Capaian Pembangunan Kabupaten Sumenep, antara Data dan Fiksi: Sebuah Kajian Kritis

Admin
Capaian Pembangunan Kabupaten Sumenep, antara Data dan Fiksi




News: linkkoe.my.idPada peringatan Hari Jadi Ke-754 Kabupaten Sumenep, Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo dengan bangga memaparkan sejumlah capaian pembangunan daerahnya ...



Pada peringatan Hari Jadi Ke-754 Kabupaten Sumenep, Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo dengan bangga memaparkan sejumlah capaian pembangunan di Sumenep. Namun, dalam merenungkan pernyataannya, perlu dicermati bahwa antara data yang disajikan dan realitas di lapangan, ada sejumlah pertanyaan yang patut diajukan.

Pemerintah Kabupaten Sumenep dideskripsikan sebagai pihak yang terus bergerak untuk memajukan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, pertanyaannya adalah seberapa besar dampak dari upaya ini pada kehidupan sehari-hari warga Sumenep? Apakah pembangunan yang dilakukan benar-benar mensejahterakan seluruh masyarakat, ataukah hanya sebagian kecil?

Dalam pernyataan Bupati, terdapat klaim bahwa angka kemiskinan di Kabupaten Sumenep turun dari 20,51 persen pada 2021 menjadi 18,76 persen pada 2022. Namun, data ini seharusnya diperbandingkan dengan standar nasional untuk menilai keberhasilannya. Apakah penurunan tersebut hanya sebatas pergeseran angka, ataukah ada perbaikan nyata dalam kualitas hidup masyarakat yang terkena dampak kemiskinan?

Selain itu, penurunan angka pengangguran juga diumumkan sebagai prestasi. Namun, angka-angka tersebut perlu diperlakukan dengan hati-hati, karena tidak semua bentuk pekerjaan memberikan kesejahteraan yang sama. Apakah warga Sumenep yang kini bekerja mendapatkan upah yang layak? Apakah pengangguran terbuka benar-benar mencerminkan pemulihan ekonomi yang berkelanjutan?

Tidak dapat diabaikan bahwa pertumbuhan ekonomi telah meningkat dari 3,1 persen pada tahun 2021 menjadi 5,02 persen pada 2022. Namun, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu berarti adanya distribusi yang merata. Pertanyaannya adalah, apakah seluruh lapisan masyarakat merasakan dampak positif dari pertumbuhan ekonomi ini?

Kemudian, ada juga klaim bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) telah meningkat. Namun, IPM seharusnya lebih dari sekadar angka statistik. Penting untuk mengevaluasi apakah peningkatan IPM ini sejalan dengan peningkatan akses pendidikan, kesehatan, dan standar hidup masyarakat secara keseluruhan.

Bupati mengatakan bahwa meskipun ada penurunan angka kemiskinan dan pengangguran, pemerintahannya tidak berpuas diri. Namun, perlu dicatat bahwa pengukuran keberhasilan pembangunan tidak hanya dapat berdasarkan pada angka-angka statistik semata. Harus ada upaya nyata untuk memastikan bahwa setiap warga Kabupaten Sumenep merasakan perubahan yang positif dalam hidup mereka.

Bupati juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bekerja sama dalam membangun daerah. Ini adalah panggilan yang tepat, namun, penting untuk memastikan bahwa partisipasi masyarakat bukan hanya sekadar seremoni. Masyarakat harus diberikan peran yang nyata dalam perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan.

Selain itu, perlu juga dipertanyakan apakah peringatan Hari Jadi Kabupaten Sumenep yang bertajuk "Masa Kejayaan" ini lebih dari sekadar retorika. Apakah potensi kesenian, kebudayaan, sumber daya alam, dan lainnya benar-benar dimanfaatkan secara maksimal untuk kesejahteraan masyarakat, ataukah hanya sebatas acara perayaan semata?

Dalam akhir pernyataannya, Bupati menyebut konsep "Pentahelix" atau multipihak untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan Kabupaten Sumenep. Namun, konsep ini harus dijalankan dengan integritas dan transparansi, serta mengedepankan kepentingan rakyat, bukan sekelompok elit.

Pada akhirnya, capaian pembangunan suatu daerah harus dievaluasi secara kritis dan objektif, dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat, dan berfokus pada perbaikan kualitas hidup seluruh warga, bukan hanya sekadar pencapaian angka-angka statistik. (lk)
To Top
close