Sudut Pandang atau Point of View dalam Karya Prosa Fiksi

Admin
sudut pandang cerpen, point of view cerpen,








Yang dimaksud dengan sudut pandang (point of view) ialah sebuah cara cerita itu dikisahkan. Ia merupakan cara atau pandangan yang diperguna- kan pengarang sebagai sarana menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi. Sudut pandang oleh Stevik disamakan dengan apa yang disebutnya dengan pusat pengisahan (focus of narration). Bahkan, Gennette mengusulkan istilah lain: fokalisasi (focalisation).

Burhan Nugiyantoro membedakan sudut pengisahan ini ke dalam dua kategori: persona pertama, first-person, gaya ber-”aku”, dan pesona ketiga, third-person, gaya ber-”dia”. Macam sudut pandang, selanjutnya dikelompokkan ke dalam dua kelompok. Pertama, sudut pandang persona ketiga: “Dia”, yakni cara pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang persona ketiga, “gaya dia”, narator adalah seseorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata gantinya; ia, dia, mereka. Sudut pandang dia, dapat dibedakan lagi ke dalam “dia” yang serba tahu, dan “dia” yang bersifat terbatas –selaku pengamat saja--.

Dia yang mahatahu, dalam literatur bahasa Inggris dikenal dengan istilah-istilah seperti the omniscient point of view, third-person omniscient, the omniscient narrator, atau autor omnisvient. Narator mengetahui segala-galanya berkaitan dengan banyak hal yang dialami para tokohnya. Teknik mahatahu, tak hanya mampu melapor dan mengomentari dan menilai secara bebas dengan penuh otoritas, seolah-olah tak ada satu rahasia pun tentang tokoh yang tidak diketahuinya. Ia dapat memasukkan berbagai informasi tanpa harus menerangkan cara memperolehnya. Ia dapat bergerak ke seluruh “arena” untuk memberikan kepada pembaca detil-detil cerita secara lengkap seperti gambar tiga dimensi.

“Dia” Terbatas, dia sebagai pengamat, pengarang melukiskan apa yang dilihat, didengar, dialami, dipikir, dan dirasakan oleh tokoh cerita, tetapi terbatas pada seorang tokoh saja.53 Dalam bahasa Abrams, terbatas dalam jumlah yang sangat terbatas. Tokoh dalam sebuah cerita fiksi cukup banyak, yang juga termasuk tokoh “dia”, namun mereka tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan sosok dirinya seperti halnya tokoh utama. Pada sudut pandangan ini, memang hanya terdapat seorang tokoh terseleksi untuk diungkap sehingga tokoh tersebut merupakan fokus, pusat kesadaran, cermin persoalan, center of consciousness.

Selanjutnya, dalam gaya sudut pandang yang berdia terbatas ini sering juga dipergunakan teknik narasi aliran kesadaran, stream of consiousness dengan menyajikan kepada pembaca pengamatan-pengamatan luar yang berpengaruh terhadap pikiran, ingatan, dan perasaan yang membentuk kesadaran total pengamatan. Gaya bercerita semacam ini, cenderung bersifat objektif sehingga sering disebut dengan objective point of view atau objective narration. Tugas seorang pengarang dalam teknik bercerita ini ialah narator sebagai pengamat, obsever. Karena itu, hanya melaporkan sesuatu yang dialami oleh para tokohnya. Sudut padang berdia seringkali disebut dengan sudut pandang eksternal, sedangkan beraku sebagai narator bersifat internal.

Sudut pandang persona pertama “Aku”. Sudut pandang kepengarangan Aku mengisahkan berbagai peristiwa dan tingkah laku yang dialaminya, baik itu yang bersifat batiniah (psikologis) dalam diri, fisik, maupun hubungannya dengan sesuatu di luar dirinya. Si aku menjadi sentral persoalan, sentral cerita. Gaya demikian, mendudukkan si aku sebagai pelaku protagonis, sehingga memungkinkan pembaca benar-benar merasa terlibat untuk mengidentifikasi ke dalam lakuan, sikap, dan kepribadian tokoh aku.

Sedangkan “aku” tokoh tambahan, mendudukkan aku bukan sebagai tokoh utama, melainkan sebagai tokoh tambahan saja. Tokoh aku dalam gaya pengisahan ini bertugas membawakan cerita kepada pembaca, sedangkan tokoh cerita yang yang dikisahkan itu kemudian diberi kesempatan untuk mengisahkan sendiri berbagai pengalamannya, biasanya melalui dialog, monolog, maupun lamunan.

Tidak jarang juga pengarang menggunakan cara pengisahan dengan jalan memilih teknik campuran. Penggunaannya mungkin berupa sudut pandang persona ketiga dengan teknik aku sebagai tokoh utamanya dan aku tambahan. Atau bisa jadi: dengan menggunakan gaya beraku dan berdia sekaligus.

Sudut pandang dalam kisahan fiksi, tampaknya memegang peranan penting. Sebab, sebagaimana dikemukakan Genette, bahwasanya seorang pengarang sebelum menuliskan karya fiksi terlebih dahulu harus menentukan sudut pandang yang telah dipilihnya. Ia harus telah mengambil pilihan terhadap sudut pandang tertentu. Hal ini, tidak sekedar pemilihan gaya tetapi juga pemilihan bentuk-bentuk gramatika dan retorika ikut menentukan yang sangat berpengaruh di dalamnya.Karena, bagaimanapun pemilihan sudut pandang memiliki konsekuensi logis dalam gaya penceritaan. Di samping, secara psikologis memiliki hubungan psikologis tersendiri dengan pembaca. (*)
To Top
close