Teori Sastra: Kedudukan dan Jenis Kritik Sastra

Admin
Teori Sastra: Kedudukan dan Jenis Kritik Sastra




linkkoe.my.id - Dalam perjalanan kesusastraan Indonesia, munculnya istilah kritik sastra turut membawa kontribusi signifikan terhadap tiga ilmu pokok dalam studi sastra, yaitu sejarah sastra, teori sastra, dan kritik sastra. Sejarah sastra berfokus pada periodesasi dan pengelompokan sastra berdasarkan substansi sejarahnya, sementara teori sastra menjadi pisau bedah dalam menganalisis karya sastra dari berbagai aspek, seperti definisi, hakikat, dan jenis sastra. Kritik sastra, sebagai cabang studi yang paling tinggi dan penting, mengaitkan kedua ilmu sebelumnya untuk menilai nilai sebuah karya sastra.

Dalam menjalankan kritik terhadap karya sastra, pemahaman mendalam terhadap sejarah sastra dan teori sastra menjadi prasyarat utama. Aktivitas kritik sastra tidak dapat dilepaskan dari apresiasi terhadap karya itu sendiri, di mana apresiasi sastra menjadi landasan untuk menganalisis unsur-unsur sastra, menginterpretasikan dengan logis, serta menilai nilai suatu karya. Namun, dalam melakukan kritik yang menggabungkan sejarah sastra dan teori sastra, muncul dilema terkait pengembangan teori yang sesuai.

Kritik sastra yang berlandaskan prinsip, kategori, dan kriteria normatif dapat mengalami kendala ketika berhadapan dengan karya sastra yang mengusung pembaharuan dan bersifat berbeda sesuai dengan zamannya. Novel Pramoedya Ananta Toer, puisi Chairil Anwar, atau karya-karya Budi Darma, Iwan Simatupang, Djenar Maesa Ayu, dan lainnya, mewakili bentuk-bentuk sastra yang menantang konvensi dan masyarakat pada masanya. Oleh karena itu, kritik sastra memiliki peran krusial dalam menjembatani kesenjangan antara konvensi dan pembaharuan dalam sastra.

PERAN KRITIK SASTRA DALAM MEMAHAMI DAN MERUMUSKAN PEMBAHARUAN SASTRA

Kritik sastra hadir sebagai penjelas terhadap karya-karya sastra yang memberikan inovasi atau pembaharuan kepada masyarakat. Peran kritikus sastra menjadi sangat penting dalam memberikan pemahaman kepada pembaca, penikmat sastra, atau masyarakat umum. Kepekaan kritikus sastra dalam menjelaskan nilai-nilai tersembunyi dalam sebuah karya menjadi kunci untuk memahami makna yang lebih dalam di balik kata-kata dan struktur sastra. Di samping itu, peran pihak lain, seperti pembaca dan penikmat sastra, juga diperlukan untuk merumuskan konvensi sastra baru yang dapat menangkap esensi zaman.

Dalam proses pembaharuan, karya sastra yang mengusung gagasan dan gaya baru seringkali dihadapkan pada resistensi dan ketidakpahaman dari konvensi sastra yang ada. Contoh nyata dapat dilihat pada karya Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, Pramoedya Ananta Toer, Budi Darma, dan sejumlah penyair pembaharu lainnya. Dalam konteks ini, kritik sastra bukan hanya menjadi penilai karya sastra, tetapi juga menjadi mediator antara karya sastra dan masyarakat pembaca.

JENIS-JENIS KRITIK SASTRA: PERSPEKTIF DAN METODE PENGKAJIAN

Kritik sastra dapat dikategorikan berdasarkan beberapa aspek, antara lain bentuk, pendekatan, dan pelaksanaan kritik. Dalam pengkajian metode atau pendekatan, terdapat dua jenis kritik sastra, yaitu kritik sastra yang memberikan evaluasi sesuai kriteria atau ukuran yang telah ditetapkan (judicial criticism) dan kritik sastra yang menelaah karya tanpa adanya aturan atau ukuran yang ditentukan (inductive criticism).

1. Kritik Sastra Berdasarkan Pendekatan atau Metode

- Judicial Criticism:
  • Kritik Sastra Ilmiah: Menekankan aspek-aspek ilmiah dalam suatu karya.
  • Kritik Sastra Estetis: Menganalisis nilai-nilai estetika dalam karya sastra.
  • Kritik Sastra Sosial: Menelaah dimensi sosial dalam karya sastra.

- Inductive Criticism:
  • Kritik Sastra Impressionistik: Menyoroti pengaruh proses kreatif terhadap kritikus.
  • Kritik Sastra Kesejarahan: Menggali fakta sejarah dan kehidupan pengarang.
  • Kritik Sastra Tekstual: Menuliskan kembali naskah asli.
  • Kritik Sastra Formal: Menganalisis karakteristik karya sastra.
  • Kritik Sastra Yudisial: Mendasarkan diri pada aturan yang sudah disepakati.
  • Kritik Sastra Analitik: Menggali esensi karya dengan mendalam.
  • Kritik Sastra Moral: Menyoroti nilai kemanusiaan dalam karya sastra.
  • Kritik Sastra Mistik: Mengkaji hubungan makna karya sastra dengan keperjayaan.

2. Kritik Sastra Berdasarkan Bentuk

  • Kritik Sastra Relatif: Menekankan pada aturan dan pedoman untuk menguraikan hakekat karya sastra.
  • Kritik Sastra Absolut: Menekankan pada ketidakpercayaan terhadap aturan dan pedoman dalam melakukan kritik.

MENUJU PEMAHAMAN YANG LEBIH CERDAS TERHADAP KARYA SASTRA

Setiap jenis kritik sastra memiliki nilai dan kegunaannya masing-masing dalam pengembangan kesusastraan. Namun, penting untuk membangun masyarakat yang cermat dalam memandang karya sastra dengan memilih prinsip dan jenis kritik sastra yang relevan dengan kebutuhan perkembangan sastra dan kehidupan masyarakat. Melalui kritik sastra yang bijak dan inklusif, kita dapat memahami, menghargai, dan merespons dinamika sastra yang senantiasa mengalami perubahan dan pembaharuan. (lk)
To Top
close