Efektifitas Penggunaan Metode Center and Circle untuk Meningkatkan Minat Belajar Sejak Dini Pada Anak

Admin
Efektifitas Penggunaan Metode Center and Circle untuk Meningkatkan Minat Belajar Sejak Dini Pada Anak



Pelayanan pada jenjang pendidikan anak usia dini merupakan pijakan dalam memaksimalkan perkembangan potensi anak agar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab, mandiri, dan kreatif yang mencakup seluruh aspek pertumbuhan dan perkembangan fisiologis, psikologis, spiritual, dan sosial anak. Pada tahap ini anak mengalami perkembangan yang meliputi seluruh aspek motorik dan psikomotorik diri anak. Semua aspek tersebut dapat diberikan stimulus dengan berbagai metode pembelajaran dengan harapan perkembangan anak dapat berjalan secara optimal. Kondisi ini diupayakan melalui pemberian stimulus atau rangsangan yang disesuaikan dengan tahap tumbuh kembang anak sebagai syarat untuk meningkatkan potensi individu agar kelak dapat mencapai perkembangan optimal. Disini karakteristik anak harus dijadikan pijakan dalam memberikan rangsangan belajar agar anak merasa senang dalam proses belajar (Tatik Ariyanti, 2012). Secara umum tujuan pendidikan anak usia dini adalah kesiapan untuk hidup dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui pengembangan berbagai potensi yang ada pada anak (Sadikin, 2019).

Pengamatan yang peneliti lakukan di lapangan dengan mewawancarai pendidik di KB TK Almutaqin Yogyakarta bahwa siswa terlihat memiliki minat belajar yang rendah. Rendahnya minat belajar siswa terlihat dari pengamatan siswa yang terlihat tidak senang saat memasuki ruangan sekolah, kurang memperhatikan penjelasan guru, tidak mengikuti aturan yang ada, dan tidak menjawab saat ditanya. Penerapan pembelajaran konvensional di Taman Kanak-Kanak Almutaqin membuat anak merasa bosan dan tidak termotivasi untuk menyimak setiap pelajaran yang berlangsung. Minat belajar siswa yang rendah tidak dapat diabaikan dan memerlukan penanganan segera. Selanjutnya (Mustajab et al., 2020) mengatakan bahwa model pendidikan konvensional pada anak usia dini hanya memberikan pengalaman traumatis bagi anak. Parahnya lagi, anak-anak sejak usia dini telah kehilangan kebebasan untuk bereksperimen, berekspresi, berkreasi, dan mengekspor, sehingga mereka akan kehilangan semangat untuk belajar. Minat belajar merupakan kecenderungan individu untuk merasa senang dalam melakukan sesuatu yang disukainya (Arisanti & Subhan, 2018). Lebih lanjut (Akmal, 2020) menjelaskan bahwa minat belajar dapat diukur melalui indikator antara lain kegembiraan, minat, keterlibatan, dan perhatian. Indikator tersebut dapat dimaknai sebagai berikut: (1) Indikator kegembiraan anak usia dini dalam belajar adalah dengan mengunjungi dan memasuki center sesuai dengan waktu yang ditentukan atau kemauan anak pindah atau berpindah ke center lain; (2) Indikator minat belajar anak usia dini adalah memperhatikan dan mendengarkan penjelasan guru; (3) Indikator keterlibatan anak usia dini dalam pembelajaran adalah mengikuti aturan di sentra; (4) Indikator perhatian anak usia dini dalam pembelajaran adalah menjawab pertanyaan saat mengingat (tahap akhir). Berbagai bentuk dan model pembelajaran selalu berangkat dari minat siswa agar kondisi yang tercipta dapat mengakomodir kebutuhan belajar anak (Putro, 2022).

Pembelajaran yang akan diberikan di kelas hendaknya disusun berdasarkan minat siswa dengan mempertimbangkan tahapan perkembangan anak. Menurut (Yanizon & Purba, 2017) semua kegiatan yang mendorong rasa ingin tahu dikapitalisasi dalam kegiatan belajar yang menyenangkan. Bagaimana seorang guru dapat mengkonseptualisasikan suatu kegiatan pembelajaran merupakan modal yang baik dalam menumbuhkan minat belajar siswa. Model pembelajaran sentral berasal dari Creative Center For Childhood Research And Training (CCCRT) di Florida, Amerika Serikat, penemu dan pengembangnya adalah Dr. Pamela Phelps. Model pembelajaran ini pertama kali diadopsi oleh drg. Wismiarti bercita cita untuk dapat mewujudkan anak yang cerdas secara spiritual tanpa mengabaikan kecerdasan lainnya (Ulya et al., 2019).

Pendekatan dengan model pembelajaran sentra dan lingkaran merupakan salah satu model pembelajaran yang sering digunakan dalam kegiatan pembelajaran di layanan pendidikan anak usia dini. Beyond Centers and Circle Time atau metode “Setra and circle” adalah kegiatan belajar mengajar dan bermain dengan guru dan siswa membentuk lingkaran, sehingga posisi guru setinggi mata anak. Sentra (centra), yaitu pusat kegiatan bermain anak dengan menitikberatkan pada kegiatan bermain yang disusun dan direncanakan dengan tujuan tertentu. Sedangkan Circle Time (ketika melingkar) adalah kegiatan guru dan anak yang dilakukan untuk memulai dan mengakhiri kegiatan (Lestari, 2015). Dalam metode ini, anak dirangsang untuk aktif melakukan kegiatan bermain sambil belajar di pusat belajar. Semua kegiatan pembelajaran menitikberatkan pada anak sebagai subjek “belajar”, sedangkan pendidik lebih berperan sebagai motivator dan fasilitator dengan memberikan pijakan. Langkah-langkah yang diberikan sebelum dan sesudah anak bermain dilakukan dengan pengaturan duduk melingkar, sehingga dikenal dengan istilah “circle time”. Pijakan lainnya adalah pijakan lingkungan (memberdayakan keberagaman lingkungan bermain) dan pijakan setiap anak (bahwa tidak ada anak yang sama) yang dilakukan saat anak bermain.

Dalam metode ini, anak dibiarkan bermain secara aktif dan kreatif di pusat-pusat belajar yang tersedia untuk mengembangkan dirinya seoptimal mungkin sesuai dengan potensi dan minatnya masing- masing. Dengan menggunakan metode sentra, anak akan lebih tertarik untuk mengikuti pembelajaran karena metode sentra dan lingkaran memiliki banyak kelebihan, salah satunya sebagai metode yang digunakan dalam pembelajaran. Dalam metode ini, anak dirangsang secara aktif untuk melakukan kegiatan bermain sambil belajar di pusat belajar. Pijakan merupakan dukungan variabel yang disesuaikan dengan perkembangan yang dicapai anak yang diberikan sebagai landasan untuk mencapai perkembangan yang lebih tinggi. Dalam strategi ini, semua kegiatan dibantu untuk mengembangkan diri sesuai dengan bakat dan potensinya.

Model BCCT merupakan pengembangan dari pendekatan Montessori, High Scope, dan Reggio Emilia. Pendekatan ini bertujuan untuk merangsang semua aspek kecerdasan anak. Agar kecerdasan dapat berkembang secara optimal, otak anak perlu dirangsang untuk terus berpikir secara aktif dengan menggali pengalamannya sendiri bukan hanya menyalin atau menghafal (Djuwita, 2018).

Dalam pembelajaran sentral, anak-anak mencoba untuk berbagi pendapat dan mengulangi peristiwa sesuai dengan tahap perkembangannya. Dalam lingkungan ini, anak mulai mampu membangun kepercayaan diri dan kemampuan belajarnya baik dalam sentra kelompok kecil maupun sentra kelompok besar. Anak dapat bekerja sama dengan temannya dengan cara berkomunikasi dan merespon dengan baik (Prabandari & Fidesrinur, 2021).

Metode Beyond Centers and Circle Time (BCCT) adalah kegiatan belajar mengajar dan bermain dengan guru dan siswa membentuk lingkaran sehingga posisi guru setinggi mata anak. Sentra (centra), yaitu pusat kegiatan bermain anak dengan menitikberatkan pada kegiatan bermain yang disusun dan direncanakan dengan tujuan tertentu. Sedangkan Circle Time (ketika melingkar) adalah kegiatan guru dan anak yang dilakukan untuk memulai dan mengakhiri kegiatan (Samad, 2016). Dalam metode ini, anak dirangsang untuk aktif melakukan kegiatan bermain sambil belajar di pusat belajar. Semua kegiatan pembelajaran menitikberatkan pada anak sebagai subjek “belajar”, sedangkan pendidik lebih berperan sebagai motivator dan fasilitator dengan memberikan pijakan. Langkah-langkah yang diberikan sebelum dan sesudah anak bermain dilakukan dengan pengaturan duduk melingkar, sehingga dikenal dengan istilah “circle time”. Pijakan lainnya adalah pijakan lingkungan (memberdayakan keberagaman lingkungan bermain) dan pijakan setiap anak (bahwa tidak ada anak yang sama) yang dilakukan saat anak bermain. Dalam metode ini, anak dibiarkan bermain secara aktif dan kreatif di pusat-pusat belajar yang tersedia untuk mengembangkan dirinya seoptimal mungkin sesuai dengan potensi dan minatnya masing-masing.

Dengan menggunakan metode sentra, anak akan lebih tertarik untuk mengikuti pembelajaran karena metode sentra dan lingkaran memiliki banyak kelebihan, salah satunya sebagai metode yang digunakan dalam pembelajaran. Dalam metode ini, anak dirangsang secara aktif untuk melakukan kegiatan bermain sambil belajar di pusat belajar. Pijakan merupakan dukungan variabel yang disesuaikan dengan perkembangan yang dicapai anak yang diberikan sebagai landasan untuk mencapai perkembangan yang lebih tinggi. Dalam strategi ini, semua kegiatan dibantu untuk mengembangkan diri sesuai dengan bakat dan potensinya. Proses belajar yang sentral meliputi penataan bermain lingkungan, penyambutan anak, pembukaan permainan, peralihan, dan kegiatan inti pada masing-masing kelompok yang meliputi langkah sebelum bermain, langkah saat bermain, langkah setelah bermain, makan siang bersama, dan kegiatan penutup (Depdiknas, 2006).

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan (Kirom, 2017) yaitu guru perlu membuat setiap siswa berpartisipasi aktif, minatnya perlu ditingkatkan, kemudian perlu dibimbing untuk mencapai tujuan tertentu. Oleh karena itu, keterampilan mengajar guru akan mempengaruhi apakah siswa dapat tertarik untuk belajar atau tidak. Siswa yang memiliki persepsi positif akan merasa bahwa guru telah membantu menumbuhkan minat belajarnya, namun jika siswa memiliki persepsi negatif akan menjadi alasan bagi mereka untuk tidak tertarik belajar. Metode Center and Circle nantinya akan menjadi kerangka intervensi PAUD terkait dengan minat belajar anak usia dini. (*)


To Top
close