Tokoh dalam Karya Prosa Fiksi

Admin


Tokoh dalam cerita fiksi menunjuk pada pertanyaan-pertanyaan macam “Siapakah pelaku dalam cerita fiksi itu?”, “Ada berapa tokoh dalam ceritanya?” Siapakah yang termasuk pelaku antagonis dan protagonisnya?”. Dengan demikian, pengertian tokoh merujuk pada pada aktor yang ada dalam cerita fiksi. Sedangkan penokohan, merujuk pada apa yang disebut dengan karakter atau perwatakan tokohnya. Dalam bahasa Edward H. Jones, penokohan dimaksudkan sebagai pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam cerita fiksi. Sedangkan menurut Robert Stanton, istilah perwatakan (carakcter) itu sendiri merujuk pada dua konsep yang berbeda: (a) sebagai tokoh-tokoh yang ditampilkan, dan (b) sebagai sikap, ketertarikan, keinginan, emosi, dan prinsip moral yang dimiliki para tokohnya.

Tokoh-tokoh dalam cerita fiksi berfungsi untuk memainkan cerita, di samping juga berperan untuk menyampaikan ide, motif, plot, dan tema yang sedang diangkat oleh pengarangnya. Semakin berkembang aspek psikologisnya, maka semakin mengukuhkan pentingnya kajian menarik berkaitan dengan tokoh dan penokohan dalam cerita fiksi. Menjadi alasan penting akan peranan tokoh-tokoh cerita sebagai bagian yang ditonjolkan pengarang. Konflik-konflik yang terdapat dalam cerita fiksi mendasari terjalinnya plot (alur), yang pada prinsipnya, tidak dapat dilepaskan dari peran dan karakter para tokohnya.

Dalam menilai karakter dan perwatakan para tokoh dalam cerita fiksi dapat dilihat dari apa yang dikatakan dan apa yang dilakukannya. Identifikasi tersebut mendasarkan pada “konsistensi atau keajegan” yang mencakup konsistensi sikap, moralitas, perilaku, dan pemikiran dalam memecahkan, memandang, bersikap dalam menghadapi peristiwa dan problem yang ada di dalamnya. David Daiches, menyebut karakter (penokoh-an) sebagai pelaku cerita fiksi dapat muncul dari sejumlah peristiwa dan bagaimana reaksi tokoh tersebut terhadap peristiwa yang sedang dihadapinya. Padahal, rangkaian peristiwa dalam cerita hakikatnya, merupakan rangkaian plot. Sehingga, pembicaraan akan karakter karenanya, tidak mungkin dapat dilepaskan dari plot cerita. Yang utama dalam penghadiran karakter pelaku (tokoh cerita) merupakan fungsi-fungsi plot, begitulah Frye menegaskan.

Adapun klasifikasi para tokoh dalam cerita fiksi dapat dikategorikan ke dalam jenis-jenis sebagai berikut: (a) tokoh utama dan tokoh tambahan, (b) tokoh protagonis dan tokoh antagonis, (c) tokoh sederhana dan tokoh bulat, (d) tokoh statis dan tokoh berkembang, dan (e) tokoh tipikal dan tokoh netral.

Klasifikasi pertama (a) hakikatnya dilihat dari segi peranan, tingkat pentingnya, dan frekuensi kemunculannya dalam cerita fiksi. Hal ini menandai bahwa ada tokoh yang tergolong (dipandang) penting sehingga ditampilkan secara berkelanjutan, sebaliknya ada tokoh yang hanya “mampir” saja. Tokoh yang ditampilkan dengan frekuensi tinggi itulah yang sering disebut dengan tokoh utama (central character, main character) dan tokoh-tokoh yang hanya sepintas lalu (“mampir”) dalam cerita fiksi biasanya disebut dengan tokoh tambahan (peripheral character).

Klasifikasi kedua, tokoh protagonis dan tokoh antagonis, (b) hakikatnya mengedepankan pada fungsi penampilan tokoh-tokoh dalam cerita fiksi. Tokoh-tokoh yang mengemban amanat kebaikan, dan menyentuh perasaan, dan memiliki fungsionalisasi peran yang ideal biasanya banyak mendapat simpati pembaca. Tidak berlebihan jika Alternbernd dan Lewis, menyebutkan tokoh protagonis sebagai tokoh-tokoh dalam cerita fiksi yang secara emosional dan empatif sering mendapat “pelibatan” pembaca. Sehingga tokoh protagonis seringkali adalah tokoh-tokoh yang kita kagumi (hero, pahlawan; sebagai salah satu wujudnya) sehingga keberadaannya merupakan implementasi dari idealisme nilai, norma, dan aturan umum yang baik bagi kemanusiaan.

Sedangkan pelaku antagonis seringkali merupakan sumber konflik dalam cerita fiksi, seringkali pula didudukkan sebagai lawannya. Adapun penyebab konflik itu sendiri yang dilakukan oleh seorang tokoh dalam cerita fiksi disebut dengan kekuatan antagonis (antagonistis force).

Klasifikasi ketiga, tokoh sederhana dan tokoh bulat © hakikatnya mendasarkan pada perwatakan yang diperankannya. Tokoh sederhana (simple/flat character) dan tokoh kompleks atau bulat (complex atau round character). Tokoh sederhana ialah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu, satu sifat-watak yang tertentu juga. Sifat dan tingkah laku tokoh sederhana bersifat datar, monoton, dan hanya mencerminkan satu watak tertentu. Misalnya, tokoh yang dikenal jahat, kikir, atau yang terkesan lemah. Peran dan tindakan tokoh sederhana bisa beragam, namun tetap terbingkai oleh perwatakan yang diformulasikan. Tokoh yang familier, sudah biasa, stereotipe dapatlah digolongkan ke dalam tokoh yang sederhana. Sedangkan tokoh bulat, kompleks, merupakan kutub lain dari tokoh sederhana. Menurut Abrams, tokoh bulat ini menyerupai dengan kehidupan manusia itu sendiri, karena di samping mempunyai berbagai kemungkinan sikap dan tindakan, genre tokoh ini juga sering memberikan kejutan.

Klasifikasi keempat, tokoh statis dan tokoh berkembang (d), hakikatnya pengklasifikasiannya didasarkan pada brkembang tidaknya peran tokoh dalam cerita fiksi. Tokoh statis (static character), merupakan tokoh yang secara hakiki tidak megnalami perubahan dan perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi. Tokoh macam ini sering tampak kurang terlibat dan terpengaruh oleh adanya perubahan- perubahan lingkungan peristiwa dalam cerita fiksi. Sebaliknya, tokoh berkembang memiliki ciri dinamis mereka berkembang sesuai dengan lingkungan di mana ia berada. Akhirnya, sikap dan perwatakan dari tokoh berkembang demikian, akan mengalami perubahan secara dinamis sejal awal, tengah, dan akhir cerita.

Sedangkan yang terakhir, klasifikasi kelima: tokoh tipikal dan tokoh netral (e), hakikatnya mendasarkan pada kemungkinan pencerminan tokoh cerita terhadap kelompok manusia dari kehidupan nyata: tokoh tipikal (typical character) dan tokoh netral (neutral character). Yang dimaksud dengan tokoh tipikal ialah tokoh yang hanya sedikit ditampilkan keadaan individualitasnya, tetapi yang banyak ditonjolkan adalah kualitas pekerjaan atau kebangsaannya. Tokoh tipikal karena itu, merupakan penggambaran, cerminan, atau penunjukkan terhadap orang atau sekelompok orang yang terkait dengan profesi (lembaga) atau seorang individu sebagai bagian dari suatu lembaga, yang ada di dunia nyata. Sedangkan tokoh netral merupakan tokoh yang bereksistensi demi cerita itu sendiri. Tokoh netral merupakan tokoh-tokoh yang benar-benar imajiner yang hanya hidup dan ada dalam dunia fiksi.

Penokohan dalam tokoh tipikal hakikatnya merupakan pandangan, refleksi, tanggapan, penerimaan, maupun tafsiran pengarang terhadap tokoh dalam kehidupan manusia di dunia nyata: bisa jadi menyindir, satire, kritikal, karikatural, maupun mengecam. Penokohan demikian, baik tipikal maupun netral sama-sama memiliki fungsi sebagai pengintensitasan makna (intentional meanning).

Dalam melakukan kajian fiksi, penting disadari adanya teknik pelukisan tokoh sebagaimana lazimnya dipergunakan pengarang. Secara garis besar teknik pelukisan tokoh dalam cerita fiksi perwatakan tokoh dapat dikelompokkan sebagai berikut (a) teknik uraian (telling) dan teknik ragaan (showing); atau teknik penjelasan, ekspositori (expository) dan teknik dramatik (dramatic); atau teknik diskursif (discursive), dramatik dan kontekstual (contectual). Kedua pengelompokkan itu, hakikatnya merujuk pada pelukisan secara langsung dan pelukisan secara tidak langsung. (*)


To Top
close