencari pemikiran semesta universal. Ontologi berusaha mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan atau menjelaskan yang ada dalam setiap bentuknya. Jadi, ontologi merupakan studi yang terdalam dan setiap hakikat kenyataan, misalnya (a) dapatkah manusia sungguh-sungguh memilih sesuatu?, (b) apakah ada Tuhan di dunia ini?, (c) apakah nyata dalam hakikat material atau spiritual, (d) apakah jiwa sungguh dapat dibedakan dengan badan?, (e) apakah hidup dan mati itu?, dan sebagainya.

Jadi, ilmu pengetahuan merupakan usaha manusia dan proses berpikir kritis, Akal budi manusia yang melahirkan ilmu pengetahuan. Dalam fenomena hidup yang sangat sederhana pun akan terkait dengan ilmu pengetahuan. Orang yang gemar memelihara belut pun butuh ilmu pengetahuan. Orang yang gemar memelihara ular pun begitu. Tidak ada satu pun fenomena yang lepas dan ilmu pengetahuan. Maka, di jagat perguruan tinggi sudah lahir sekian banyak cabang ilmu pengetahuan yang mungkin kita tidak begitu mengenal. Pemikiran keilmuan bukanlah suatu pemikiran biasa. Pemikiran keilmuan yaitu pemikiran yang sungguh-sungguh, suatu cara berpikir yang penuh kedisiplinan. Seorang pemikir ilmuwan tidak akan membiarkan ide dan konsep yang sedang dipikirkannya berkelana tanpa arah, namun semuanya itu akan diarahkannya pada suatu tujuan tertentu, yaitu pengetahuan. Jadi, berpikir keilmuan secara filosofis, yaitu: (a) berpikir sungguh-sungguh; (b) disiplin; (c) metodis; dan (d) terarah kepada pengetahuan. Berpikir keilmuan, secara filosofis, karenanya hendak mengatasi kekeliruan dan kesesatan pikir serta mempertahankan pemikiran yang benar terhadap kekuatan fantasi. (*)

Referensi;

Dr. Raja Oloan Tumanggor, Carolus Sudaryanto, Pengantar Filsafat untuk Psikologi, PT. Kanisius, 2017, Yogyakarta