Penjelasan Lebih Lanjut tentang Plot atau Alur Cerita dalam Prosa Fiksi

Admin
plot, alur cerita, plot cerita pendek



Alur cerita merupakan hal yang tidak bisa dipandang remeh dalam kajian fiksi. Penguasaan akan alur menjadi kunci PENTING karena hanya melalui alurlah, peristiwa dapat dirunut dan hubungan antartokoh dapat ditelusuri lebih intensif. Alur sendiri secara umum dipahami sebagai keseluruhan rangkaian peristiwa yang terdapat dalam cerita. Sedangkan Laxemburg dalam Zainuddin Fanani menyebut alur sebagai konstruksi yang dibuat pembaca mengenai deretan peristiwa yang secara logis dan kronologis saling berkaitan dan diakibatkan dan dialami oleh para pelaku.

Struktur alur, secara tradisional sebagaimana dikemukakan oleh Petronius mencakup tiga bagian penting (a) exposition (setting forth of the beginning), (b) conflict (a complication that moves to climax), dan (c) denouement (literally, “unknotting”, the outcome of the conflict; the resolution).

Kemudian oleh Aristoteles rangkaian peristiwa yang membangun plot merupakan sekuen rangkaian peristiwa yang berkaitan. Demikian juga Crane, yang memberikan pandangan lain bahwa pemahaman terhadap alur harus didasarkan pada keterkaitannya dengan elemen lain seperti karakter, diksi, maupun proses naratifnya. Lebih dari itu, hubungan peristiwa yang ada di dalam sebuah cerita fiksi harus diletakkan dalam rangkaian sekuen kausalitas hubungan sebab akibat, hubungan perkembangan karakter pelaku, hubungan dengan latar, dan penempatan atau penyusunan dari rangkaian peristiwa itu sendiri yang dalam formulasi Culler disebutnya dengan sequences of actions.

Ragam pandangan tentang apa yang dimaksud hakikat dan fungsi plot (alur) di atas, menggambarkan bagaimana rumitnya kegiatan (kajian) analisis plot. Crane kemudian mengusulkan adanya tiga prinsip utama dalam analisis plot, yakni: (a) plot of action, (b) plot of character, dan (c) plots of thought. Plot of action, mencakup analisis proses perubahan peristiwa secara lengkap baik yang muncul secara bertahap maupun mendadak pada situasi yang dihadapi oleh tokoh utama. Demikian juga, analisis ini mencakup sejauhmana urutan peristiwa yang dianggap sudah tertulis berpengaruh terhadap perilaku dan pemikiran tokoh yang bersangkutan dalam menghadapi situasi.

Plot of character, mencakup proses perubahan perilaku atau moralitas secara lengkap dari tokoh utama kaitannya dengan tindakan emosi dan perasaan. Sedangkan, plot of thought merujuk pada proses perubahan secara lengkap kaitannya dengan perubahan pemikiran tokoh utama dengan segala konsekuensinya berdasarkan kondisi yang secara langsung dihadapi.

Sedangkan untuk mengidentifikasi plot-plot sebagaimana disarankan Crane, dapatlah ditinjau dari beberapa paramater yang dikemukakannya: (1) Memprediksi bentuk dari tanda-tanda yang terdapat dalam karya fiksi dengan melihat ciri-ciri moral dan hal-hal yang ditinggalkan tokoh sebagai hasil dari kegairahannya dalam menghadapi peristiwa, baik hal itu pada akhirnya maupun yang memberikan keuntungan yang baik atau tidaknya; (2) Menilai bagaimana kesamaan ragam peristiwa alami yang secara aktual menimpa tokoh cerita atau kelihatan seperti menimpa dirinya sendiri, baik hal tersebut mempunyai konsekuensi menyakitkan atau menyenangkan seperti halnya peristiwa yang mampu membuat tokoh menjadi besar atau sebaliknya baik secara tetap atau temporer; (3) Membuat gambaran yang berkaitan dengan tingkat tanggungjawab tokoh cerita terhadap apa yang terjadi padanya, baik yang berkaitan dengan masalah-masalah kecil maupun besar, yang didasarkan pada aktivitas yang dilakukan termasuk kesalahan- kesalahan yang diperbuat.

Adapun jenis-jenis plot dapat dikategorikan ke dalam kriteria urutan waktu, jumlah, dan kepadatannya. Pengelompokkan yang didasarkan pada urutan waktu membedakan ke dalam dua kategori utama (a) plot kronologis, dan (b) plot tak kronologis. Plot kronologis ini sering juga disebut dengan plot lurus, mau, atau plot progresif. Sedangkan, plot tak kronologis disebut juga dengan plot sorot-balik, mundur, flash-back, dan regresif.

Yang dimaksud dengan plot progresif jika peristiwa-peristiwa yang dikisahkan itu bersifat kronologis. Artinya, peristiwa pertama yang diikuti oleh peristiwa-peristiwa selanjutnya, runtut dari tahap awal, tengah, dan akhir. Tahap awal mencakup bagaimana penyituasian, pengenalan, dan pemunculan konflik. Sedangkan, tahap tengah mencakup konflik yang mulai meningkat, kemudian membangun klimaks. Sedangkan tahap akhir, mengarah pada bagaimana penyelesaikan konflik dan persoalan yang dimunculkan dalam cerita fiksi.

Sedangkan plot regresif, menggambarkan bagaimana urutan kejadian yang dikisahkannya tidak bersifat kronologis. Artinya, cerita itu diawali dengan konflik (klimaks), kemudian baru bagian-bagian penyelesaian-nya yang bisa berangkat dari tahap awal cerita.

Di samping kedua jenis alur (plot) itu masih dikenal apa yang sering disebut dengan plot campuran. Pencampuran gaya cerita (alur) digunakan pengarang bisa “saling tindih” dan seringkali tampak rumit ketika dibaca. Memang, bisa jadi dalam sebuah cerita fiksi tidak menggunakan gaya kronologis saja, tetapi juga memadukan pada bagian-bagian lain dengan teknik sorot balik.

Di samping itu, kita masih mengenal pembedaan plot yang didasarkan pada jumlah, yang melahirkan pengelompokkan plot ke dalam (a) plot tunggal dan (b) plot-subplot. Pembedakan plot yang didasarkan pada kriteria kepadatan melahirkan pembedaan ke dalam (a) plot padat dan (b) plot longgar. Sedangkan pembedakan plot yang didasarkan pada kriteria isi melahirkan (a) plot peruntungan (plot of fortune), (b) plot tokohan (plot of character), dan (c) plot pemikiran (plot of thought).

Plot peruntungan berkaitan dengan cerita yang mengungkapkan nasib, peruntungan, yang menimpa tokoh cerita yang bersangkutan. Manusia memang sering dipermainkan oleh nasib. Lebih rinci Friedman, mengelompokkan plot peruntungan ini ke dalam klasifikasi berikut: (i) plot gerak (action plot), (ii) plot sedih (pathetic plot), (iii) plot tragis (tragic plot), (iv) plot penghukuman (punitive plot), (v) plot sentimental (sentimental plot), dan (vi) plot kekaguman (administration plot).

Sedangkan plot tokohan merujuk pada sifat pementingan tokoh, tokoh ini yang menjadi fokus perhatian. Karena itu, plot tokohan ini lebih menyorotkan perhatian pada keadaan tokoh daripada peristiwa-peristiwa yang melatarinya atau yang berurusan dengan pemplotan. Selanjutnya, Friedman, mengklasifikasikan plot tokohan ini ke dalam (i) plot pendewasaan (maturing plot), (ii) plot pembentukan (reform plot), (iii) plot pengujian (testing plot), dan (iv) plot kemunduran (degeneration plot).

Yang terakhir plot pemikiran mengungkapkan apa (sesuatu) yang menjadi bahan pemikiran, keinginan, perasaan, berbagai macam obsesi, dan lain-lain yang menjadi permasalahan hidup dan kehidupan manusia. Selanjutnya Friedman membedakan plot pemikiran ini ke dalam (i) plot pendidikan (education plot), (ii) plot pembuka rahasia (revelation plot), (iii) plot afektif (afective plot), dan (iv) plot kekecewaan (disillusionment plot).


To Top
close