Tema dalam Karya Prosa Fiksi

Admin
karya fiksi, tema prosa, tema cerpen




Tema dalam penulisan sebuah fiksi merupakan pangejawantahan dari ide yang ditemukan oleh pengarangnya. Tema karena itu seringkali diformulasikan sebagai ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang melatarbelakangi penciptaan karya sastra (fiksi). Karena karya sastra merupakan refleksi dari kehidupan masyarakat, maka tema yang diungkapkan di dalamnya bisa sangat beragam-seberagam kejadian yang terjadi dalam masyarakat itu sendiri. Tema sendiri selanjutnya dapat berupa persoalan moral, agama, kehidupan sosial kemasyarakatan, politik, hukum, keluarga, cinta, dan masalah kehidupan yang lain.

Secara teoritik pengertian tema diformulasikan sebagai makna yang terkandung dalam sebuah cerita. Makna pokok yang menjadi dasar dari pengembangan makna-makna selanjutnya. Burhan Nurgiyantoro misalnya, mencontohkan pada novel Salah Asuhan. Untuk memperjelas posisi tema yang dimaksudkan sebagai makna oleh Robert Stanton maupun William Kennye, maka penting untuk menemukan makna-makna yang banyak terkandung di dalam karya sastra. Makna yang yang dimaksud dalam Salah Asuhan misalnya, mencakup makna penting seperti (i) masalah kawin paksa --Hanafi dipaksa kawin dengan Rafiah oleh ibunya, dengan alasan balas jasa karena ayah Rafiah telah membiayai sekolah Hanafi di samping keduanya masih sepupu; (ii) masalah penolakan “payung” (kebangsaan) sendiri --Hanafi lebih suka menjadi warga bangsa (negara) Belanda daripada tetap sebaga WNI karena hal itu dianggapnya lebih bergengsi dan mencerminkan status sosial; (iii) masalah perkawinan antarbangsa, perkawinan campuran antara Barat dan Timur --Hanafi kawin dengan Corrie, setelah sebelumnya menceraikan Rafiah, dan hal itu (ditambah dengan makna kedua) menyebabkan mereka tersisih sehingga memicu munculnya banyak masalah-konflik; dan (iv) masalah pendidikan anak yang dapat berakibat fatal --Hanafi oleh ibunya disekolahkan secara Barat, maksudnya agar lebih maju, namun ternyata ia menjadi bersikap sombong, kebarat- baratan, bahkan lebih bersikap kebarat-baratan daripada orang Barat sendiri, dan amat memandang rendah bangsa sendiri.

Untuk menentukan tema pokok dalam Salah Asuhan itu, penting dipahami apa dimaksudkan dengan tema pokok (tema). Bagi Dick Hartoko dan B. Rahmanto, tema merupakan gagasan umum yang menopang sebuah karya sastra; dan terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaannya. Di samping itu, penentuan tema juga harus mendasarkan pada pengertian bahwa kebermaknaan sebuah cerita yang secara khusus menerangkan sebagian besar unsurnya dengan cara yang sederhana.  Akhirnya, tema itu bersinonim dengan apa yang oleh Staton disebutnya dengan ide utama (central of idea) dan tujuan utama dari cerita itu sendiri (central purpose).

Tema dalam penggarapan sebuah fiksi misalnya, dapat diungkapkan melalui banyak cara: seperti dialog antartokoh, melalui konflik yang dibangun, atau melalui narasi dan komentar langsung dari pengarangnya. Di sinilah, maka seorang pengarang akan diuji berhasil tidaknya dalam menyampaikan dan mengemas tema dari upaya seleksi yang dilakukan dalam merekam kejadian di masyarakat. Dalam kehidupan mutakhir, --baik akhir kekuasaan Soeharto sampai era reformasi misalnya, yang sudah berjalan hampir tiga tahun— telah muncul empat novel yang sangat menarik menurut, yakni (i) Saman (1998) karya Ayu Utami yang menggambarkan bagaimana potret kebengisan dan kebiadaban melalui bentuk sindikasi kejahatan dan korupsi dalam pengembangan pembangunan Orde Baru, (ii) Tarian Bumi (2000) karya Oka Rusmini yang mengangkat tema sosial kemasyarakatan Bali yang sangat patriarkhis, sangat mengelasduakan wanita, dan menuhankan adat. Melalui Tarian Bumi, sepertinya, Oka Rusmini memotret dan melakukan protes dengan tema sosial-adat yang diangkatnya; (iii) Supernova (2001) karya Dewi Lestari yang memotret kehidupan mutakhir, kelas elit usahawan asing yang tidak lepas dari kasus pelacur modern dalam kemasan mutakhir, meski di sana-sini dibalut dengan filsafat, namun tak mampu mengubah stereotipe bahwa novel itu mengangkat tema sosial kehidupan manusia modern. Terakhir, Larung (2001) yang merupakan novel kelanjutan Saman Ayu Utami.

Demikian juga, ketika kita membaca cerita tragedi macam Romeo Yuliet karya Shakespeare mupun Sayap-Sayap Patahnya Kahlil Gibran, maka dapatlah dipahami kedua fiksi itu mengangkat tema berkisar pada keagungan sebuah cinta. Demikian juga banyak karya sastra fiksi Indonesia yang mengangkat tema sosial kehidupan macam (i) Burung-Burung Manyar, Burung-Burung Rantau, Romo Rahardi, Lusi Lindri (YB. Mangunwijaya); (ii) Roro Mendut, Para Priyayi, jalan Menikung (Para Priyayi 2) (karya Umar Kayam); Ronggeng Dukuh Paruk, Jantera Bianglala, Lintang Kemukus Dini Hari, Bekisar Merah, Lingkar Tanah Lingkar Air karya Ahmad Tohari; (iv) Adam Ma’rifat, Godlob, dan Asmaraloka karya Danarto, tetralogi Pamudya Ananta Toer dari Bumi Manusia, Rumah Kaca, Rumah Jendela, dan Anak Semua Bangsa dan puluhan novel lainnya; sampai (v) Kumpulan cerpen-cerpen Kompas sejak Kado Istimewa (1992) sampai Dua Tengkorak Kepala (2000) mengangkat tema-tema sosial kemanusiaan yang “populer” dengan kehidupan masyarakat.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa, tema hakikatnya merupakan gagasan dasar (umum) dalam sebuah fiksi. Dan tema inilah, dari sudut pengarang dipergunakan sebagai panutan (panduan) dalam pengembangan sebuah cerita. Sebaliknya, bagi pembaca justru harus dirunut dari keseluruhan aspek dalam cerita yang didasarkan pada komponen fiksi yang membangunnya.

Adapun penggolongan tema menurut Burhan Nurgiyantoro dibedakan ke dalam (a) tema tradisional dan nontradisional, (b) penggolongan tema yang didasarkan pada tingkat pengalaman jiwan menurut Shippley, dan (c) penggolongan tema dari tingkat keutamaannya (tema utama dan tema tambahan).

Tema tradsional dimaksudkan sebagai tema yang menunjuk pada tema yang hanya “itu-itu” saja, dalam arti ia telah lama dipergunakan dan dapat ditemukan dalam berbagai cerita. Lebih dari itu, ditambahkannya, tema tradisional biasanya dapat dinyatakan dalam pernyataan-pernyataan sebagai berikut: (i) kebenaran dan keadilan mengalahkan kejahatan, (ii) tindak kejahatan walau ditutup-tutupi akan terbongkar juga, (iii) tindak kebenaran atau kejahatan masing-masing akan memetik hasilnya, (iv) cinta yang sejati menuntut pengorbanan, (v) kawan sejati adalah kawan di masa duka, (vi) setelah menderita, orang baru teringat Tuhan, (vii) atau berakit-rakit ke hulu berenang-renang kemudian, dsb. Pendek kata, menurut Meredith dan Fitzgerald, tema tradisional itu selalu bermuara pada rentangan antara kejahatan dan kebenaran.

Sedangkan jenis tema yang didasarkan pada pengalaman kejiwaan Shipley, mengeungkapkan adanya beberapa tingkatan tema. Adapun tingkatan-tingkatan yang dimaksud mencakup tingkatan sebagai berikut:

Tema tingkat fisik (man as molecul). Tema fiksi dalam tingkat ini lebih bnayak merujuk pada banyaknya aktivitas fisik daripada kejiwaan, yang menekankan pada mobilitas fisik daripada konflik kejiwaan yang dikembang- kan dalam teks cerita.

Tema tingkat organik (man as protoplasm). Tema jenis ini, lebih mengarah pada persoalan seksualitas, suatu aktivitas yang hanya dapat dilakukan oleh makhluk hidup. Dalam banyak problema kehidupan seksual manusia mendapat penekanan dalam karya fiksi. Contoh karya fiksi yang mengangkat tema ini seperti Ombak dan Pesisir, Namaku Hiroko, Hilangnya si Anak Hilang, Pada Sebuah Kapal. Jalan Tak Ada Ujung, Senja di Jakarta, Tanah Gersang, Maut dan Cinta, dan sebagainya.

Tema tingkat sosial (manusia dipandang sebagai makhluk sosial). Man as socious. Kehidupan bermasyarakat, karena itu, merupakan wahana manusia dalam berinteraksi secara maksimal. Dalam kehidupan itulah muncul banyak konflik dan problem sosial yang seringkali diangkat oleh seorang pengarang dalam karya fiksinya. Untuk contoh karya fiksi yang mengangkat tema ini dapat disebutkan seperti Ronggeng Dukuh Paruk, Jantera Bianglala, Lintang Kemukus Dinihari, Kubah, Kemelut Hidup, Royan Revolusi, Canting, dan Para Priyayi.

Tema tingkat egoik (manusia dipandang sebagai individu, man as individualism). Persoalan individualitas inilah, seringkali juga mengilhami pengarang dalam melahirkan banyak karya fiksi. Masalah individualisme ini mencakup sikap antara lain: masalah egoisitas, martabat, harga diri, maupun sifat dan sikap tertentu yang berkaitan dengan individualitas seseorang. Novel yang mengangkat masalah (tema) ini seperti Atheis, Jalan Tak Ada Ujung, Gairah untuk Hidup dan untuk Mati, Malam Kualalumpur, dan sebagainya.

Sedangkan tingkatan tema terakhir adalah tema tingkat divine. Manusia sebagai makhluk tingkat tinggi, yang tidak semua orang dapat mencapainya. Masalah yang menonjol dalam karya fiksi demiikian mencakup bagaimana hubungan komunikasi intensif dengan Sang Khaliq-nya, dalam karya- karya inilah nilai sufistik dan religiusitas mencapai titik puncak. Sebuah pengungkapan gambaran, visi, dan dan keyakinan yang adiluhung.

Sedangkan pengelompokan yang terakhir, adalah tema mayor (tema utama) dan tema minor (tema tambahan). Yang dimaksudkan dengan tema mayor ialah tema yang menyaran sebagai makna pokok cerita yang menjadi dasar atau gagasan dasar dalam pengembangan cerita fiksi. Sedangkan makna yang hanya terdapat pada bagian-bagian tertentu (peristiwa), tema yang demikian dimaksudkan sebagai tema tambahan (minor).

Bagaimanakah cara menafsirkan tema dalam kajian fiksi? Dalam rangka melakukan kajian tematik, Robert Stanton dalam bukunya An Introduction to Fiction, mengemukakan langkah-langkah sebagai berikut:

Pertama, penafsiran sebuah tema dalam karya fiksi mestinya mempertimbang-kan setiap detail yang ada dalam cerita (utamanya yang menonjol). Parameter ini merupakan yang paling urgen. Sebab, identifikasi terhadap persoalan yang menonjol dalam cerita fiksi, umumnya menunjukkan bagaimana cerita itu dikembangkan melalui konflik-konflik yang dibangun pengarang. Karena itu, detail-detail itu akan mencakup pada pusaran masalah utama. Sebuah muara cerita yang harus diseliai dan ditelusuri secara intensif.

Kedua, penafsiran tema dalam karya fiksi mestinya tidak bersifat bertentang-an dengan tiap detail cerita. Fakta-fakta, dan peristiwa yang diangkat pengarang yang baik, tidak akan memberiktan detail yang bertentangan dan saling kontradiksi dalam menjalin kebulatan tema. Namun, pertentangan yang dikemukakan, biasanya mencakup persoalan tarik-menarik antara dua permasalahan yang justru mengukuhkan fungsionalitas tema utama.

Ketiga, penafsiran tema mestinya tidak mendasarkan pada bukti-bukti yang kurang akurat (tidak baik penyajiannya) baik langsung maupun tidak. Sebab, tema cerita memang tidak bisa hanya mendasarkan pada perkiraan pembaca saja, sebaliknya harus melalui proses kajian yang intensif.

Keempat penafsiran tema dalam karya fiksi mestinya mendasarkan pada bukti-bukti yang secara langsung ada di dalam cerita. Pamameter ini, mempertegas bahwa penetapan tema haruslah didasarkan pada bukti-bukti yang ada dalam cerita itu, baik langsung maupun tidak. Kesimpulan yang diambil karenanya tidak boleh bertentangan dengan bukti dan fakta-fakta yang ada.



To Top
close