Setting atau Pelataran dalam Karya Sastra Prosa Fiksi

Admin




Dalam karya sastra, setting merupakan satu elemen pembentuk cerita yang sangat penting. Elemen pelataran akan dapat menentukan situasi umum sebuah karya sastra. Setting merujuk pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa yang diciptakan.

Stanton kemudian mengelompokkan setting ini ke dalam tokoh dan plot, ke dalam fakta (cerita fiksi) sebab ketiganya yang akan diimajinasikan oleh pengarang. Dalam bahasa Burhan Nugiyantoro, ketiga hal inilah yang secara konkret dan langsung membentuk cerita: tokoh cerita adalah pelaku dan penderita kejadian-kejadian yang bersebab akibat, dan itu perlu pijakan, di mana dan kapan.Bawuk karya Umar Kayam yang dengan tokoh Bawuk, cerita itu terjadi di Karanggrandu (ditambah kota M, S, dan T), waktu sejak zaman penjajahan Belandan dan terutama sekitar masa pemberontakkan G 30/s/PKI, lingkungan sosial Jawa kelas menengah.

Unsur latar atau kategorisasi latar selanjutnya dapat dikelompokkan menjadi (a) setting tempat, (b) setting waktu, dan (c) setting peristiwa. Yang dimaksud dengan latar tempat, merujuk pada tempat-tempat –baik eksplisit maupun implisit—sebagai tempat terjadi peristiwa dalam cerita fiksi. Latar tempat karenanya, dapatlah dikatakan sebagai latar fisik (physical setting). Sedangkan, setting waktu merujuk pada saat (waktu) peristiwa-peristiwa dalam cerita fiksi terjadi. Secara tentatif latar waktu pun dapat dikategorikan sebagai latar fisik (physical setting). Dan, yang terakhir, setting peristiwa (sosial) yang melatari peristiwa- peristiwa lainnya. Sedangkan, latar peristiwa maupun sosial, tampaknya lebih merujuk apa yang oleh Kenny disebutnya sebagai latar spiritual (spiritual setting). Latar jenis ini, termasuk di dalamnya tata cara, adat-istiadat, kepercayaan dan agama, nilai-nilai luhur, pandangan dan ideologi, dan sebagainya yang dapat dikategorikan sebagai setting spiritual (spiritual setting). (*)


To Top
close