Penghormatan Musim Pancaroba: Ritual Cahe yang Mendalam di Langsar Sumenep

Admin

 


Penghormatan Musim Pancaroba: Ritual Cahe yang Mendalam di Langsar Sumenep



Newslinkkoe.my.id - Warga Desa Langsar, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Madura, masih terus menjaga dan merayakan tradisi luhur yang telah diwariskan secara turun temurun. Terutama ketika musim pancaroba tiba, warga Langsar Sumenep menggelar sebuah ritual yang sarat makna spiritual, dikenal dengan sebutan "Cahe," sebuah upacara doa bersama yang berlangsung di Gua Mandalia, dusun Karoko, Desa Langsar.

Ritual yang disebut 'Cahe' atau 'barlobaran' ini dipraktikkan khususnya ketika peralihan musim dari kemarau ke musim hujan, yang menandakan awal dari masa penanaman jagung. Sebagian besar penduduk Desa Langsar merupakan petani jagung yang menggantungkan harapan mereka pada hasil panen jagung.

Ritual Cahe bukan sekadar acara yang melibatkan warga Desa Langsar saja, melainkan juga melibatkan penduduk desa-desa terdekat, seperti Desa 'Dhedhe' dan Tanjung.

Fadel Abu Aufa, seorang peneliti budaya Sumenep, menjelaskan, "Ritual Cahe sejatinya adalah upacara doa bersama yang bertujuan memohon keselamatan dan keberhasilan dalam panen jagung yang akan datang."

Upacara kuno ini dipimpin oleh sesepuh dan tokoh masyarakat setempat. Dalam suasana penuh kekhidmatan, diiringi oleh musik tradisional khas Sumenep, para sesepuh mengelilingi gua sambil melantunkan kidung, atau dalam Bahasa Madura dikenal sebagai 'ngejhung'. Kidung ini berbahasa Madura kuno yang hanya dimengerti oleh segelintir orang.

Fadel menjelaskan, "Kidung tersebut berisikan doa dan harapan kepada Yang Kuasa, untuk menjauhkan segala bencana yang mungkin datang."

Ritual ini ditutup dengan sebuah jamuan makan bersama para warga setempat. Ketika ritual dimulai, masyarakat sekitar datang ke gua membawa nasi beserta hidangan lainnya. Selama berlangsungnya upacara, hidangan yang dibawa oleh warga ditempatkan di dalam gua.

Fadel menambahkan, "Pada akhir upacara, setelah doa penutup dibacakan, makanan yang diletakkan di dalam gua akan dimakan bersama dalam apa yang disebut 'topak lobar.'"

Ritual Cahe ini diselenggarakan dua kali setiap tahun, yakni saat musim pancaroba tiba, menandai awal musim tanam, dan saat panen jagung tiba, sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.

Fadel juga mengungkapkan, "Biasanya, setelah panen jagung, dilakukan sebuah upacara sesajen yang melibatkan pelemparan persembahan ke laut dengan menggunakan perahu sebagai tanda terima kasih kepada alam." (lk)
To Top
close